Twenty Four

3.9K 309 5
                                        

Seluruh mata dan kepala tertuju gadis malang itu dengan skeptis, bahkan Nial menjadi satu-satunya yang limbung di antara mereka semua ketika mendengar kabar itu. Ia menunduk pada perut Vicky seraya berpikir apakah perut itu benar sedang mengandung anak mereka atau Vicky hanya berbohong demi mendapatkan restu Henry? Seharusnya Vicky tidak perlu melakukan itu karena Nial akan menghadapi Henry sekeras apapun pria itu. Hanya saja ia tidak ingin kecewa jika ternyata gadisnya hanya berbohong sedangkan Nial sudah terlanjur berharap.

"Oh! Senjata makan tuan!" Henry mendengus jijik, "apa yang sudah kalian berdua lakukan? Ini benar-benar gila. Nial-" ia mengacungkan telunjuknya pada pria yang tidak gentar sedikit pun, "aku mengajarimu segalanya bukan untuk kau praktekan pada adikmu sendiri."
"Aku bukan adiknya, Papa!" sela Vicky.
"Kalian tumbuh besar bersama. Kau anakku-" ia merujuk pada Vicky, "-dan kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri" merujuk pada Nial. "Kalian saudara."
"Kenyataannya tidak begitu dan aku menyukai puterimu selayaknya pria normal menyukai seorang wanita, bukan menyukai saudaranya sendiri."

Henry membuang muka dengan sangat acuh, "jika memang kau tidak bisa menikah selama Nial hidup, maka kau tidak perlu menikah, kami akan membesarkan anakmu" gumam Henry pada Vicky. Nial menguatkan genggamannya di tangan gadis itu dan siap membawanya pergi.
"Henry Hezekiah Peterson! Aku akan pergi bersama mereka" ancam Stacy namun Henry menggamit lengan isterinya dan menguncinya tetap di dekatnya.
Dengan suara rendah penuh tekad Nial berkata pada Henry, "Paman, aku berjanji akan membahagiakan puterimu, dia tidak akan pernah kekurangan kasih sayangku. Aku akan tetap menikahinya walau itu tanpa ijinmu," ia menoleh pada Stacy, "Doakan kami, Mom Sassy" Stacy hanya mengangguk pasrah tanpa daya kemudian Nial menggandeng gadisnya pergi meninggalkan mereka.

Henry kembali duduk dengan santai membuka halaman majalah. Stacy mengernyit heran pada suaminya ia bahkan enggan untuk duduk.
"Lihat apa yang kau lakukan pada mereka!" bentak isterinya.
Henry mengerutkan hidungnya dan menggerutu, "bawa saja dia, toh tempatnya memang bersamamu."
Stacy akhirnya membanting bokongnya di samping suaminya, matanya melebar tidak percaya, "kau merestui mereka, ya? Jadi mengapa kau berputar-putar dan menolak alih-alih merestui mereka?"
Henry memalingkan tubuhnya dan memunggungi Stacy dengan defensif menaikan majalahnya, "bagaimana lagi caraku membalas dendam atas perbuatan kurang ajar bocah tengil itu. Aku begitu berhasrat mengerjainya. Sekarang tahu rasa, kan!" ia tersenyum miring layaknya orang tua jahil.
Stacy memejamkan matanya dan berusaha meredam emosi, "Henry Hezekiah Peterson" cetus Stacy lambat-lambat dengan suara rendah yang diwaspadai Henry.
"Sudahlah! Aku tahu pria itu kepala batu. Dia seorang Peterson" ia menatap sepenuhnya pada Stacy, "baiklah aku tidak suka caramu menyebut namaku seperti barusan. Tapi aku bergairah ketika kau menyebut nama lengkapku. Melihat kemesraan anak-anak kita rasanya aku ingin bercinta denganmu" ia meremas tangan Stacy.
"Tidak!" cetus Stacy.
"Aku suamimu"
"Tetap tidak!"
"Henry tidak menerima kata 'tidak' untuk sesuatu yang diinginkannya, jadi bagaimana kalau kita bercinta di taman ini seperti masa muda dulu?" pria itu menyeringai.

Nial nyaris menyeret gadis itu dengan langkahnya yang cepat meninggalkan halaman belakang menuju mobil di pekarangan depan. Vicky harus berlari kecil untuk bisa menyamai langkah Nial.
"Nial kau menyeretku!" Ia berhenti dan menyentakan tangannya dari genggaman Nial. Pria itu berhenti dan berbalik, matanya menyipit curiga pada gadis itu.
"Katakan pengakuanmu tadi bukan sandiwara" tuntut Nial.
"Aku harus melakukannya karena Papa begitu menyebalkan" gadis itu melipat tangannya di dada sambil merajuk.
"Sandiwaramu keterlaluan, Vicky" pria itu mulai melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh Vicky dengan enggan.
"Maafkan aku membuatmu terkejut." Ia mendongak ke wajah pria itu sambil menyamai langkahnya, "apa kau ingin aku benar-benar hamil?" tanya gadis itu penasaran.
"Sudah seharusnya" mereka sampai di mobil dan Nial membukakan pintu untuk gadis itu sebelum membuka pintu untuk dirinya sendiri.
Vicky menelan ludahnya dengan susah payah sebelum mulai berbicara sementara Nial sedang menyalakan mobilnya.
"Jika kau menginginkannya mungkin aku bisa berhenti minum pil pencegah kehamilan nanti"
Kepala pria itu menyentak keras ke arahnya, "kau apa?"
"Aku takut, Nial" gadis itu menggigil ketakutan. Ia bisa merasakan raut wajah pria itu mengeras dan memerah dengan garis-garis otot menonjol di sekitar keningnya.
Nial meremas lembut pundak gadis itu dan meminta perhatiannya, "Vicky dengarkan aku! Kita akan menikah, oke! Apapun yang terjadi" ia menatap kedalam mata gadis itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya Vicky mengangguk.
Ia melepaskan gadis itu dan mengarahkan mobilnya ke jalan utama, "saatnya memperbaiki keadaan."
"Bagaimana?"
"Pertama kita harus mendoakan mendiang Mama."
"Kau benar. Kurasa dia berada dibalik semua ini?"
Nial mengangkat alisnya pada Vicky dan gadis itu menjawab:
"Iya, hanya Bibi Sara yang tahu hubungan kita berdua. Mungkin dia yang mengatur agar kita berdamai"
"Aku harus berterimakasih pada Mama" ujar Nial.

Inside The BookTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang