Claire menerima perlakuan khusus karena sebelah tangannya di gips. Duke memperlakukan Claire dengan sangat lembut lain dari biasanya.
Jika seperti ini terus bisa bisa perasaanku kembali terpikat olehnya.
Tutur Claire dalam hati.
"Claire jangan lupa makan obatmu yang sudah ku taruh di atas meja dekat sofa. Terus jangan lupa agar tidak joging selama beberapa hari ini." Ucap Duke yang sedang melipat dasi di depan cermin.
" Kau tak usah khawatir karena aku pasti bisa berbaur baik dengan Nicholas. Dia tak kalah hebat denganmu bukan?" Tanya Duke melirik Claire yang sedang duduk di atas ranjang di depan cermin." Yah dia yang terbaik." Jawab Claire seadanya. Dia tidak mengerti sejak kapan Duke jadi begitu banyak bicara belakangan ini. Sejak Claire cedera, Nicholas di utus Janet menggantikan dirinya sementara mengawal Duke. Jadi, claire bisa memakai sedikit waktu senggang untuk menemui dokter Emily. Banyak hal yang ingin Claire tanyakan padanya.
Begitu Duke merasa dirinya sudah rapi. Dia menghampiri Claire sejenak lalu memberi kecupan di keningnya
Sedikit membuat Claire menengadah memandang heran" Aku akan ke kantor sekarang. Aku berjanji aku akan pulang lebih cepat malam ini. Mengenai makan malam aku sudah meminta koki rumahku mengantarnya jadi kau tak usah masak" Duke memperingatkan. Berat bagi Duke meninggalkan Claire sendirian di apartemen. Tapi dia terpaksa melakukannya. Dia tak ingin mengecewakan keluarganya apalagi Claire. Karena Claire selalu memintanya hadir ke kantor setiap hari.
" Baiklah aku pergi dulu. Ingat telepon kalau kau ingin menitip sesuatu."
" Duke waktumu sudah telat." Peringat Claire.
" Ok..." Duke segera bergegas keluar dari pintu dan tertutup setelahnya
Melihat Duke pergi lega bagi Claire. Setidaknya jantungnya tidak berdetak hebat lagi. Dia bingung sejak kapan Duke menjadi ahli menyediakan sarapan, mencuci piring, merapikan ruangan, dan bahkan selalu tepat waktu menyuruh Claire minum obat. Seingatnya dulu Duke seorang pria pemalas, manja dan hanya bergantung pada orang rumahnya. Claire melirik ke jendela melihat Duke berlalu dengan mobil. Dia segera bergegas menuju keluar. Jika dia tak di gips dia akan memakai kereta bawah tanah tapi karena dia digips dia mengambil taxi saja.
Begitu sampai di depan meja berhadapan dengan wanita berusia 35 tahun itu, wanita itu menurunkan sedikit kacamatanya agar dapat dengan jeli mengenali siapa pasiennya.
" Oh kau Claire." Sapa Emily " ada urusan apa kau mencariku?" Emily masih sibuk memainkan pen di atas laporan miliknya.
" Aku berharap kau bisa mengecek kondisiku."
Emily berhenti menulis. Menatap pada mata Claire. Mengingat seberapa jauh terakhir dia menganalisis Claire. Terakhir dia ingat. Claire sudah sembuh. Kalau tidak salah ada bekas laporan kesembuhan di laci belakang mejanya.
" Memangnya kau ada keluhan apa?"
Tanya Emily memastikan" Terakhir kau bilang aku sudah sembuh tapi kenapa belakangan ini aku masih mengalami mimpi buruk? Apa itu ada kaitannya dengan kedekatan ku kembali dengan Duke?"
" Kau berhubungan dengan Duke lagi? Bukankah kau terakhir bilang kalau kau pergi keluar negri?"
" Aku kembali karena pekerjaanku."
" Bisa kau ceritakan apa pekerjaanmu sekarang?"
" Aku bekerja di kepolisian. Aku terlibat dengan Duke karena aku di tugaskan menjadi pengawal pribadinya. Kami memiliki masalah criminal yang sama."
” bisa ku mengerti hal itu. Pasti sangat sulit bagimu. Baiklah. Tidurlah di sana. Aku akan mengecekmu." Emily membawa claire ke ranjang empuk kliniknya.
" Aku akan menghipnotis mu. Usahakan kau tidur setenang mungkin."

KAMU SEDANG MEMBACA
Falling For My Surrender
De TodoSetelah di usir dan di ceraikan secara paksa oleh suaminya, Claire wesley di tarik bekerja oleh kakaknya janet sebagai agen rahasia. Sebagai seorang agen handal claire harus menjalani latihan militer yang keras. Lima tahun kemudian, claire wesley ke...