Part 27 (Author POV)

2.1K 92 7
                                        

"Mami Papi tolong El... hiks...hiks..". El yang melihat orang tua nya pun segera memohon pertolongan kepada mereka, ia benar-benar takut sekarang karna wanita itu mengarahkan ujung pistol miliknya kepada kepala El yang siap kapan pun wanita itu ingin kan akan menghancurkan dan mengayak keluar isi kepalanya, ia hanya bisa menangis meminta pertolongan.

"Jangan mimpi kau anak kecil, kalau kau dan ibu mu mati aku akan sangat puas.. hahaha".

"Dan ucapkan selamat tinggal sayang".

Dorrr

"akg tidak, elllll". Teriak Alfaro yang sudah berlari dan melihat sang anak yang sudah terkapar dengan banyaknya gedangan darah dimana.

dan wanita yang sedari tadi hanya diam memandang adegan itu seolah semua badannya luruh tak ada kekuatan yang biasa ia lakukan hanya menangis melihat sang anak saat ini.

"Elissaaaaaa". Teriaknya yang sudah dengan susah payah ingin meneriaki sang anak, memberitahu sang anak bahwa momy nya ada dihadapannya, dan ia pun juga ingin mengatakan kalimat penenang untuk sang anak.

kembali lagi kepada sang anak Elisa, Elisa hanya tersenyum melihat orang tua nya telah bersatu meskipun ia tahu, orang tuanya bersatu karena dirinya.

Alfaro memangku Elisa dan memeluknya dengan erat ia tak habis pikir, anaknya.. anak yang ia sayangi selama ini....

"Beratahan sayang". Ucap Alfaro kepada sang anak.

Disampingnya ia melihat wanita itu, watnita yang dengan bodohnya telah membuat sang anak kesakitan seperti ini.

"kauuu..".

"Dad.. Dad... Dy... ja.. jangan.. pe.. per..gi".

"Bertahanlah sayang, Daddy dan mommy ada untuk Elisa".  Ia pun segera membopong tubuh Elisa...

"El...lisa..". Teriak wanita yang sudah bisa mengembalikan pikirannya.

ia pun berlari menghapiri sang suami yang sedah membopong tubuh sang anak.

"sayang, El harus bertahan ya.. tolong terus buka mata El, El gak boleh tidur". El yang mendengar itu hanya bisa tersenyum tipis.

"Dad, El le... lah... El.. iiiiing...in tiiiidurr".

"Tidak tidak, El harus bangun sayang hiks hiks".

Sesampainya di depan mobil mereka segera memasuki mobil yang sudah menunggu sedari tadi, dan sang supir pun segera mencapkan pedal gasnya menuju rumah sakit terdekat.

"Ricky, bisa kah kau lebih cepat lagi". Teriak Alfaro kepada sang supir sedangkan sang istri mencoba mengajak sang anak berbicara apapun untuk selalu bisa menjaga kesadaran sang anak.

"Mom, berrr... jaann.... jilahh uun..tuk tett..tapp berrr...saaam.. ma Dadd...dy".

"Iya sayang, iya... kita bertiga akan selalu bersama, El harus kuat... El harus bertahan... hiks hiks". Mendengar itu hati Alfaro seperti tertusuk-tusuk ribuan bahkan ratusan belati saat melihat sang buah hati yang sudah tak berdaya seperti ini.

Tak berapa lama mereka pun sampai di salah rumah sakit terdekat.

"Tolonnnnng selamattt kann putri kuuu". Teriaknya kepada semua penjuru rumah sakit, Alfaro dan sang istri tak menghiraukan tatapan demi tatapan yang di berikan oleh para pasien atau pengunjung rumah sakit, mereka fokus dengan keadaan sang putri.

tak menunggu lamapun segera perawat yang ada disana mengambil brankar dan membawa sang anak menuju ruang Operasi bersama seorang dokter yang terlihat masih sangat mudah.

"Tenanglah sayang, berdo'a lah buat putri kita, berdo'a lah sayang". Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan sang istri meski ia sendiri pun tak dapat dipungkiri bahwa ia sendiri sedang panik dan rasa bersalah kepada sang anak.

Arrogant CEO [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang