Chapter: Thirty Two

105 3 0
                                    

Claire menatap pada jalanan yang terlewati bermil mil jauhnya. Claire membelai perutnya. Sungguh sebuah keajaiban merasakan kehidupan terdapat disana. Terasa menyedihkan kalau melihat anak ini besar tanpa kehadiran sosok seorang ayah. Tapi inilah resiko yang harus dia ambil. Walau anak ini mendadak ada di dalam tubuhnya tanpa rencana sekalipun. Dia harus bisa menerimanya. Mungkin inilah namanya takdir. Takdir selalu mempermaikan manusia bukan?

"kau tampak risau apa ada masalah?" yuta memulai pembicaraan karena merasa ada yang aneh dengan kediaman claire

Claire menggeleng "tak apa aku hanya merindukan keluargaku." jawab claire menatap kejauhan

"oo.. Kau ingin kita balik?"

"tidak jangan tak perlu. Aku rasa kita bisa berhenti sebentar di pom bensin terdekat. Ada yang ingin aku beli"

"baiklah."

Yuta membawa mobilnya dengan laju sedikit cepat agar sampai ke tempat yang di inginkan di pertengahan jalan.

Mobil yuta berhenti pada tempat parkir pengisian bensin. Sementara claire menyela masuk ke dalam supermarket mini.

"selamat datang." suara dari laudspeaker sebuah boneka yang tertempel di pintu memberitahukan bahwa ada tamu yang datang

Claire melangkah melihat lihat sepanjang isi area snack dan permen. Perutnya lapar dan dia perlu kudapan. Menarik beberapa bungkus biskuit, keripik kentang, permen dan coklat juga alat perlengkapan mandi, claire segera membayar ke kasir.

"apakah disini ada toilet?" tanya claire pada kasir wanita yang bertugas di depannya

"yah, sebelah pojok terus belok kanan."

"terima kasih." claire membayar lalu membawa tentengan menuju toilet.

Sang kasir dan beberapa pengawas toko saat itu sedang bekerja sambil memperhatikan tayangan berita di televisi salah satu channel. Disana di beritakan sebuah informasi pencaharian orang hilang dengan foto seorang wanita yang terpampang.

Claire sibuk muntah di dalam closet. Apa yang barusan dia makan keluar lagi dengan sendirinya. Kepalanya pusing dan tenaganya terkuras. Sementara perjalanan yang harus dia jalani masih panjang. Untung dia ada minyak angin di saku jas. Cermin di depan menampakkan wajahnya yang pucat. Setelah sampai dublin dia harus mengecek dirinya ke klinik. Berkumur sebentar lalu memercikan wajahnya dengan air, claire menarik tisue mengeringkannya. Di dalam Toilet begitu sunyi hingga dapat terdengar suara televisi walau tak terdengar jelas. Claire menghela nafasnya. Membuang tisue ke dalam tong sampah lalu membuka pintu.

Suara televisi semakin jelas. Sayangnya claire tidak melihat ke arah layar di atas. Dia cuma berjalan melewati kasir dan berkata terima kasih kepada sang kasir. Rasa lelah membuatnya ingin segera mencari nyaman di dalam mobil.

Namun, Pandangan para pelayan toko sekaligus sang kasir sedikit membuat claire tak nyaman. Mereka sesekali menunjuk nunjuk claire, melirik claire lalu saling berbisik bisik dan menekan nekan ponsel mereka.

Yuta sedang berjongkok di area bebas rokok sambil merokok sekaligus menunggu claire keluar. Namun sosok wanita itu masih di dalam saling berhadapan dengan kasir.

Tanpa sengaja kepala claire mendongak ke atas mengamati televisi ketika wanita kasir sedang mencari kembalian uang. Matanya segera melotot pada fotonya yang terpampang jelas disana. Tanpa menunggu uang kembali claire segera lenyap dari sana

Claire tak pernah mengira duke akan memikirkan cara seperti ini untuk mencarinya. Claire yakin kalau pelayan toko itu sudah mengontaki duke.

"kita harus segera pergi dari sini." pinta claire panik melangkah masuk ke dalam mobil. Menarik sabuk pengaman lalu mengikatnya pada ikatan.

Falling For My SurrenderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang