"maaf sayang, om bukan papi kamu". ucap laki-laki itu seraya perlahan berusaha melepaskan pelukan dari el.
"Tapi kata oma, mata papi sama seperti el". El yang sudah terlepas dari pelukan itu menunduk.
Laki-laki itu yang kasihan melihat el pun segera berjongkok dan melihat wajah el dengan sek sama.
"Ya tuhan, benar apa yang dikatakan oleh anak ini, wajah nya seperti duplicat wajah ku tapi bedanya pada bibirnya yang mirip dengan seseorang, ah sudah lah lupakan". Batin laki-laki itu dan menggelengkan kepalanya mencoba mengusir segala pikirannya.
Dan segera tersenyum kembali kepada el.
"Anak manis gak boleh sedih ya, ya udah sekarang boleh panggil om dengan sebutan papi". Mendengar itu el pun merasa senang dan melompat-lompat kegirangan.
"Entah mengapa aku tak bisa menolak panggilan gadis kecil ini, saat aku ingin menolak, hati seperti mengatakan "Jangan menolak" dan entah mengapa ada perasaan hangat di diri ku saat gadis kecil ini menyebutku dengan papi". Batin laki-laki itu dan saat bersamaan terdengar Suara mendekat dan memanggil gadis kecil itu
"Ell". Panggil nya dari arah belakang laki-laki itu.
"Mamiiii". Teriak el pun saat mendengar sang mami memanggilnya.
Dan saat laki-laki itu ingin membalikkan tubuhnya, ia menangkap lambaian seseorang yang sudah menunggunya.
"Hmm sepertinya mami kamu sudah datang dan teman om juga sudah datang, sampai jumpa sayang".
"El ingin ketemu papi lagi". ucap el yang membuat laki-laki itu hanya bisa tersenyum dan dengan berat hati meninggalkan el sendiri menunggu mami nya yang berjalan ketempatnya.
"sayang, kok berdiri? terus tadi mami liat kamu lagi bicara laki-laki? el kenal tadi?". ucap elvina bingung mendapati anaknya yang berdiri dan terdiam mematung
"Papi". sebut el tanpa sadar, elvina yang tidak tau hanya diam menunggu kesadaran sang anak.
"Mami, tadi el ketemu papi? papi el tampan sekali". el pun yang sudah sadar segera berceloteh tentang apa yang ia liat tadi tapi elvina hanya diam karna bingung dengan celotehan anaknya, karna selama ini si brengsek itu sudah jauh dari hidupnya.
"tadi el sempet peluk papi, mi.. el seneng banget ketemu papi, papi el tampan.. nanti kalau el sudah besar el ingin punya pacar seperti papi". Ocehnya girang tapi elvina yang melihat itu merasa sedih.
"Hmm sebaiknya kita pulang ya sayang, udah sore". Ajak elvina akhirnya karna tak ingin mendengar ocehan sang anak tentang papinya.
Saat el dan elvina berjalan menuju parkiran, el menatap seseorang yang sedang berdiri di samping mobilnya dengan seorang gadis yang sebaya dengan seseorang itu.
"Papi". Gumamnya tak sadar
"Kenapa sayang?". Tanya elvina yang samar-samar bisa mendengarkan gumaman el
"Papi". Ucap el dengan memandang elvina
Elvina yang mendengarkan tiba-tiba berhenti dari jalannya dan entah mengapa hatinya serasa seperti tertusuk pedang yang begitu tajam hingga ke ulu hatinya.
"Mami, el kangen sama papi". Lirih el yang tiba-tiba.
"Sayang yuk pulang, oma opa sama uncle udah nungguin el loh di rumah". Elvina yang mencoba mengalihkan pembicaraan el, el pun mengangguk patuh dan sedikit menunduk sambil sesekali melihat ke arah laki-laki tadi.
Di sisi lain laki-laki itu juga tak sengaja melihat ke arah el yang sedang berjalan membelakangi nya dengan menunduk dalam genggaman sang ibu.
"Kenapa dengan anak itu?". Tanya nya dalam hati.
"Dan tunggu? Itu siapa yang bersama anak itu? Aku seperti mengenalnya, apalagi dari postur tubuhnya". Lanjutnya dalam hati
"Kamu ngelihatin apa sih sayang?". Tanya Talita sang istri memperhatikan pandangan suami nya yang menatap lurus tanpa kedip.
"Hmm gak apa-apa kok sayang". Ucap nya santai.
"Oh ya sayang, aku pengen punya baby deh, pasti nanti seru". Semangatnya kepada sang suami dan di balas hanya dengan senyuman.
"Ya udah, sekarang kita pulang". Ajaknya kepada sang istri
Lain sisi dengan elvina dan el.
El yang biasanya tak bisa berdiam diri dimanapun itu dan selalu membuat Celotehan yang bisa mengundang tawa yang mendengarkannya tapi entah mengapa semenjak ia melihat laki-laki itu Wajahnya ditekuk dan terlihat murung.
"El, el kenapa? Kok diam aja mulai tadi?". Tanya elvina yang menyadari perubahan dari sang anak.
"Gak apa-apa mi". Lirihnya yang dipaksakan tersenyum.
Elvina pun yang tidak tau tentang apa yang dipikirkan oleh el pun hanya diam tak bertanya apa pun.
Di dalam mobil sunyi sepi tanpa celotehan dari el.
Sesampainya di rumah el segera turun dan berlari tanpa mengucapkan apa pun.
Elvina yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang dan membuskan dengan Kasar.
"Maafin mami el". Lirihnya dengan berjalan masuk.
Sesampainya disana ia melihat sang mommy menatapnya keheranan.
"Ada apa dengan el?".
Elvina pun segera mengambil duduk di samping mommy nya yang sudah terlebih dahulu duduk di sofa ruang keluarga.
"Entahlah mom, sepertinya el merindukan papi nya". Elvina pun hanya bisa menunduk dan memijat pelipisnya.
"Mom tau ini berat buat kamu sayang tapi kamu juga harus inget el adalah anaknya, kamu harus beritahu dia dan mungkin beri kesempatan untuk el mengetahui sosok papi nya, mom yang belum pernah melihat el seperti ini merasa sakit, apa kamu tak merasakan itu?".
"Mom, ii juga sakit liat el seperti itu tapi ii gak mau el bertemu dengan dia, ii gak siap buat ketemu dia".
"Tapi sayang, kamu jangan egois, pikirkan el".
"El sangat merindukan papinya". Lanjut mommy nya dan segera pergi menghampiri el.
"Apa aku harus menyerah? 5 tahun berjalan aku harus menyerah? El, mami sayang kamu tapi untuk bertemu dengan papi mu, maaf mami gak bisa el". Lirihnya yang masih duduk disofa keluarga dengan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut.
Di sisi lain, sang oma yaitu sisi sedang membujuk el tapi tetap saja gadis ini tak ingin berbicara sama sekali hanya diam dan tengkurap menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangannya.
"Sayang, el kenapa?". Sekali lagi omanya bertanya tapi tak di jawabnya.
"Oma tau, el kangen sama papi kan?". Lagi-lagi tak ada jawaban dari el
Sisi pun hanya menghela nafas dan membuangnya perlahan.
"Papi el, kan masih kerja sayang cari uang banya buat el dan mami, nanti pasti papi jemput el seperti mami yang kerja buat el dan sekarang el bisa ketemu mami, dulu kan oma pernah bilang kalau mami kerja buat el dan suatu saat mami bakal temuin el kan?". Entah tanpa sadar atau tidak el pun mengangguk dan itu membuat sisi tersenyum.
"El, harus percaya papi suatu saat akan jemput el ya".
"Tapi oma, apa boleh el telfon papi? El gak apa-apa kalau papi gak mau ketemu el tapi el cuma ingin denger suara papi aja". Saat itu juga sisi tak bisa berkata apa pun karna elvina telah menghilangkan akses komunikasi dengan pria itu.
Ia sangat sedih melihat cucu satu-satunya ini bersedih, ia tau bagaimana perasaan el.
"Oma, el ingin denger suara papi". Lirihnya masih dengan wajah yang disembunyikan.
Sisi hanya bisa mengelus sayang rambut el.
"Oma janji sayang, bakal temuin el dengan papi bagaimana pun caranya". Batinnya berjanji.
~~0~~
Banyuwangi, 19 feb 2017
See you next part 😊
Kecup sayang author😊😀😘😘 muachhhhh
KAMU SEDANG MEMBACA
Arrogant CEO [END]
Romance#Sequel Fall in love with CEO Elvina Aprillya Fendrick adalah wanita satu-satunya yang menjabat sebagai CEO di negara ini. Elvina memiliki sifat yang hampir sama dengan sang daddy yaitu Digo Fariz Fendrick yang mungkin lebih, karna elvina memiliki s...
![Arrogant CEO [END]](https://img.wattpad.com/cover/99075973-64-k198823.jpg)