TUJUH

164 10 0
                                        


Bagiku, hal yang paling tak bisa dilupakan adalah masa-masa ketika kita membangun hubungan. Masa-masa pendekatan. Masa ketika aku benar-benar terasa diinginkan dan dibutuhkan. Masa dimana tertawa benar-benar tertawa, bukan menembunyikan apa-apa. Masa dimana marahmu benar-benar marah, bukan hanya sekadar pelampiasan.

Aku ingin mengenalmu lebih dari sekadar nama. Ingin memahami lebih dari sekadar kata. Coba menerka apa yang kamu rasa. Mencoba hilangkan jarak diantara kita. Walaupun sebelumnya aku sempat menolak rasa, akhirnya aku candu juga akan hadirnya. Walaupun sebelumnya aku menolak rindu, akhirnya hadirmu yang selalu kutunggu.

Aku suka tawamu yang waktu itu. Aku suka senyummu yang menatapku begitu. Aku suka mendengar suaramu setiap kali memanggil namamu. Aku merindukan masa-masa itu. Saat aku dan kamu begitu sederhana. Saat aku dan kamu menatap saling percaya. Mengingatkan kala lupa. Dan pura-pura lupa ketika diingatkan. Memarahi ketika salah. Dan pura-pura marah biar tak disalahkan.

Bagiku, kehadiranmu bagaikan ombak bagi perahu sunyiku. Pagi terindahku pada lamunan terdalam. Angin dingin yang membuatku selalu ingin. Rindu yang selalu meminta candu. Pulang yang selalu ingin kukenang.

Masa-masa terbaik berlalu dengan baik. Masa-masa selanjutnya adalah bagian-bagian ujian kita. Ketika kehadiran-kehadiran yang tak diminta datang begitu saja. Orang-orang yang mengusik selalu datang dengan niat tak baik. Semua terasa mulai berbeda. Pagiku mulai kacau. Siangku bagaikan batu. Malamku penuh dengan terka. Pada akhirnya aku paham, semakin banyak aku memiliki rasa, maka semakin banyak ketakutan hadir bersamanya. Semakin kuat untukku berbuat, maka semakin banyak diantara kita yang merentangkan sekat.

Setelahnya, kamu tak lagi sama. Kita menjadi berbeda. Mungkin aku yang terlalu dingin atau kamu yang terlalu bisu. Mungkin aku yang kurang peduli atau kamu yang memang tak peduli. Akhirnya kita bisa memahami walaupun sempat saling mengerti.

Ibarat kata, sebelum sedingin lautan lepas, kita pernah sehangat napas. Sebelum sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi. Kau dan aku kini berbeda. Kita tak lagi sama, baik dalam rasa maupun dalam duka.

Lebih Lama dari SelamanyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang