27 - Rumit

2.3K 156 0
                                    

Cewek itu kembali memeriksa barang belanjaan di troli, kemudian kembali menatap kertas yang sudah diisi dengan coretan daftar belanjaannya. Seluruh anggota tubuhnya hanya terfokus untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan berbelanja kebutuhan rumahnya, sedangkan, cowok yang bergerak dengan gelisah disampingnya sambil membawa troli itu tak ia pedulikan.

Vany hanya terus menelusuri rak-rak disana tanpa mengacuhkan Jo yang sudah tak dapat diam ditempatnya.

Cowok itu sesekali berdecak kemudian melihat pada jam tangan. Dan jangan lupakan kalimatnya yang menyuruh Vany belanja lebih cepat agar tidak perlu pulang kemalaman.

Vany hanya bergumam menanggapinya. Kadang, ia akan menjawab, "Sebentar lagi" yang entah untuk keberapa kalinya.

Vany tidak peduli. Yang pasti, ia hanya harus mengikat Jo.

Harus membuat Jo selalu berada disisinya.

Jo menghela napas panjang dan berlebihan. "Berapa lama lagi sih, kita disini?"

"Sebentar lagi."

Jawaban yang sama, dan Jo kembali menghela napas panjang. "Belanja apa lagi?"

Vany kembali melirik pada troli, kemudian melihat daftar belanjaannya. "Hmm, kayaknya gue butuh selai coklat."

Mulut Jo sontak menganga tak percaya mendengar perkataan Vany. "Selai?! Tadi kan kita udah ke rak buat perlengkapan roti, Van! Lo bilang tadi udah gak ada! Dan sekarang, lo mau kita balik kesana lagi?!"

Vany berdecak. Cewek itu menatap Jo dengan tatapan kesalnya. "Tinggal ikutin aja, apa salahnya, sih?!" pekiknya dengan kesal, kemudian meninggalkan Jo dan troli yang ada digenggaman cowok itu.

Vany sempat mendengar Jo berkata, "Sabarkan Jo Ya Allah," dan kemudian ia dapat mendengar langkah cowok itu juga suara roda troli yang didorong.

Vany hanya menyeringai. Semoga rencananya berhasil.

♬ ♬ ♬

Jo membenci dua hal. Pertama adalah; benci karna menyakiti Vany. Kedua adalah; benci karna tidak dapat membahagiakan Vany.

Jo paling tidak bisa melihat Vany menangis. Ia bukan cowok yang dapat menghibur pacarnya, dan hanya dapat menghapus air mata perempuan yang ia jaga. Jo bukan tipe cowok yang akan membuat seorang perempuan tenang disisinya, namun Jo adalah cowok yang dapat memeluk orang yang ia sayangi agar mendapat sedikit kekuatan.

Jo bukan cowok romantis.

Dia bukan cowok yang pandai merangkai kata yang indah.

Jo hanya tahu sepercik tentang perempuan.

Dan setiap perempuan yang ia temui tak sama.

Namun, kali ini, Jo sangat bingung dengan sifat Vany yang sesungguhnya.

Pertama, Vany adalah tipe yang cuek. Seperti saat cewek itu berhubungan dengan Jo, Vany tak meminta status. Ia hanya meminta agar Jo selalu ada untuk menjaga Vany. Dan jika Vany sudah mengetahui jika Jo mencintainya, Vany seolah percaya saja.

Cewek itu bahkan tidak curiga sama sekali dengan motif dibalik kata cinta milik Jo.

Memang sih tidak ada motif lain dibalik kata cinta dari Jo. Dan karna hal itulah, Jo harus menjauhi Vany.

Namun, takdir seolah tidak membolehkannya.

Setelah disuruh menemani belanja ini-itu di hypermart, Vany menyuruh Jo membereskan tataan rumahnya.

Sebenarnya, Vany tidak menyuruh. Cewek itu hanya memaksa dengan halus. Dengan wajah memelasnya, Vany bekata, "Jo, ini kan udah malem, trus, gue abis belanja banyak dan capek, tapi, gue harus beresin rumah. Lo mau gak bantuin gue?"

Dengan terpaksa dan takut penyakit asma Vany kambuh, Jo hanya menghela napas panjang sambil mengangguk.

Dan sisinilah Jo saat ini. Menyeret perabotan demi perabotan yang ada dirumah Vany.

Cewek itu hanya bersidekap dada dengan jari telunjuk yang menekan dagu. Matanya memperhatikan sekitaran ruang tamu. "Hmm, kayaknya, kalo disana keliatannya gak banget, deh. Coba pindahin lagi ke kanan!"

Jo yang masih terengah hanya dapat menghela napas panjang dan berlebihan. Cowok itu kemudian kembali membungkuk dan menyimpan kedua tangannya disisi sofa. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya yang ada, ia mendorong sofa yang cukup untuk 2 orang itu. Sofa itu terseret, dan bergeser sampai pada tujuan yang diinginkan pendorongnya. Jo kemudian berhenti dengan napas terengah.

Senyum sumringah tercetak diwajah Vany. Cewek itu kemudian menepuk kedua tangannya satu kali dengan matanya yang berbinar senang. "Sip! Ini baru bagus!"

Jo menegakkan berdirinya, kemudian mundur beberapa langkah, mencoba melihat hasil pekerjaannya. Menyadari sesuatu, Jo memincingkan matanya pada sofa tersebut, kemudian pada Vany. "Lo ngerjain gue?"

Vany hanya mengangkat sebelah alisnya, kemudian menggeleng. "Iya," katanya, bertolak belakang dengan gelengan cewek itu. "Gue kan tadi minta tolong sama lo."

Jo menghela napas panjang. "Van, sofa itu ada ditempat sebelum didorong tadi! Kursi itu ada ditempat semula nya!"

Vany mengerutkan alis. Cewek itu kemudian memincingkan matanya pada sofa tersebut. "Enggak ih, Jo! Beda dua meter, ah!"

Mulut Jo menganga setengah, tidak percaya dengan apa yang Vany katakan. "Ta-" Jo tergugu. Cowok itu menutup mulutnya, kemudian membuka mulutnya lagi. Menutupnya kembali, dan membukanya lagi. Jo pun berdecak. "Terserah!"

Vany hanya mencibir sebentar, kemudian berjalan melewati Jo.

Dari tempatnya berdiri, Jo dapat mendengar Vany menggerutu tentangnya.

Jo menghela napas panjang. Cowok itu kemudian melirik jam tangannya, dan menghela napas panjang saat jarum jam sudah menunjukan pukul 12.54. Jo memejamkan matanya, kemudian menghela napas panjang. "Gue terlambat."

Dan ia, harus siap dibenci dan dihidari oleh Vany. Lagi.

Apa persatuan air dan minyak harus serumit ini?

JoVan [BADASS #2] [PROSES PENERBITAN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang