"Hay ga,"
Sapa salah satu fans ku yang ada di sekolah.
"Boleh gabung?"
Tanyanya yang ingin bergabung denganku di meja kantin, yang kebetulan memang penuh dan hanya tersisa bangku di sebelahku.
Aku hanya mengangguk atas permintaanya.
Saat dia mencoba berbica denganku, aku tak sengaja melihat mata itu. Ya, mata yang selalu memancarkan ketulusan di hadapanku dia adalah Fana kekasihku, eh maksudnya mantan. Tetapi saat ku tatap matanya menyiratkan kesedihan dan kekecewaan.
"Ga, lo liatin apa sih? Oh lo liatin Fana mantan lo? Udahlah ga, move on ga! lagian dia juga sih malah waktu lo berantem sama Fero dia malah bantuin Fero dulu, bego banget tuh, udah tau ada pacarnya. Kemarin gw juga sempet liat dia di bonceng Fero pulang sekolah, gak tau kemana."
"LO BISA DIEM GAK? Lo gak tau apa-apa tentang Fana, jadi jangan coba-coba lo jelekin dia di hadapan gua!"
"Jadi lo tau semua tentang Fana? Haha ga ga.. lo tuh cowok bego tau gak? Lo tuh ganteng, pinter dan lo bisa cari cewek lebih dari Fana, bahkan Fana aja gak cinta sama lo? Miris!"
Tiba-tiba Fana mendekat ke arahku,
"Bagus ya, setelah lo buat gw jadi gini, lo sekarang mau deketin Angga juga? Ambil sana gw juga ogah, buat apa juga punya cowok banci kayak Angga, yang gak bisa memperjuangin apa yang harus di perjuangin. Gw juga ogah punya cowok yang ninggalin cewek di jalan demi telephon orang gak penting macem lo! Sekarang kalau lo mau Angga, lo ambil bekas gw, lo kan suka bekas gw kan?"
PLAK
"Denger ya Fan, lo jadi cewek jangan songong, jangan sok cantik lo! Gw bukan mau rebut Angga dari lo tapi Angga yang mau sama gw! Ya kan ga?"
Ucap Tania yang tersulut emosi, aku hanya bisa menatap mata Fana dengan tajam, entah hati gw sakit saat dia bilang tentang perlakuan gw tempo dulu, tapi itu dulu.
"Tan, jangan dengerin dia ngomong, gw juga ogah kok bekas Cowok brengsek itu siapa itu namanya? Fero ya? Oh iya gw lupa dia kan bebas ya dan dia bisa berjuang haha emang ini jaman penjajahan harus berjuang? Dan gw juga ogah barang bekas!"
"Ok ga, gw pikir setelah gw ngomong gini lo akan berubah pikiran untuk ngelanjutin hubungan kita, asal lo tau gw cinta sama lo, dan lo tan, selamat lo menang lagi dan buat lo ga makasih apa yang udah lo lakuin buat gw, dan makasih atas penghinaan lo yang lebih bajingan daripada Fero. Kalau lo bilang gw bekas Fero? Gw lebih baik jadi bekas dia daripada bekas lo!"
Aku cukup tegang saat Fana mengucapkan dia mencintaiku, seketika aku menyesal telah berburuk sangka kepadanya yang aku pikir dia tidak cinta kepadaku.
"Fan dengerin gw"
Teriak ku saat dia sudah berlalu dengan air mata yang bercucuran.
"Brengsek, ini semua gara-gara lo!"
Tunjukku ke hadapan Tania.
Dan aku pergi menyusul Fana, setelah ku temukan dia duduk di taman dengan bahu yang berguncang ku hampiri dia,
"Fan, dengerin aku dulu"
"Ngapain lo kesini?!"
"Aku minta maaf"
"Kalau gw gak mau maafin? Lo mau apa?"
"Ya berjuang biar kamu maafin aku"
"Ini bukan jaman penjajahan, ngapain berjuang?"
"Fan!"
Bentakku yang frustasi di bolak-balik kata-katanya.
Setelahnya hening gak ada suara, aku menghembuskan nafas lelahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masa Sekolah ✅
MizahMasa sekolahku tak begitu menyenangkan. Tetapi semenjak di jadikan kekasih olehnya, semuanya berubah. ~ FANA
