8.

7.5K 280 4
                                    

    "Siapa bang?" tanya Lira, dia memang sempat melihat Arfa berbicara pada seorang cowok tapi tak begitu jrlas melihat wajahnya.

"Dafa, abang harap kamu gak terlalu dekat sama dia"

"Kenapa?" tanya Lira tercekat ketika mobil yang mereka tumpangi mulai melaju, membelah keramaian kota jakarta.

Arfa menghembuskan napas keras ketika mendengar pertanyaan adiknya itu.

"Gak papa, tapi abang cuma merasa dia gak baik aja"

"Karena penampilannya nakal?" Tanya Lira, Arfa hanya diam membuat gadis itu menatap Arfa sambil menghela napas.

"Bang, don't judge a book by its cover, right?"

"Abang cuma gak mau kamu kenapa-napa, ra"
Arfa menatap Lira dengan tajam.

Dan Lira hanya bisa terdiam dengan hati yang menolak keras.

                           ***

       Jam mungil yang melingkar di pergelangan tangannya masih menunjukan pukul 4 sore, Lira mengayuh sepedanya kearah taman yang tak jauh dari rumahnya.

Gadis itu memarkirkan sepedanya di bawah pohon sebelum akhirnya menaiki ayunan dan mulai bersenandung kecil disana.

"Kita adalah sepasang sepatu selalu bersama tak bisa bersatu.

Kita mati bagai tak berjiwa bergerak karena kaki manusia" gumam nya kecil lalu merogoh ponsel dari saku celana jeans yang ia kenakan sebelum suara seorang cowok mengintrupsi dengan memanggil namanya.

"Lira?!!!"

Lira mendongak, menatap cowok didepannya dengan kedua alis bertaut sebelum tersenyum dengan kaku setelah sadar siapa cowok didepannya.

"Kak Ad--lan?" ucap Lira terbata membuat Adlan terkekeh pelan lalu duduk di ayunan sebelah Lira.

Adlan Stevanus, ketua osis sekaligus tetangga Lira.
Rumahnya terletak persis di sebelah rumah Lira, bahkan balkon kamar mereka nyaris bersentuhan.

"Yeah, ngapain kamu disini?" tanya Adlan.

"Main aja kak, kak Adlan sendiri?"

"Abis dari minimarket, tapi liat kamu kak adlan kesini deh" Lira hanya menganguk setelah sebelumnya mengerutkan alis.

Adlan tidak pernah seperti ini sebelumnya, walaupun rumah mereka sebelahan tapi mereka tidak terlalu akrab bahkan saling menyapa saja jarang apalagi ini Adlan sampai-sampai sengaja menghampiri Lira.

"Oh" Lira bergumam.

Adlan menyeringai kecil "sendirian aja?" tanyanya sambil menatap Lira yang sekarang tengaj menatap ponselnya tanpa berkedip.

"Y--ya kak Adlan juga sendir?"

"Hhmm, emang sama siapa lagi? Pacar?"

"Bisa jadi"

"Gak kok, kakak masih jomlo. Gimana, mau daftar gak?" canda Adlan membuat Lira tertawa.

"Emang kak Adlan mau nerima Lira?" canda Lira balik membuat Adlan tersenyum misterius.

"Siapa sih yang gak bisa nerima cewek secantik kamu"

Lira tersenyum gugup, dan Adlan menyeringai kecil.

                            ***

      "Abang, masa tadi kak Adlan nyamperin Lira"

Arfa yang saat ini tengah menonton tv mengalihkan perhatian nya pada Lira.

"Adlan yang mana?" tanya cowok itu mengerutkan alis membuat Lira menghela napas dengan kasar.

"Itu loh bang. Kak Adlan tetangga kita" ucap Lira.

"Oh, yang ketua osis di sekolah kamu?"

"Hhmmm"

"Ya gak papa lah" kata Arfa membuat Lira menaikan alis.

"Gak papa, maksudnya apa coba?"

"Iya, maksud abang tuh gak papa  kalau Adlan yang ngedeketin kamu"

"Kenapa? Bukannya Ara gak boleh deket sama cowok?" tanya Lira yang masih ingat dengan perkataan Arfa tadi pagi kalau Lira tidak boleh terlalu dekat dengan cowok atau Lira benar-benar akan di homeschooling.

"Adlan pengecualian" jawab Arfa dengan senyum mengembang, entah dalam artian apa.

"Kok gitu sih?" Lira protes.
Kenapa Adlan jadi pengecualian?
Kenapa gak Dafa?

Ups...

Entahlah, karena yang pasti pemikiran itu langsung melintas begitu saja di otak Lira.

"Adlan kan baik jadi gak papa kalau dia mau deketin kamu"
Kata Arfa membuat Lira tercenung beberapa saat.

"Bang, belum tentu orang yang diluar kelihatan baik didalamnya juga baik. Karena pada intinya kita gak boleh nilai orang cuma dari penampilannya doang" ucap Lira yang entah kenapa membuat Arfa tertawa.

"Astaga, adik kecil abang bijak banget" Arfa mendekap Lira, memencet hidung gadis itu gemas membuat Lira terpekik.

"Abang, sakit tahu. Lira bukan anak kecil lagi"

"Tapi buat abang, kamu masih jadi adik kecil abang yang manja" ucap Arfa sambil tersenyum tulus.

"Kemana bang?" tanya Lira saat melihat Arfa yang beranjak dari sofa.

"Kekamar, ada tugas kuliah buat besok" sahut Arfa sambil berjalan kearah kamarnya yang berada di lantai atas, tepat sebelah kamar Lira.

Lira memerhatikan langkah cowok itu yang semakin keatas menaiki anak tangga, tepat pada anak tangga terakhir sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Lira membuat Lira sempat mengerutkan alis.

From: 085×××××××

Tidur, Ra. Udah malem.
                             ***

don't forget vote and comment guys.

Makasih udah mau baca cerita gaje saya.

My Baby GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang