Mimi bangkit dari tidurnya. "Tunggu, sehun? Bagaimana kau bisa disini?" Mimi tampak bingung.
"Ceritanya panjang, akan kuceritakan setelah ini berakhir"
"Ini akan segera berakhir!" Ucap Mimi bersemangat.
"Baiklah kita harus menyiapkan lingkaran soptex! Awkering, carilah kuas dan cat ratu clarion, ada dikamarnya didalam istana. Kau sehun, bantu aku menghambat Anizyah!" Perintah Mimi.
Awkering pun langsung masuk ke istana dan mencari kuas dan cat ratu. Sedangkan Mimi dan sehun menuju arah Anizyah yang sedang bertarung dengan Zyan.
"Apa!? Zyan!? Ayo Sehun! Cepat!" Mimi melesatkan bola cahaya pada Anizyah yang mencoba menyerang Zyan yang sudah jatuh itu.
"Apa!?" Ia berbalik kearah Mimi. "Kukira kau zudah mati" Ia menyeringai. "Mari kita selesaikan ini!"
Dengan cepat Anizyah terbang menuju Mimi. Mimi pun menunjukkan telapak tangannya lalu terbentuk dinding transparan yang melindungi tubuh mungilnya.
Anizyah menabrak dinding itu dan terlempar jauh. Seakan kekuatan Mimi naik berkali-kali lipat. Mimi berjalan santai kearah Zyan. Ia meletakkan tangannya didada bidang Zyan. Sesaat Zyan tiba-tiba pulih kembali. "Mundurlah, aku akan menyelesaikan ini" Sehun menolong Zyan bangkit lalu membawanya pergi.
"Hei! Anizyah! Tebak aku bertemu siapa!" Anizyah tampak kesal lalu melempat bongkahan bagu pilar kahyangan kearah Mimi.
Hanya dengan ayunan tangan. Bongkahan itu hancur menjadi serpihan kecil. "Aku bertemu.. Ibu"
"Oh ya?" Anizyah menembakkan bola mens yang kini menjadi berwarna merah kebiruan. "Kau akan bertemu dengannya lagi!"
Bola mens itu melesat tepat didepan wajah Mimi. Namun, secepat kilat Mimi menghindar dan pindah kebelakang Anizyah.
"Kau tak menggunakan pembalut ini dengan baik, bahkan kau tak seharusnya punya sayap" Bisik Mimi lalu menarik kencang sayap Anizyah. Hal itu langsung melemahkan tubuh Anizyah.
"Arghhhh...hhhhh... Ahggghh...!!" Teriak Anizyah histeris penuh desahan.
Akan tumbuhan perlahan naik dari bawah Anizyah lalu mengikatnya kencang hingga tak bisa bergerak.
"Awkering pun datang membawa peralatan yang diminta Mimi. "Baiklah, aku masih ingat cara melakukannya"
Mimi membuat lingkaran dengan kuas dan cat ratu itu, lalu membentuk beberapa lingakaran kecil disekitarnya.
Mimi mulai merapalkan mantra-mantra ajaib peri. "Peri manjhaa, peri mungil. Lepaskan pembalut, cabutlah pembalut. Hilangkan dendam, sirnakan amarah. Kembalikan jiwanya, pulihakan raganya. Satu dua satu dua bintang pagar bintang delapan bintang dua belas pagar!!!"
Seketika cahaya dari langit turun menembus tubuh Anizyah. Tubuhnya kembali buncit, rambutnya melurus dan kulitnya menjadi seperti biasanya.
"Mi.. Mi... " Rintih Anizyah. Sepertinya jiwanya telah kembali. Langit kembali cerah. Prajurit yang telah kehilangan jiwanya kembali hidup. "Mimi!" Anizyah bangkit dengan perlahan ketika akar tumbuhan itu layu.
"Anizyah! Kau kembali!" Mimi memeluk Anizyah dengan bahagia.
Perlahan Anizyah mengeluarkan sebilah pisau yang ia simpan. Lalu menancapkan tepat dijantung Mimi.
"A...apa... Y.. Yang.. Ka.. Kau laku.. Kan?" Tubuh Mimi membatu. Mulai terasa nyeri dibagian punggung, lutut, dan leher. Wajahnya menjadi keriput dan rambutnya memutih. Ia menjadi bungkuk. Ia menua dengan cepat.
"Tenang Mimi, itu hanyalah racun minyak goreng bekas yang akan membuatku menua dengan cepat lalu sprinnkkllee! Kau menjadi abu! Hahahahahahahaha!!!" Anizyah tertawa seakan tak berbuat apa-apa.
"Ma.. Maaf... I.. Ibunda dan... Se.. Semuanya.. Aku.. Tak.. Da. Dapat menyelesaikan...tu.. Tugas..ku" Mimi menjadi abu. Tubuhnya hilang menjadi serpihan kecil subatom. Yang tersisa hanyalah gaun dan kalungnya.
"Mimi!!!!" Teriak Awkering yang melihat hal itu. Ia menatap kesal Anizyah lalu menarik busur panahnya dan melesatkan anak panah berapi pada Anizyah.
Anizyah menghindari semua anak panah Awkering "Awkering, Awkering. Tidakkah kau zadar? Zyan tidak mencintaimu! Dia mencintai Mimi! Ayolah kemari ikutlah berzamaku" Ia menjulurkan tangannya.
"Tidak! Tidak mungkin! Kau pikir aku akan percaya? Kau pembohong!!" Disaat Awkering lengah anizyah menyerap jiwanya. Kini hanya raganya yang tersisa.
Tubuh sehun dibuat membeku oleh Anizyah. "A.. Anizyah.. "Tenang zehunku zayang, aku akan menyisakanmu diakhir.
Anizyah menyerap jiwa Zyan yang terbaring lemas. Jiwa Zyan pun hilang dari raganya. Didetik-detik terakhirnya. Yang ia ingat hanyalah Awkering. Kekuatan cinta yang kuat itulah yang membuat jiwa mereka lepas dari Awkering dan bebas menuju cahaya Bersama-sama. Raga mereka mati namun jiwa mereka hidup. Itulah kekuatan cinta.
"Oh Zehun.. Maukah kau bergabung denganku atau kau lebih memilih mati mengenazkan dengan jiwamu yang terperangkap" Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang mudah bagi Sehun.
"Aku lebih baik mati daripada bergabung dengan wanita buncit yang tak beradap sepertimu!!"
"Upz! Zalah jawaban!" Ia menyeringai lalu melirik sebuah wajan plastik.
"Zelamat tinggal zayangku" Jiwanya terhisap lalu masuk kedalam wajan plastik itu hingga wajan itu berubah warna menjadi hitam.
"HAHAHAHA!!! KINI AKULAH YANG BERKUAZA!!! DAN TAK ADA YANG DAPAT MENGALAHKANKU!!! HAHAAHAH!!!! TIDAK MIMI!! TIDAM RATU CLARION!!! TIDAK MEREKA SEMUA!!!! AKU AKAN MEMBURU SEMUA PERI!! HAHAHAHA"
***
Waw dah tamat yak :v gimana bad endingnya :v bad ga :v
Jan lupa vot dan komen yak :v
SALAM SAPHAA MANJHAA
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimi Peri Rafunzele [TAMAT]
FanfictionJauh dari kehidupan yang naif di bumi, di atas nya, di dimensi yang berbeda, sebuah dunia yang lebih indah dari bumi, negeri kahyangan. Hiduplah seorang peri mungil nan majhaa, dia adalah Isabella arumi rafunzel, ia kerap di sapa mimi. Gadis yang hi...
![Mimi Peri Rafunzele [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/88953305-64-k799560.jpg)