Setelah begitu lama dalam bisu, akhirnya kita sampai pada waktu yang membeku. Kamu dan aku sesekali berjumpa, namun seperti tak pernah bersama. Aku dan kamu pernah sesekali bertemu, namun seperti tak pernah saling rindu. Kita pernah coba saling lihat, tapi tak pernah niat untuk bercakap.
Telah kita coba mencari jalan temu, namun yang dijumpai malah buntu. Sudah hilang akal rasanya mencoba agar tidak kehilangan. Tidak tahu lagi untuk bisa saling tahu isi hati. Padahal, tidak semua hubungan punya kesempatan kedua, apalagi saat kita mencoba yang ketiga. Mustahil rasanya. Kita memiliki kesempatan-kesempatan itu, tapi tercampakkan begitu saja.
Entah kenapa, kegagalan salalu datang pada kita. Padahal kita ingin baik-baik saja. Ingin membuat rasa yang sama. Ingin memberi keinginan yang sama. Bukankah indah jika begitu adanya. Aku inginkan kamu untuk di sisiku. Kamu juga begitu. Bukankah hal itu sebenarnya sederhana. Kenapa tidak pernah bisa terlaksana.
Kita sama-sama sadar bahwa tak mungkin lagi dipaksakan. Bersamamu, tak kurasakan lagi kebersamaan. Tanpamu, tak kurasakan lagi kehilangan. Apalah arti sebuah rasa yang coba diperjuangkan, namun akhirnya malah terbuang. Apalah arti semua tunggu yang semu, kemudian menjadi harapan palsu.
Aneh rasanya. Begitu mudahnya waktu berlalu, menghapus jejak-jejak yang pernah coba kita tapak. Padahal begitu lama untuk bisa bersama, tapi begitu singkat setelah bersama. Apa yang salah pada kita. Apakah perasaan yang membingungkan. Apakah hati yang kurang meyakini. Apakah rindu yang kurang merindui.
Aku seakan berada di antara rindu dan ragumu. Begitu yang kutangkap dari sorot matamu. Apa yang kamu lihat dariku hingga yang timbul ragu, bukan rindu. Bukankah sudah kukatakan apa yang tak pernah kukatakan, kecuali padamu. Bukankah sudah kuberikan apa yang tidak pernah kuberikan selain padamu. Apalagi kurangnya, sehingga rindumu selalu terhalang ragu.
Aku pernah coba memperbaiki sebisaku. Entah kamu sadari atau tidak. Aku pernah membuang kesempatan-kesempatan yang datang demi ingin bersamamu lagi. Namun kesempatan bersamamu tak pernah datang dan kesempatan yang lain menjadi hilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih Lama dari Selamanya
PoetrySEGERA BEREDAR DI GRAMEDIA Kukira kita lebih lama dari selamanya. Ternyata kita lebih cepat dari kecepatan. #1 Senandika (Desember 2019) #1 Senandika (Januari 2020) #1 Senandika (Februari 2020)
