Ini tentang senja yang kehilangan langitnya. Tentang awan yang kehilangan hujannya. Dan tentang aku yang kehilangan dirimu. Setelah terbiasa segala tentangmu, sekarang aku harus terbiasa segala tanpamu. Ketika aku beranjak untuk memulai waktu kembali, kusadari, ada yang tertinggal. Kamu yang menetap dalam hatiku, mengendap, menjadi kenangan.
Waktu berjalan dengan bayang-bayangmu dalam pikiranku. Secara perlahan kamu mulai menguasainya. Kamu mengendap-endap kemudian berlarian kian kemari. Melakukan apapun sesukamu. Datang dan pergi, kemudian memberikan rasa sakit dan rindu berkali-kali. Kamu mengganggu, membuat hari-hari tak tenang. Kamu mengacau, membuat segala yang kulakukan berantakan. Kamu berhasil membuatku tak berhasil melakukan apapun. Kamu sukses membuatku tak sukses melupakanmu.
Kucoba untuk mengeluarkanmu dalam kenanganku. Mencoba memberi ruang pada hati untuk terbuka kembali. Hanya saja, hati begitu sempurna menginginkan kenangan tentangmu. Begitu candu memberi ruang untukmu menyatu. Apa lagi yang bisa kulakukan jika pada akhirnya hati sendiri yang tak ingin memilihmu pergi. Apalagi lagi yang bisa kukatakan apabila hati sudah berkata-kata inginkan tentangmu.
Hanya saja ada beberapa hal yang perlu kupastikan sebelum semuanya tanpa kepastian. Ada beberapa bertanyaan yang tidak ingin kutanyakan, tapi harus ada jawaban. Aku ingin bertanya padamu, hati. Kepada hati yang tak bisa diajak berkompromi. Kepada hati yang tidak pernah berhati-hati.
Apa yang kau ingin kepada seseorang yang memilih pergi? Bukankah kau sudah terluka karena ini. Sanggupkah kau menahannya lagi? Sanggupkah memberinya jalan untuk pergi dan memberi ruang untuk kembali? Seandainya dia meminta pergi dan tak ingin kembali padamu lagi. Sanggupkah kau menahan semua perasaan ini? Sanggupkah kau menahan seseorang yang tidak ingin bersamamu?
Hanya itu yang perlu aku tanyakan sebelum kau mengambil keputusan besar ini. Jika kamu sanggup, maka teruskanlah. Jika tidak, berhentilah mulai sekarang ini juga. Namun ingatlah, jika suatu hari nanti kau terluka lagi, jangan salahkan aku yang sudah memperingatimu. Dan jangan salahkan siapapun. Apalagi kepada seseorang yang tidak bisa bersamamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih Lama dari Selamanya
PoetrySEGERA BEREDAR DI GRAMEDIA Kukira kita lebih lama dari selamanya. Ternyata kita lebih cepat dari kecepatan. #1 Senandika (Desember 2019) #1 Senandika (Januari 2020) #1 Senandika (Februari 2020)
