DELAPANBELAS

193 4 0
                                        

Pada malam kepergianmu, aku sudah menebak secara pasti apa yang akan terjadi. Aku berharap tidak pada sebuah kata tolak. Berharap mungkin pada kata ingin. Hanya saja firasatku akan benar kali ini. Aku mendatangi kepergianmu, sementara kamu berkemas-kemas untuk menempati hati yang baru.

Aku melihatmu dari kejauhan. Aku terlambat, dan lebih terlambat lagi soal perasaan. Kamu menungguku untuk mengucapkan kata pisah. Menantiku untuk mengatakan maaf. Aku berjalan menujumu untuk terakhir kalinya. Kupotong jarak yang semakin berjarak. Kuredam rasa yang semakin tak berasa.

Aku menatapmu dan aku tahu kamu sudah berbeda. Ada bagian dirimu yang hilang yang tidak kutemui lagi. Aku mendekatimu, tapi aku tahu dirimu sudah bukan di dekatku lagi. Ada sekat yang membuatku tak bisa mendekat. Ada ruang hampa di antara kita yang tak bisa kulakukan apa-apa.

Kamu tersenyum, tapi itu bukan senyuman, jelas sekali itu perpisahan. Aku duduk dan kamu memberiku jarak. Aku tersenyum dan kamu hanya menatapku. Aku termenung dan kamu mulai membuka awalan kata pisah. Aku tak ingin, tapi kamu mau. Aku tak suka, tapi kamu paksa. Aku memintamu kembali, tapi kamu telah begitu jauh pergi. Aku meminta satu kesempatan. Kamu hanya diam. Aku meminta sebuah keinginan. Kamu hanya bungkam. Aku meminta satu harapan. Kamu hanya diam. Aku bilang salah, kamu akhiri kata sudah.

Ternyata aku sudah kehilanganmu sejak lama. Dan aku masih saja merasa memilikimu. Kamu sudah mulai berkemas-kemas sejak dahulu, dan aku masih saja beranggapan kamu masih betah di sisiku. Aku bodoh dan dungu. Tuli dan buta. Bisu dan mati rasa.

Kamu meminta maaf, tapi kata-katamu bukan kata maaf. Kamu ingin aku baik-baik saja. Apa yang baik-baik saja dari kata pisah. Kamu ingin aku menerima. Apa yang kuterima setelah kuberikan semuanya. Kamu ingin aku tabah. Ada yang lebih tabah dari hati yang patah.

Seseorang telah membawamu dari sisiku. Kamu mengakui semua itu. Seseorang sedang menertawakanku. Aku terima kosekuensi itu. Kamu beranjak dengan mencium punggung tanganku. Aku hanya termenung sambil menyaksikan kepergianmu dalam heningku.

Lebih Lama dari SelamanyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang