Aku dan dia hanyalah sepasang teman di perjalanan. Mencoba mengisi bosan dengan sebuah percakapan. Mencoba mencari ruang hampa untuk saling berbicara. Setelah sampai di tujuan, mungkin kami akan berpisah dan takkan bertemu lagi. Jika di lain waktu dan kesempatan kita bertemu , mungkin aku jadi orang asing yang tak dikenali.
Kupikir, awalnya seperti itu. Nyatanya, banyak kejadian-kajadian tak terduga sepanjang jalan yang ditempuh. Begitu banyak pemandangan-pemandangan yang tidak pernah terlihat sebelumnya yang begitu menakjubkan. Begitu banyak cerita-cerita yang belum pernah kudengar perihal rasa dan luka.
Entah aku yang terpedaya, atau dia yang terlalu memesona. Setelah itu sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Sebagaimana alam memiliki kerjanya sendiri. Seperti angin yang tak pernah kembali ke tempat ia berasal. Seperti awan yang tak pernah meminta hujan untuk meninggalkannya. Seperti laut yang tak pernah menolak air yang menujunya. Seperti dia yang hadir di hari-hariku kemudian menetap berhari-hari.
Begitu cepatnya dia menjadi sesuatu yang belum aku sadari. Secepat hujan yang mengembun di tepi jendela. Secepat cahaya turun menyindari dunia. Secepat awan yang meluruh menjadi embun.
Aku pikir, awalnya karena terlalu memendam rindu, hingga kucoba temukan sesuatu yang mirip denganmu pada dirinya. Kukira, dia hanyalah sesuatu yang mencoba untuk mengisi kosong di hari-hariku, kemudian melupakannya setelah tahu tidak sebegitu menarik dirimu.
Aku salah besar. Aku terlalu percaya bahwa hatiku tetaplah tembok kokoh yang takkan pernah runtuh. Aku terlalu sombong bahwa takkan ada yang bisa menerobosnya dengan sesuatu yang sangat sederhana. Aku terlalu percaya terhadap sesuatu yang tidak bisa dilihat secara nyata. Ada sesuatu yang hanya bisa dirasa tanpa bisa ditangkap oleh mata.
Tahu-tahu dia sudah menjadi sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Menolaknya saja rasanya tidak cukup, aku juga merindukannya sekaligus. Menyangkalnya saja rasanya tidak cukup, aku juga menginginkannya sekaligus. Membantahnya saja rasanya tidak cukup, aku juga mendampakannya sekaligus. Ini sesuatu yang gila.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih Lama dari Selamanya
PoezieSEGERA BEREDAR DI GRAMEDIA Kukira kita lebih lama dari selamanya. Ternyata kita lebih cepat dari kecepatan. #1 Senandika (Desember 2019) #1 Senandika (Januari 2020) #1 Senandika (Februari 2020)
