Chapter : Seven

144 6 0
                                    

Claire tidak habis pikir. Kalau Duke mengetahuinya tentu saja Duke takkan memaafkannya. Dia seharusnya lebih waspada pada Clara. Jika dia tidak mabuk maka semua ini takkan terjadi. Sekali lagi Claire mengatakan pada dirinya sendiri

Kau mabuk dan semua itu tidak sengaja terjadi. Ini hanya kecelakaan semua orang dapat mengalami kecelakaan perlu kau ingat hati Duke tidak ada namamu dan takkan pernah ada. Jadi, jangan terlalu di pikirkan. Semua akan baik baik saja.

Claire menyelimuti Clara sebelum dia pergi dari kamar Clara.

Dua hari Duke tidak menemui Clara. Pikirannya kacau balau. Sebuah jam tangan merek Seiko masih dalam genggamannya. Jelas sekali kalau terukir nama Claire Wesley di jam tangan itu. Jam ini tanpa sengaja dia dapatkan di samping tempat tidurnya di hotel dua hari yang lalu. Apakah Claire tidak menyadari dia kehilangan jam tangan ini? Duke terlalu mabuk untuk mengingat kejadian malam itu tapi Duke takkan melupakan aroma mawar. Seakan sangat melekat di pernafasannya. Duke bingung apakah dia harus mengembalikan jam tangan ini atau mengabaikannya.  Seharusnya dia marah, emosi, atau menghukum wanita itu karena mencakar punggung belakangnya..
Tapi, entah kenapa Duke tidak memiliki amarah yang meluap luap seperti dulu. Malah sebaliknya Duke
Merasa terpuaskan.
Kepuasan yang tak pernah dia dapatkan. Bagaimana Claire membelainya, memberikan rangsangan dan...menciumi setiap sendi tubuhnya. Semua hal intim ini membangunkan  gejolak didalam benak Duke hanya dengan memikirkannya saja.

Dulu Claire pernah menjebaknya. Seharusnya dia sudah pernah tidur dengan Claire. Tapi kenapa rasanya sangat berbeda. Duke mengingat kalau di seperei terdapat bercak merah darah walau hanya setitik. Apakah Claire masih perawan saat menjebaknya? Apakah saat itu sungguh Claire tidak melakukan apapun? Bisa saja Claire berbohong. Bisa saja dia melakukannya demi Clara. Bagaimana mungkin Claire akan begitu bodoh menyerahkan sesuatu yang berharga padanya begitu saja.  Kembali Duke berbaring di atas kasurnya. Memandang jam tangan di hadapannya yang sedang menunjukan jam 3 siang.

Claire mengutak-atik  seluruh laci di kamarnya. Dia tidak menemukan jam tangan pemberian Tante Fiona di hari ulang tahunnya yang ke 17 dulu. Jam tangan Seiko itu di beli dengan gaji pertama sang tante. Bagaimana Claire begitu ceroboh bisa menghilangkan jam tangan berharga itu. Padahal jam tangan itu sudah rusak berkali kali dan juga di perbaiki ke sekian kali. Claire sangat menyayangi jam tangan itu. Walau hanya jam usang yang ketinggalan jaman tapi sangat berharga bagi Claire. Sekarang jam tangan itu tidak di temukan di manapun. Di laci apartemen, kantor, bahkan di kamarnya di kediaman Mchandy. Dia sudah mencarinya kemana mana. Dia bahkan bertanya pada beberapa pelayan rumah tapi tak ada yang melihat jam tangan itu. Apakah jam tangan itu terjatuh saat dia mengejar Jacob di hutan?
Akhirnya Claire menyerah. Dia terlentang lemas diatas kasurnya sambil menatap ke arah langit langit kamar. Dulu, kamar miliknya selalu penuh dengan kertas kertas kupu kupu yang dia gantung di langit langit. Sekarang kamar itu terlihat bersih. Tidak ada lagi kertas kupu kupu atau stiker yang menempel. Make up nya juga tak banyak. Tidak seperti dulu dia kolektor barang make up satu laci penuh. Sekarang di atas meja rias hanya beberapa botol perawatan wajah. Di cermin selalu penuh dengan foto kenangan bersama Clara dan Duke. Sekarang semua foto itu sudah hilang. Dia tidak membuangnya dia simpan di dalam kotak kayu dan di tanam di tanah dekat pohon beringin di belakang panti asuhan dulu dia di pungut.
Gaun gaun indah miliknya sudah dia berikan kepada beberapa pelayan
Sekarang di lemarinya hanya ada beberapa setelan jas kemeja, celana dan dasi. Serta beberapa senjata untuk melindungi diri dan jas anti peluru. Sepanjang liburan dia sering menghabiskan waktu di rumah sakit dan kadang membantu beberapa pelayan membersihkan rumah dan memasak.dan jika ada waktu luang dia pergi melatih bela diri bersama beberapa kolega.
Pikirannya tersadar ketika ada telepon berdering di saku jasnya.

" Hallo."

" Apakah ini keluarga pasien Fiona Wesley? Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan kalau pasien sudah sadar. Harap keluarga yang bersangkutan bisa datang."

" Benarkah?" Claire kembali menegakkan tubuhnya dari baringan

" Terima kasih dokter saya akan segera kesana." Dengan senang hati Claire menarik Clara dari kamar wanita itu untuk menemaninya ke rumah sakit.

Di rumah sakit semua infus dan alat alat di cabut dari tubuh Fiona. Wanita itu telah sadar. Namun kata dokter memory Tante belum begitu bekerja dengan baik.

Wanita itu menatap ke arah Claire. Dengan susah payah akhirnya Fiona mengeluarkan satu kata
" Claire."

Mendengar sang tante dapat memanggilnya. Hati claire terharu. Air mata membasahi pelipis Claire

" Syukurlah Tante... Syukurlah kau sadar..." Claire menggenggam jemari sang tante dan terisak di sana.

Ini pertama kalinya Clara dapat melihat dua bola mata Fiona Selama sekian tahun.

" Tante Fiona terima kasih sudah sadar."

" Nona Clara." Panggil Fiona dengan suara yang masih parau. " Terima kasih atas penjagaan anda selama ini."

" Kita adalah keluarga. Sudah sepatutnya keluarga saling membantu. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Clara

Fiona melirik Claire yang masih terisak " masih sedikit pusing. Kakiku belum bisa ku gerakkan dengan baik."
" Itu biasa pasien Fiona. Kami akan memberikan anda kursi roda. Kami masih harus memberikan terapi setiap seminggu sekali pada kaki anda agar bisa berjalan normal kembali. Kelamaan tertidur membuat saraf saraf otot anda menegang. Anda perlu latihan agar otot anda kembali kendor." Potong sang dokter melakukan check di sekitar jantung dan paru paru lalu memberikan resep obat pada Clara untuk di tebus.
Setelah mengucapkan terima kasih sang dokter pun pergi untuk mengecek pasien lainnya.

Fiona menatap Claire. Wanita itu masih terisak.
" Berhentilah menangis bukankah kata dokter aku baik saja." Fiona menunjukan seulas senyum pada Claire. Sejak itu dia berhenti terisak.

" Maafkan aku Tante... Aku minta maaf."

" Semua sudah berlalu lama untuk apa kau sesali. Yang penting sekarang kulihat dirimu telah berubah."

Claire memaksa senyum  " bagaimana penampilanku sekarang Tante?"

" Sangat hebat sayang. Kau sangat keren. Kau mirip tokoh di film James Bond "

" Terima kasih Tante masih mau mengakuiku."

" Kau bicara apa. Sampai kapanpun kau adalah putriku dan tetap akan jadi putriku. Walau bukan ikatan darah tapi aku sangat menyayangimu."

Claire memeluk tantenya. Itu membuat Clara juga ikut melepaskan rindu. Mereka bertiga akhirnya berpelukan bersama.

Falling For My SurrenderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang