Jika kau melihat apa yang kulihat, apakah kau juga bisa merasa apa yang kurasa. Bagaimana mungkin kenangan kita lenyap dalam pikiranmu begitu mudahnya. Bagaimana mungkin cerita kita berakhir tanpa ada pernah berkata-kata. Bukankah pertemuan kita adalah pertemuan alam semesta. Bukankah bintang kita adalah nebula yang paling istimewa. Bukankah galaksi kita adalah Andromeda yang sempurna.
Bagaimana mungkin sekarang kita berjarak ribuan cahaya. Terpisah dari mimpi-mimpi yang coba kita rasa. Mengatakan bahwa aku hanyalah memirkan egosentris semata. Bukankah sudah pernah kukata, bahwa kau adalah heliosentris-ku. Dimana semuanya mengorbit padamu. Dimana mimpi, kenangan, rasa, dan rindu akan selalu mengelilingimu. Bagaimana bisa kau melepaskan semua itu. Semua mimpi dan khayalan kita tentang semesta.
Bagaimana mungkin kita melupakan lengkungan cakrawala. Berdebat tentang titik zenit dan nadir pada suatu senja. Bercerita tentang titik tertinggi dan titik terendah dari kehidupan kita. Hingga percakapan kita mulai merujuk tentang titik terjauh jagat raya. Apakah yang ada di sana. Mungkinkah kita temukan hal-hal yang tidak ingin ditemukan. Mungkinkah kita menemukan hal-hal yang belum ditemukan.
Percakapan kita mulai menuju matahari. Bahwa matahari hanyalah salah satu bintang yang paling dekat dengan bumi. Bintang yang berukuran sedang dalam galaksi. Bahwa Matahari dilahirkan di nebula, tumbuh dewasa di galaksi, dan berakhir jadi supernova. Mati dan akan melahirkan bintang-bintang baru.
Percakapan kita berlanjut menuju Andromeda. Galaksi yang diperkirakan akan menabrak galaksi Bima Sakti dimana Bumi berada. Kita coba temukan Andromeda di langit kita. Mencoba menerka seberapa jauhkah Andromeda dengan tata surya.
Percakapan kita mulai turun ke bumi. Tempat dimana kita berdiri. Menatap semesta yang terbentang dalam diam. Mencoba membayangkan seberapa kecilnya bumi manusia. Dan membayangkan betapa lebih kecilnya lagi manusia penghuninya.
Percakapan itu berakhir dengan bahasan tentang kita. Kita yang tak pernah ada apa-apanya di alam semesta. Seberapa debunya manusia di semesta Sang Maha Pencipta. Seberapa kecilnya manusia dibandingkan galaksi di angkasa sana. Dan seberapa kecilnya lagi kita berdua dibandingkan semua yang ada di dunia.
ӷ�]���
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih Lama dari Selamanya
PoesiaSEGERA BEREDAR DI GRAMEDIA Kukira kita lebih lama dari selamanya. Ternyata kita lebih cepat dari kecepatan. #1 Senandika (Desember 2019) #1 Senandika (Januari 2020) #1 Senandika (Februari 2020)
