12.

5K 186 0
                                    

   Dafa dari tadi hanya diam, bahkan sampai mereka kembali ke sekolah untuk mengambil motor pun Dafa belum juga bicara.

Ya, tadi mereka memang berjalan kaki untuk sampai ke cafe karena kebetulan jarak sekolah dan cafe juga tidak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa meter.

Dan itu sedikit membuat Lira kehilangan dan sedih sekaligus.

Apalagi mengingat perkataan cowok itu tadi yang terdengar putus asa saat mengatakan pria paruh baya dan wanita berpakaian ketat itu adalah ayah dan ibu tirinya.

Oh Dafa yang malang.

"Dafa, jangan sedih" kata Lira serak sambil menatap Dafa.

Cowok itu menghela napas sebelum menatap Lira dengan senyuman tipis, "gue gak papa kok Ra, udah biasa" kata cowok itu dengan nada yang dibuat setegar mungkin di depan Lira.
Tak lucu bukan kalau sekarang Dafa harus menendang kaleng bekas didepannya karena terlalu kesal karna melihat ayah dan ibu tiri matrealistis-nya.

Atau yang lebih parahnya lagi menangis karena terlalu marah pada keadaan, karena jujur sampai sekarang pun Dafa masih menangis diam-diam saat mengingat tak ada seorangpun sekarang yang ada disisinya.

"Eh, oper gue oy bolanya"

"Aji lempar gue, bangsat"

"Yes, masuk"

Teriakan-teriakan itu langsung terdengar kala mereka memasuki parkiran di dekat lapang. Membuat mereka menoleh secara bersamaan keasal suara.

Oh anak basket ternyata, Lira membatin sambil meneliti setiap orang yang sibuk berlarian ditengah lapang itu.

Ada Aji, Niko, Kevin dan....

Mendadak Lira jadi punya ide saat melihat Kevin, ia ingat apa yang dikatakan cowok itu didepan kelas tadi.

"Dafa ikut aku yuk" ajaknya sambil menarik Dafa menuju kerah lapang.

"Mau kemana?" tanya Dafa mengerutkan alis bingung.

Lira hanya tersenyum.

"Kevin!!, ada yang mau ikut eskul basket nih"

                          ***

        "Makasih.." kata Dafa saat mereka baru saja sampai didepan pintu gerbang rumah Lira yang hari itu terlihat sepi--seperti biasanya.

Lira hanya tersenyum kecil, "gimana? Seneng gak punya temen?" tanya gadis itu sambil menarik Dafa masuk kedalam rumahnya, Dafa hanya menurut.

"Iya, seneng sih mereka juga baik-baik" kata Dafa sambil tersenyum. Kali ini cowok itu terlihat senang, berbanding terbalik dengan ekspresi yang dilihatnya beberapa jam lalu.

"Jadi, mau jadi anak basket nih?" tanya Lira sambil tersenyum miring, Dafa menganguk dengan antusias "iya, gue udah lama mau jadi anak basket tapi baru terwujud sekarang" jawab cowok itu sambil mengikuti Lira yang berjalan kearah dapur mengambil minum untuk mereka berdua.

Dafa tersenyum lagi. Ternyata punya banyak teman tak seburuk apa yang ia pikirkan.

Ya, Dafa mengikuti eskul basket. dan diluar dugaan anak-anak basket menerimanya dengan  baik sangat baik malah.

Bahkan beberapa dari mereka langsung menjabat tangannya sekedar memperkenalkan diri sambil berkata kalau sekarang mereka adalah satu tim, teman dan keluarga membuat Dafa menemukan kehangatan lain disana setelah omanya dan tentunya emmmmhh.... Lira.

Kecuali Kevin, teman sekelasnya itu bahkan berkata yang membuat Dafa mengerutkan alis tapi kemudian tertawa lepas.

"Gue kira lo judes lo, Daf" kata Kevin saat melihat Dafa yang sedang memperkenalkan diri pada Aji dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan.

"Emang kenapa?"

"Abisnya lo serem sih Daf, kalau dikelas diem mulu. Dingin lagi" komentar Kevin, "padahal lo kan ganteng Daf, pasti banyak yang mau sama lo kalau lo gak dingin"

"Oh ya?"

"Heem, termasuk slah satu inceran gue yang ternyata lebih dulu kecantol sama lo" kata Kevin sambil melirik Lira yang saat itu tengah menatap mereka dari sisi lapangan, melihat itu Dafa tertawa lepas.

"Mungkin pesona playboy lo udah luntur kali Vin, makanya Lira gak tertarik sama lo" canda Dafa membuat anak-anak basket yang lain tertawa.

"Maybe, tapi apapun itu selamat datang di basket, sekarang kita satu tim, teman dan satu keluarga" kata Kevin sambil menjabat tangan Dafa hangat membuat cowok itu tersenyum kemudian menatap Lira yang jugs menatapnya.

"Nih buat kamu" Lira menyerahkan segelas orange juice kearah Dafa yang langsung diterima oleh cowok itu dengan senang hati.

"Makasih.." sahut cowok itu pelan

Setelah itu mereka sama-sama terdiam, sibuk dengan acara sinetron yang ditampilkan Tv layar datar Lira sampai Dafa mencoba mencairkan suasana.

"Ra..."
Panggil Dafa setelah kurang lebih 10 menit mereka sama-sama terdiam.

"Hhhmm" gumam Lira santai.

"Kayaknya gue beneran suka sama lo deh" lirih Dafa dengan suara yang nyaris tak terdengar kalau saja Lira tak menajamkan telinganya.

Semoga Lira tak salah dengar, karna Lira rasa ia juga merasakan hal yang sama.

                           ***

Thanks, ini part Ke 12 gue jangan lupa vote and comment guys.

Tasikmalaya, 29 oktober 2016.

My Baby GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang