Emily POV.
Aku membalik-balikkan lembaran jadwal kegiatanku hari ini di mobil yang dikemudikan supirku ini. Aku masih punya 4 jam kosong sebelum makan malam dengan client. Menatap jalanan Jakarta yang ramai berpikir harus kemanakah aku?
Jakarta punya banyak cerita bagi setiap orang yang menempatinya. Punya cerita bagi seorang wanita muda yang tidak sengaja menabrak seorang laki-laki di halte busway, punya cerita bagi seorang laki-laki yang ingin membagi payungnya dengan wanita yang tengah mengeluh menatap hujan di pinggir halte, punya cerita bagi kakek tua yang menjemput sang nenek di sebuah toko kue, punya cerita bagiku juga, tentang gerimis yang berulang kali jatuh di kepala, bukan rintik hujan, namun kenangan.
Atau cerita tentang sebuah café.
Aku memberhentikan mobilku di depan sebuah café yang terletak di Selatan Jakarta ini. Sepertinya aku akan menghabiskan 4 jamku disini. Aku ingin mengenang.
Café itu tampak lebih ramai dari terakhir kali aku kesini, 6 tahun lalu. 6 tahun bukan waktu yang cukup untuk menetralisir rasa sakit karena kenangan yang dibuat di café ini. Namun tidak bisakah sekarang aku duduk disana tanpa berusaha untuk lari dari masa lalu?
Aku membuka pintu café ini dan bunyi denting bel menarik pendengaranku, masih bel yang sama, aroma yang sama. Aku duduk di kursi terdekat yang bisa kutemukan. Suasana Marilyn's Café sedikit berbeda, ada banyak bunga matahari disini, dan oh! Ada sebuah note juga, lihat aku dapat apa!
Cerita kita pernah kau jatuhkan di tanah kosong itu, apa harus kusiram agar dia tumbuh kembali?
Aku termenung setelah membaca note ini, seperti mengingatkanku akan suatu hal yang juga pernah jatuh dan tidak pernah tumbuh lagi, harapanku.
Tak lama seorang pelayan menaruh buku menu di hadapanku, "Caramel Frappuchino-nya 1 ya." Kataku.
Setelah pelayan itu pergi, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling café ini. Kalau dilihat-lihat café ini sebenarnya tidak banyak berubah, bel di atas pintu itu masih ada, aku bahkan masih ingat kapan terakhir kali mendengar suara bel itu, 6 tahun lalu ketika Gevin datang bersama Kinara, bahkan aku menduduki sofa yang sama. Namun ornament café ini berbeda, bunga matahari mengelilingi café ini seperti memberikan kesan tenang dan kamu bisa sedikit mengistirahatkan masalahmu, di sisi kiri café terdapat sebuah panggung kecil, wah sepertinya ada live musicnya dan di langit-langit café terdapat sebuah lampion dengan beragam warna, mungkin café ini akan tampak lebih hidup pada malam hari karena lampion-lampion itu, ah aku jadi ingin punya satu.
Lamunan impian tentang keinginanku untuk memiliki salah satu dari lampion di café ini seketika buyar dikarenakan suara pelayan yang sudah berdiri di samping mejaku, pesananku sudah datang. Aku menatapnya sebentar sampai kemudian pandanganku teralihkan pada pintu café yang barusan belnya berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk.
Bahkan setelah 6 tahun berlalu aku masih berharap dia yang membunyikan bel itu.
Seorang perempuan berseragam abu-abu memasuki café, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling café dengan kening berkerut, namun beberapa detik kemudian air mukanya berubah, sepertinya dia sudah menemukan orang yang dicarinya. Dan benar, perempuan itu sudah menemukan pacarnya yang duduk tidak jauh dari tempatku duduk.
Kejadian tersebut seketika membuatku seperti terlempar ke kenangan beberapa tahun lalu, saat pertama bertemu dia di café ini. Kita bertemu disini pada saat itu karena dia ingin mengembalikan kunci lokerku yang tidak sengaja terbawa olehnya, namun ternyata pertemuan kita lebih dari sekedar itu, dia tidak hanya mengembalikan kunci lokerku namun juga mengembalikan senyumku yang dulu pernah hilang.
Lo keliatan lebih manis dengan ketawa lo.
Aku tertawa kecil mengingatnya.
Gevin.. apa kabar ya? Bahkan setelah 6 tahun, melihat setiap hal tanpa menyangkut-pautkannya dengan Gevin masih terasa sulit untukku, melafalkan namanya saja masih membuat jantungnya seperti dihantam sebuah benda secara tiba-tiba, menyesakkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Till We Meet Again
Teen FictionBaginya, Emily bukan hanya sekedar perempuan yang hadir di hidupnya dan lewat begitu saja. Emily mengajarinya bahwa menginginkan sesuatu berarti perjuangan. Namun ia juga tau menatap perempuan itu sama saja seperti mengingatkannya akan banyak hal di...
