Liburan

1.3K 84 19
                                        

Ujian semester berlalu. Mereka berdelapan masuk sepuluh besar. Tidak ada peringkat, hanya diberi tahu bahwa mereka masuk posisi tersebut.

Saat ini, mereka sedang menikmati liburan semester.

Batz dan keluarga sedang berlibur ke Perancis sedangkan Nae dan keluarga sedang ke Kanada kecuali Kim karena sedang kuliah.

Ve dan keluarga berlibur ke Swiss sedangkan Naomi berlibur ke Italia.

Berbeda dengan dua pasangan di atas, JeShan menghabiskan liburannya dengan kursus bahasa Inggris.

"Kok lo ikut kursus juga?" Tanya Jeje menatap Shania yang sedang berada di kelas bersamanya.

"Bokap gw, setelah bokap lo cerita lo ikut kursus" ucap Shania ketus.

Selama kursus, mereka duduk berjauhan seakan tidak saling mengenal.

Saat pulang kursus.

"Je.. Pulang naik apa?"

"Eh, kak Peter. Gw jalan, kak. Ga jauh dari rumah" jawab Jeje menatap Peter dan Shania bergantian.

"Gw anter aja yuk" ajak Peter. "Ga usah, kak. Ngerepotin. Lagian rumah gw juga deket" jawab Jeje santai.

"Yaudah. Gw temenin. Nih, Nju, lo pulang duluan aja" ucap Peter melempar kunci mobilnya ke arah Shania.

"Kak.. Ga usah. Lo pulang sama Shania aja. Gw bisa sendirian kok" Jeje bingung dengan sikapnya Peter.

"Udahlah. Berisik deh lo" ucap Peter menggenggam tangan Jeje dan mengajaknya berjalan.

Shania memperhatikan punggung Jeje dan kakaknya yang semakin lama semakin menjauh dan hilang.

Semenjak hari itu, Peter selalu mengantar jemput Jeje. Mereka semakin hari semakin dekat.

Tak jarang Shania memergoki mereka sedang makan atau nonton bersama.

Dua minggu berlalu.

"Hai, Nju" sapa Peter di pagi hari.

"Lo mau kemana kak pagi gini udah rapih?" Tanya Shania memperhatikan Peter dari kepala hingga kaki.

"Mau kencan lah" jawab Peter meminum susu yang ada di meja makan.

"Kencan? Emang lo punya pacar?" Shania menyelidik menatap Peter.

"Punyalah. Makanya gw mau kencan. Emang lo?" Ejek Peter memeletkan lidahnya.

"Dih.. Siapa orang kurang beruntung itu yang jadi pacar lo?" Tanya Shania penasaran.

"Ciyeee adek gw kepo ciyeee"

"Kak.. Plis deh"

"Dia temen lo. Dia Jeje, dek" ucap Peter tersenyum bahagia.

Deg!

"Je..je.." Ucap Shania terbata. Peter menganggukkan kepalanya.

"Sejak kapan?" Tanya Shania lagi.

"Dua hari yang lalu. Gw nyaman, Nju, sama dia. Dia baek banget. Hidup gw berwarna semenjak deket sama dia. Udahlah. Gw pergi dulu ya. Dah, Nju" ucap Peter melambaikan tangannya dan berjalan menuju mobilnya.

Setelah suara mobil Peter tidak terdengar lagi, Shania mengerjabkan matanya berkali-kali.

"Peter.. Jeje.. Jadian?" Gumam Shania sangat pelan seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

------

Aom mempunyai kesibukan lain saat liburan, yakni membuka usaha handmade bersama adiknya.

"Lo bisa buat scrapbook?" Tanya Darin via telpon kepada Aom.

"Bisa. Lo mau yang gimana? Untuk siapa?" Tanya Aom.

"Untuk gw, tentang keluarga gw" ucap Darin.

"Oke. Nanti gw ke rumah lo aja minta potonya. Taruh fd ya"

"Oke"

Sambungan dimatikan oleh Darin.

Siang hari.

Tok.
Tok.
Tok.

"Bentar.."

"Hai, Darin.."

"Hai, Kak Kim, hai Aom. Ada apa, kak?" Tanya Darin.

"Nemenin pacar gw. Katanya mau ketemu lo. Jadi gw anterin dia sebelum kami kencan" ucap Kim santai merangkul pinggang Aom.

"P..pa..pacar?" Tanya Darin tergagap.

"Iya. Kami berpacaran" ucap Kim tersenyum.

"Se..sejak kapan, kak?" Tanya Darin menatap AomKim bergantian.

"Satu minggu yang lalu. Ini kita ga masuk?" Tanya Kim menatap Darin.

"Oh iya. Maaf. Mari masuk. Selamat ya untuk kalian" ucap Darin tersenyum kecut.

"Makasi.." Jawab AomKim bersamaan.

Lalu Aom mengambil fd yang sudah diisikan foto keluarga Darin dan mereka sedikit berbincang.

"Yaudah.. Kami pamit pulang ya. Kami mau kencan. Rencananya mau nonton, mau ikut ga lo?" Tanya Kim menatap Darin.

"Hah? Eh.. Ga usah, kak. Gw gamau ganggu. Have fun yaa" ucap Darin mengantarkan AomKim ke mobil.

"Oke. Cari pacar lo" ucap Kim mengacak rambut Darin.

"Hahaha nanti, kak" ucap Darin menatap Kim lalu menatap Aom.

Aom hanya diam sepanjang bertemu Darin. Ia hanya berbicara seperlunya.

Sepeninggal AomKim, Darin menatap nanar ke arah TV. Ia tidak fokus. Ia masih teringat ucapan Kim.

"Kami berpacaran"

"Mereka berpacaran?" Batin Darin dan menghela napas kasar.

You Complete MeWhere stories live. Discover now