Brother? Sister?

274 39 3
                                        


Author POV

Flashback mode on

"Gini Vi, gw tau sih ini terlalu cepet. Bahkan gw sama lu baru sekarang ngobrol langsung" kata David. Sambil mengaduk juice strawberry nya.

"Gini gimana ka?" Tanya Vina, bingung.

"Gw kayaknya udah baper deh sama lu, dari awal lu teriakin gw waktu itu. Jamannya lu ilfeel sama gw. Eh tapi lu udah ga ilfeel kan sama gw?" Tanya David lagi. Memastikan.

"Ngga lah. Ye kali gw ilfeel tapi mau jalan sama lu hari ini" Vina menahan tawa.

"Gw suka sama lu Vi, lu mau kan jadi cewek gw"

DEG

BOOM

PRANG

Bagai hantaman dahsyat. Vina langsung membeku seketika.

"Lu baik-baik aja kan Vi?" David melambaikan tangannya didepan wajah Vina.

"Eh gw ke toilet bentar ya kak" tanpa ba bi bu Vina langsung kearah toilet. Untuk menelfon ayahnya.

//

Malam semakin larut. David mengantar Vina sampai kedepan apartemennya.

"Jadi apa jawaban kamu Vi?"

"Kak ada yang mau aku jelasin, tapi ga bisa disini. Kakak ikut aku aja," tanpa penolakan. David mengikuti langkah Vina, menaiki lift. Hingga sampai di depan apartemen Vina. Apartemen dengan nomor 4041.

"Ayo masuk ka" ajak Vina. Tampak santai.

Meski masih bingung harus memulai dari mana nantinya. Lain halnya dengan David. David merasa ada yang janggal, mana mungkin ia masuk ke apartemen perempuan. Tanpa ada orang lain didalamnya.

"Lu ga apa-apa bawa cowok ke dalem apart?" Tanya nya. Mengerjitkan kening.

"Nanti juga kakak tau ko," Vina menuntun David masuk.

David masih duduk di living room, sementara Vina masuk ke kamar nya.
Mengambil sesuatu.

"Eh kakak mau minum apa?" Tawar Vina sebelum memasuki kamarnya.

"Soda juga boleh" jawab David.

Vina kembali ke living room, membawa dua kaleng soda untuk David dan dirinya. Lalu meletakan sebuah kotak besar dimeja.

"Ini apaan?" David makin bingung.

"Gw mohon ka, kakak jangan dulu komentar apa-apa ya" pinta Vina. Dengan agak ragu David mengangguk setuju.

Vina mulai membuka kotak besarnya. Kotak besar berwarna hitam.

Ada sebuah album besar didalamnya.

"Lah ko? Lu koleksi foto kecil gw? Dapet dari mana?" Wajah David berseri-seri. Menganggap apa yang Vina tunjukan sebagai surprise untuknya.

Ya. Ini memang surprise. Big surprise.

"Jangan dulu dibuka halaman selanjutnya ka. Kakak harus dengerin gw dulu." David mengangguk kembali. Lalu menyeruput soda dari kalengnya.

"Aku juga ga tau harus mulai dari mana kak" Vina menarik nafasnya dalam-dalam.

Sementara David tersenyum mendengar kata aku.

"Kamu ga usah ragu-ragu gitu kalo ngomong, santei aja lagi" kata David. Mengelus puncak kepala Vina.

Vina jadi semakin ragu untuk mengatakannya. Dia hanya seorang gadis yang usianya belum genap lima belas tahun. Dan apa dia yang harus mengatakan semuanya?

Sorry.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang