Author Pov.
Mungkin lo semua pernah punya seseorang yang selalu lo pikirin setiap saat tanpa lo sadarin, walaupun bisa aja sekarang status lo udah sama siapa tapi orang itu bakalan tetep selalu ada di sisi yang sebenernya ga pingin lo gali lagi, seseorang yang gapernah tergapai. Perasaan yang tidak pernah sampai.
Gue punya orang itu.
Orang yang selalu gue pingin jagain walaupun dia udah ada yang jagain, orang yang pingin gue bikin seneng walaupun ada orang lain yang bisa bikin dia seneng lebih dari apapun, orang yang gue rela minjemin pundak bahkan kalau mau pelukan setiap dia butuh walaupun gue tau dia berharap bisa meluk orang lain, orang yang cuma bisa gue liat dari belakang.
Gue dulu ada di depan, bisa ngeliat setiap hal yang dia lakuin, bisa tau perasaan dia walau bukan tertuju ke gue, bisa liat senyum dia yang (kali itu) ditujuin ke gue, tapi hal berubah seiring waktu berjalan. Gue emang ada di depan dia, tapi dia ga pernah bener-bener ngeliat gue lagi kaya dulu, dan gue memutuskan mungkin gue akan lebih betah ngeliat dia dari belakang.
Berbulan-bulan gue masih ada di posisi itu, seakan-akan berkata kepada dia 'kalo lo cape ngejar yang di depan masih ada gue di belakang lo'. Gue tau dia ngga pernah sadar gue ada disitu, karena dia terlalu enggan menengok ke belakang sadar akan hal di depannya terlalu menarik untuk diabaikan.
Sampai kemudian 7 bulan berlalu, gue mulai ngikutin kata temen-temen gue, mungkin gue udah cape ada di belakang. Mungkin kali ini gue harus nyari orang lain yang bisa ngeliat gue, ngga seperti dia. Tapi 3 hari kemudian gue dan dia ngga sengaja bertemu di suatu tempat walau dia menghadap ke arah lain dan gue menghadap ke punggung dia, lagi-lagi di belakang dia. Gue berhenti sejenak menunggu dia berjalan agak jauh sampai kemudian gue berjalan lagi tanpa berniat menyusul langkahnya. Namun gue kemudian tersadar kalau sedari tadi gue mempercepat ritme langkah gue seperti berusaha menyusul dia, dan disitu gue sadar, gue masih nyaman berada di posisi gue dulu, walau cuma bisa ngeliat dia dari belakang.
Emily tertegun membaca semua kata di file itu yang beberapa hari lalu ia copy dari laptop Gevin karena judulnya yang menarik perhatiannya, satu pertanyaan yang terlintas di kepalanya, buat siapa?
--
Emily terbangun di siang hari masih dengan pikiran yang sama seperti semalam sebelum dia tertidur, yang Gevin tulis itu buat siapa? ia berusaha mengalihakn pertanyaan-pertanyaan di otaknya sambil memainkan handphone yang berada di tangan kanannya.
Wtf Gevin?!
Emily Elisha: kok lo ga bilang sih udah berangkat ke Jogja?
Membutuhkan waktu 20 menit sampai Gevin memutuskan untuk membalas pesan Emily.
Gevin S: kan udah bilang abis wedding partynya sepupu gue.
Emily Elisha: jir gue gamikir bener-bener abis wedding partynya. Berangkat jam berapa?
Tadinya juga gua ga mikir gitu, gumam Gevin. Gevin mempercepat penerbangan yang harusnya 3 hari lagi, selama 1 jam ia berusaha mendapatkan penerbangan tercepat yang bisa ia dapatkan.
Gevin S: jam 5.
Emily Elisha: ish najis banget ga bilang-bilang.
Gevin S: ya yaudahlah udah sampe juga gua.
Ini pertama kali, ini pertama kalinya Gevin bersikap seakan dia tidak ingin mengobrol dengan Emily. Mungkin Gevin masih cape baru nyampe, pikir Emily. Jadi Emily membiarkannya.
Namun tidak, berhari-hari, berminggu-minggu, sampai 3 bulan Gevin masih seperti itu. Emily tidak mau bertanya apa yang salah dengan mereka, ia takut hal tersebut hanya akan memicu pertengkaran atau hal buruk lainnya karena sekarang jika mereka bertengkar Emily tidak bisa langsung ke rumah Gevin, karena Gevin sekarang jauh.
--
3 bulan lalu, Abyan datang ke rumah Emily. Emily tidak habis pikir Abyan akan pulang hanya untuk menghadiri acara wedding party sepupunya.
"Gapapa, sekalian ngelurusin beberapa hal yang belum jelas. Aku juga kangen sama kamu." Kata Abyan malam itu.
Emily mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan menatap datar Abyan. Abyan kangen dirinya, bukannya kabar bagus? Tapi kenapa rasanya kosong?
"Hal apa?" tanya Emily tanpa minat.
"Kita." Jawab Abyan.
"Emang kita belum jelas ya? Kan waktu itu kamu yang mutusin aku." Kata Emily pelan.
Abyan terdiam beberapa saat sampai kemudian ia mendapati suaranya kembali, "Kamu masih inget tempat ini ngga?"
Emily menghirup dalam-dalam aroma restoran yang sudah terlalu cukup familiar di hidungnya ini karena saking seringnya dia kesini. "Iya, inget. Aku juga masih sering kesini sama Gevin." Jawabnya.
"Oh gitu ya?" nada suara Abyan agak kaget membuat Emily reflek mengerutkan keningnya, emangnya kenapa?
"Katanya Gevin dapet Univ. di Jogja ya?" tanya Abyan.
Seketika muka Emily berseri-seri tidak seperti beberapa detik lalu, "Eh iya, pinter ya dia. Aku kira tadinya dia ngga mau kuliah abisnya dia kayanya selama ini cuma main-main terus, aku aja agak speechless waktu tau dia dapet univ."
Abyan mengerutkan keningnya mendapati ada yang berubah dari Emily. Emily terlalu bersemangat saat membicarakan tentang Gevin, apakah dia—
2 tahun lalu Abyan ingat saat awal-awal dia menjalin hubungan dengan Emily, Abyan merasakan perubahan drastis pada Gevin. Gevin bukan orang yang suka menunjukan perasaan secara terang-terangan bahkan Abyan yang dekat dengan Gevin dari kecil ga pernah bisa menduga apa yang sebenernya Gevin pikirin, Gevin selalu menyimpannya dalam-dalam. Dan saat itu, Abyan berani bersumpah Gevin mulai sering menatapnya seperti dia bisa menghabisi Abyan saat itu kalau dia mau. Dan akhirnya Abyan baru tau dari mulut Marvel bahwa Gevin punya rasa kepada Emily.
Abyan tau dia salah merebut Emily walau secara tidak langsung dari Gevin, tapi dia merasa itu bukan salah dia sepenuhnya karena Abyan tidak tau. Dan oh jika dengan melepaskan Emily berarti seperti meminta maaf kepada Gevin, Abyan tidak mau. Dia sayang Emily.
Bahkan masih sampai saat ini.
"Bi, aku pengen pulang." Suara Emily menyadarkan Abyan dari pikiran panjangnya tadi.
"Oh iya sebentar aku bayar dulu ya, kamu pulangnya sama aku." Kata Abyan sambil beranjak bangun dari kursinya setelah melihat Emily mengangguk kecil.
Setelah mengantarkan Emily pulang, Abyan melepas kancing teratas kemejanya. Dia memesan tuxedo ini berniat untuk membuat Emily terkesan, namun sepertinya tidak. Bahkan ketika Abyan melontarkan permintaan maafnya tadi Emily hanya tersenyum simpul tanpa menjawab permintaan maaf Abyan.
Rasanya sia-sia kembali ke Jakarta hanya untuk mendapati satu-satunya orang yang pengen gue temuin malah pengennya ada di samping orang lain, Gumam Abyan sambil menghisap rokoknya untuk kesekian kalinya di tengah ramainya Jakarta yang belum terlelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Till We Meet Again
Novela JuvenilBaginya, Emily bukan hanya sekedar perempuan yang hadir di hidupnya dan lewat begitu saja. Emily mengajarinya bahwa menginginkan sesuatu berarti perjuangan. Namun ia juga tau menatap perempuan itu sama saja seperti mengingatkannya akan banyak hal di...
