Setelah semua luka tak berdarah yang kuterima, aku memutuskan untuk tidak jatuh cinta lagi. Selama lebih dari dua puluh tahun mengitari matahari, aku pernah jatuh cinta. Dan jatuh cinta sebelum menikah, benar-benar sebuah ujian.
Cinta pertama pada seseorang di masa putih abu-abu. Aku dan dia hanya saling tahu. Setiap bertemu dengannya aku selalu menunduk (mencoba untuk menjaga pandangan). Komunikasi dengannya hanya jika ada pentingnya saja. Tidak pernah ada modus. Bahkan, kami hampir seperti orang yang tidak saling mengenal. Aku tidak pernah tahu, apakah dia juga punya rasa yang sama atau tidak. Dan rasanya, dia juga tidak pernah tahu bahwa aku menyukainya. Atau sebenarnya dia tahu tapi pura-pura tidak tahu?
Jatuh cinta untuk kali kedua pada seseorang yang ada di kampus. Dan kali ini, ceritanya sangat berbeda. Aku berani berkomunikasi dengannya meskipun untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Mungkin dia tahu bahwa aku ada rasa padanya, tapi pura-pura tidak tahu.
Dan sekarang, aku tidak ingin jatuh cinta lagi. Cukup! Aku tidak ingin menduakan Tuhan. Meski aku tidak pernah pacaran, jatuh cinta cukup membuatku menderita. Meski aku selalu berusaha untuk menjaga, tapi wajahnya kerap hadir di benak secara tiba-tiba.
Dan sekarang, sudah aku putuskan, hanya akan jatuh cinta pada seseorang yang mengajakku menikah. Yang menjadi imamku kelak. Yang meski aku tidak tahu siapa dan dimana, jika aku menjaga dia juga pasti menjaga.
Hati harus terus dijaga, seperti diri.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Rasa
General FictionSelamat tinggal kamu. Setelah pergi, aku lupa cara kembali. Tidak sama seperti terbang, aku tidak mau belajar pulang~ Aku tidak marah karena kamu tidak peduli. Aku hanya sedikit menyesal pernah lebih mencintaimu daripada diriku sendiri~ Terbanglah d...