Hari-hariku begitu tenang dan damai, seperti awan-awan yang melintas di puncak kepala, seperti hujan yang jatuh dimana saja, seperti dandelion yang terbang kemana angin membawa. Aku sudah berhasil melupakan hal-hal yang tidak menghasilkan apa-apa. Aku berhasil pergi pada sesuatu yang akan memenjarakanku di kemudian hari. Aku kembali pada tempat yang seharusnya aku berada. Berada di tahap dimana kita tak mengenal apa-apa.
Menyenangkan, melakukan hal-hal yang disuka tanpa mengkhawatirkan apapun lagi. Apalagi saat mengkhawatirkan tangisnya yang sering jatuh tanpa kutahu alasannya. Mengkhawatirkan malam-malam yang penuh dengan pertentangan. Mengkhawatirkan senyumannya yang semakin redup setiap harinya. Mengkhawatirkan sesuatu yang tak pantas aku khawatirkan.
Terkadang, selama beberapa saat aku masih memikirkan tentang dirinya. Tentang pesan yang tak pernah kubuka. Tentang panggil yang tak pernah terjawab. Tentang tatap yang tak pernah terbalas. Tentang kepergianku tanpa kabar yang pasti.
Aku hanya berharap dia baik-baik saja. Pergiku bukanlah apa-apa. Hanya antisipasi terhadap diri. Hanya imunasi terhadap hati. Aku bukan menjauh karena benci, apalagi karena sakit hati. Aku menjauh untuk menyelamatkan hati. Biarkan ketenanganku tetap menjadi seorang diri, jangan kamu temani.
Sejak awal, kita memang tidak seharusnya begitu dekat. Sejak pertama, seharusnya kita tidak saling mencoba mengeja kata. Sejak dahulu, seharusnya kita tak pernah saling tahu-menahu. Menjadi salah sangka bila dipandang orang-orang. Menjadi sesuatu yang beda jika hanya dipandang sekilas saja.
Milik orang lain tetaplah milik orang lain bagaimanapun disia-siakan. Hal-hal yang terikat tetaplah mengikat, walau bagaimanapun dibebaskan. Sesuatu yang dilarang memanglah terlarang, meskipun ada keinginan untuk memiliki.
Beruntung aku cepat sadar disaat berpijak pada hal yang tak benar. Berhasil menarik diri disaat perasaan mulai tak terkendali. Jika terlambat sedikit saja, mungkin semua menjadi kacau. Sering hati tak bisa berkompromi disaat-saat seperti ini. Sering logika terbaikan begitu saja saat menyangkut soal rasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih Lama dari Selamanya
PoetrySEGERA BEREDAR DI GRAMEDIA Kukira kita lebih lama dari selamanya. Ternyata kita lebih cepat dari kecepatan. #1 Senandika (Desember 2019) #1 Senandika (Januari 2020) #1 Senandika (Februari 2020)
