Sebenarnya, masuk banyak lagi yang ingin kuceritakan tentangmu. Tentang rindu yang coba kita ramu. Tentang rasa yang pernah kita punya. Atau tentang cemburu yang pernah membuat kita tersenyum malu. Hanya saja, semakin aku coba mengingat tentang kita yang pernah ada. Semakin sulit juga untukku melupakannya.
Saat ini, terimalah seseorang yang ingin bersamamu. Mungkin itu cara terbaik menghapus resah yang pernah ada antara kita. Ikhlaskan saja, bahwa kita tak pernah ikhlas lagi untuk bersama. Relakan saja, apa yang tidak pernah rela untuk dilepaskan. Terkadang melepaskan cara terbaik untuk berdamai dengan perasaan.
Beranjaklah dari kisah-kisah kita yang sudah punah. Kita sudah menjadi sepasang percakapan dalam diam. Kisah kita telah menjadi bagian dongeng bisu yang terlupakan. Perasaan kita sudah jadi sepotong rindu yang berdebu. Tak ada lagi yang disisakan selain siksa. Dibangun kembali pun takkan mungkin rasanya. Cukupkan saja segala yang tak pernah cukup di antara kita. Akhiri saja yang memang sudah berakhir antara kita.
Hujanmu masih selalu sejuk di hatiku, tapi aku sekarang punya payung untuk bernaung. Senjamu masih teduh di langitku, tapi sekarang aku punya embun yang menghiasi pagiku. Ombakmu masih sering mengunjungi pantaiku, tapi aku sekarang punya telaga yang begitu bewarna.
Akan aku ingat selalu pantai kita, rumah kita, langit kita, dan awan kita. Mungkin suatu hari kita akan bernostalgia tentangnya. Tentang pantai kita yang pernah ada ombaknya. Tentang rumah kita yang pernah terisi oleh cerita. Tentang langit kita yang cantik bersama senjanya. Dan tentang awan-awan kita yang pernah menjatuhkan hujan dengan begitu lembutnya.
Kenanglah aku. Kenanglah kita. Kenanganlah tentang hal yang pernah kita bangun. Segala sesuatu yang pernah kita perjuangkan. Segala sesuatu yang pernah kita yakini. Sesuatu yang pernah kita bikin menjadi segala yang mungkin. Biarlah waktu berbicara dengan kehendaknya. Biarlah takdir bermain dengan kehadirannya.
Aku dan kamu sudah menjadi sepasang kisah yang patah. Aku dan kamu seumpama rindu tanpa temu. Biarkan saja seperti itu, bahwa kita pernah bertemu, bersama, dan berpisah. Selamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih Lama dari Selamanya
PoetrySEGERA BEREDAR DI GRAMEDIA Kukira kita lebih lama dari selamanya. Ternyata kita lebih cepat dari kecepatan. #1 Senandika (Desember 2019) #1 Senandika (Januari 2020) #1 Senandika (Februari 2020)
