ENAMBELAS

186 5 0
                                        

Kamu masih saja larut di sunyiku. Kamu tetap saja embun di pagiku. Kamu masih saja khayalan di duniaku. Entah sampai kapan aku terperangkap dalam ilusi ini. Mencoba menjadikan kita sepasang kisah yang indah. Menjadikanmu seperti yang aku mau, dan menjadikan diriku semaumu.

Entah berapa kali kutulis kata, membuat kisah kita menjadi sempurna. Entah berapa kali kutulis prosa, menghadirkan kisah kita yang menggelora. Kenyatannya, kisah kita tak ada apa-apanya. Hanya bayangan-bayangan egois yang coba aku tulis. Kadang aku marah dengan pikiranku sendiri. Kenapa aku berandai-andai kepada sesuatu yang takkan pernah sampai. Kenapa aku berkhayal pada sesuatu yang takkan jadi kenyataan.

Sudah saja. Cukupi saja. Berakhir berarti berakhir. Jangan buat lagi kisah-kisah indah. Jangan membuat lagi cerita-cerita yang tidak mungkin. Hanya saja, logika dan hatiku selalu tak pernah sama. Logika berkata jangan, tapi hati berkata ingin. Kamu malah menjadi angan yang aku ingin.

Sering aku mengatakan bahwa aku memiliki kisah yang sempurna. Sebagaimana mereka punya. Ingin sekali kulukis sebuah cerita, dimana kita sepasang bahagia. Sepasang kehidupan yang sempurna. Hanya saja, semua hanya rekaan belaka. Kisah kita tidak ada apa-apanya. Hanya kisah patah yang sudah.

Pernah kucoba menjadikanmu pergi yang manis. Mencoba mengerti, pergi tak selalu tentang sakit hati. Pernah kuyakini, pergimu bukanlah hal yang berarti. Hanya saja, kebaikan apa yang kuraih dari kata pergi. Kesempurnaan apa yang coba aku titipkan dari kehilangan. Kenyatan selalu menghantamku pada pernyataan, bahwa kamu dan aku selalu menjadi sepasang kisah yang punah.

Pasti kamu tak pernah tahu itu, karena yang kamu tahu bahwa aku adalah sebuah tembok yang tak pernah runtuh lagi padamu. Memang benar. Aku tak mau kembalimu. Tapi aku selalu berkhayal tentang keindahanmu.

Aku seperti gila, saat aku sadarimu bahwa aku tak mau hadirmu secara nyata, tapi aku butuh dirimu dalam dunia fana. Kembalimu meresahkanku, tapi imajinasi tentangmu menenangkanku. Kembalimu adalah kehancuranku, tapi imajinasi tentangmu adalah keutuhanku. Dalam imajinasiku kau hidup, tapi dalam nyataku kau redup. Dalam mimpiku kau begitu nyata, tapi dalam nyataku kau seperti mimpi.

Aku tak tahu bagaimana bisa itu terjadi. Aku selalu berkhayal masa-masa indah sebelum kita bersama. Sebelum perasaan kita menjadi begitu tak berasa. Masa-masa dimana kamu adalah rahasia dari sebuah rasa. Waktu dimana senyumanmu adalah pulang yang paling aku tunggu. Dimana kamu adalah rindu favoritku. Kamu masih ingat itu?

Lebih Lama dari SelamanyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang