Kamu bagaikan ledakan Big Bang di awal pembentukan alam semesta. Laksana superatom berbentuk bola kecil yang semakin lama semakin padat dan memanas kemudian meledak memuntahkan seluruh isinya. Menjadi nebula. Menjadi bintang. Menjadi kumpulan bintang. Menjadi galaksi. Dan akhirnya menjadi dirimu.
Kamu selalu membuatku sulit bernapas bila berada di dekatmu, seakan bukan hanya oksigen saja yang kuhirup, tetapi nitrogen, karbondioksida, ozon, dan hidrogen juga masuk dalam diriku. Seakan udara di sekeliling terasa berat seperti beratnya aku tuk melangkah senja itu. Ketika diam-diam matahari menatapku dan bertanya kemantapan hatiku.
Aku memohon di senja yang biasa itu. Harapan kecil di tengah semesta yang maha luas. Harapan yang terombang-ambing dalam samudera biru tak bertepi. Entah karam. Entah terhempas. Entah terabaikan. Entah hancur. Harapanku ingin dirimu. Inginkan kamu berada di sisiku untuk kuceritakan kisah-kisah yang pernah kulalui. Inginkan kamu menyeduh secangkir teh hangat dikala aku mengigil di tengah dinginnya dunia. Inginkan kamu menguatkanku walaupun seluruh dunia mencoba melemahkanku.
Sederhana. Sesederhana perasaan yang diungkapan para pujanggga. Seperti kata Kahlil Gibran, aku ingin mencintainya dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintainya dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Hanya saja perihal rasa tidak sesederhana yang terlihat. Perihal perasaan tidak semudah yang dibayangkan. Begitu banyak hal yang terjadi dalam waktu bersamaan. Begitu banyak pertanyaan tanpa adanya jawaban. Begitu banyak harapan yang karam sebelum berlayar. Begitu banyak lagi bagian-bagian kosong yang tidak pada posisinya. Begitu banyak dari sekian banyak yang ingin diuraikan satu persatu. Lebih banyak dan akan selalu semakin banyak lagi apa yang akan terjadi dikemudian hari.
Kurentangkan hati sejauh bayang-bayang diri. Kulipat itkidad sedalam-dalam lautan. Pada akhirnya apa yang seharusnya kugenggam memang sepantasnya begitu. Apa yang kurelakan memang sewajarnya harus dilakukan. Apa yang kurela memang sebaiknya itu yang terbaik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih Lama dari Selamanya
PoesiaSEGERA BEREDAR DI GRAMEDIA Kukira kita lebih lama dari selamanya. Ternyata kita lebih cepat dari kecepatan. #1 Senandika (Desember 2019) #1 Senandika (Januari 2020) #1 Senandika (Februari 2020)
