FANA POV
.
.
.
"Gw udah bilang kan ga, kenapa gak lo dengerin sih! Apa ucapan gw gak penting buat lo?"
Aku sedang memarahi Angga yang sedang menundukkan wajahnya tak berani menatapku, gimana tak marah? Ucapanku selalu di abaikan olehnya.
Hari ini aku di buat terkejut olehnya.
Pulang dari sekolah aku melihatnya sedang jalan bersama geng nya yang notabennya membuat hubunganku dengannya waktu itu jadi renggang.
Yang membuat angga memutuskan break dariku.
Yang membuat angga mengatakan bahwa dia bosan dengan hubungan yang sedang aku dan dia jalani.
"Gw gak habis pikir, otak lo di taruh di mana? Kalau lo emang niat buat gw marah! Gak gini ga!"
Aku benar-benar marah.
Aku adalah orang yang paling cuek dari hubunganku dengan angga.
Tapi kali ini beda! Aku merasa hubunganku dengan angga memang tak pernah berjalan dengan baik.
Kali ini aku tak bisa kalau tak peduli apa yang angga lakukan, termasuk jalan bersama geng tak jelas yang membuat hubunganku dengan angga lagi-lagi di ujung tanduk.
"Jangan diem aja! Jawab! Ga, dari awal lo minta gw jadi pacar lo, apa pernah gw marah kayak gini? Larang lo ini itu? Gw ngelakuin ini demi hubungan kita! Ngerti gak sih? Apa perlu hubungan kita sampai sini aja?"
Ucapku mulai merendahkan nada bicaraku.
Angga mendongak dan menggelengkan kepalanya pelan mentapku dalam.
"Tapi percuma..."
Ucapku tersedat.
"Enggak! Gw gak mau"
Ucapnya dengan tetap mentapku.
Aku hanya diam mengalihkan tatapanku tidak menatap angga yang terlihat memohon.
"Di sini lo yang minta gw jadi pacar lo, tapi kenapa harus gw juga yang berasa berjuang sendirian di hubungan kita."
Ucapku lirih
"Kalau lo emang niat main-main sama hubungan kita. Gw nyerah."
Ucapku mengambil tas dan berlalu tapi di cekal oleh tangan hangat milik angga.
Angga menarikku untuk duduk di sampingnya kembali
"Aku gak maksud buat kamu merasa gak penting Fan, tapi aku gak bisa jauhin mereka, bagaimanapun mereka temen aku. Mereka penting juga dalam hidup aku.."
Ucapnya mencegahku untuk beranjak.
"Terus gw gak penting? Sekarang pilih deh gw atau mereka?"
Ucapku menepis tangannya.
"Plis ngertiin gw.."
Ucap angga memohon.
"Kapan sih ga, gw gak ngertiin lo? Gw minta cuma kali ini.."
Angga mendengar ucapanku, dan menghela nafasnya kasar sambil memejamkan matanya sejenak dan kembali menatapku.
"Kalau lo emang minta gw suruh milih, maaf gw tapi lo yang minta. Gw gak bisa Fan, karna mereka ada di saat suka duka gw.."
Ucapan angga ku balas dengan senyum miring.
"See emang dari awal, gw udah duga. Di mata lo gw itu cuma orang yang buat ngisi di saat lo butuh, dan saat ada orang lain yang jadi tempat lo bisa tumpangi buat lo butuh, lo bakal lupain gw. Well, kalau itu keputusan lo, gw ucapin selamat! Dan bahagialah dengan mereka yang mengaku temen lo itu, aslinya? Lo liat aja sendiri nanti. Dan satu lagi ga, gw minta anggap kita gak pernah kenal. Thanks atas kehadiran lo di hidup gw.."
"Ternyata, buat lo kenal gw cuma segini ya fan? Lo nganggep lo cuma tempat pelarian gw?"
Ucapnya menatapku kecewa.
"Asal lo tau, mereka yang nyuruh gw buat perbaikin hubungan gw sama lo. Mereka juga yang ngancem gw kalau gw nyakitin lo! Waktu gw bilang dulu break, mereka yang marahin gw! Mereka yang nyadarin arti lo di hidup gw, gw sadar karna mereka! Dan mereka yang ngejahuin gw buat lo! Kalau misalnya gak ada mereka, gw gak akan sadar kalau lo itu berarti di hidup gw!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Sekolah ✅
HumorMasa sekolahku tak begitu menyenangkan. Tetapi semenjak di jadikan kekasih olehnya, semuanya berubah. ~ FANA
