Bel tanda jam pelajaran pertama berakhir menggema di seluruh penjuru SMA Nusa Bangsa. Seolah menjadi aba-aba kebebasan, ratusan siswa berhamburan dari dalam kelas, menyerbu kantin dan taman sekolah seperti tentara baru keluar dari barak. Suasana berubah riuh, seolah sekolah itu bukan tempat belajar, tapi taman hiburan gratis dengan menu utama: gorengan dan drama remaja.
Namun di tengah riuh-rendah itu, ada satu sosok yang berjalan menjauh. Tenang. Sendiri. Langkahnya mantap menuju sisi belakang sekolah, tempat yang jarang dikunjungi siswa lain. Di tangannya tergenggam sebuah buku tebal, seolah menjadi perisai dari dunia luar. Rambut hitam lurusnya jatuh hingga ke pinggang, dan pandangannya lurus menembus angin.
Itulah Arana Putri Pramudipta.
Gadis yang dikenal dingin, nyaris tanpa ekspresi, dan... sedikit aneh di mata siswa lain. Bukan karena penampilannya—karena secara fisik dia menarik—tapi karena sikapnya yang terlalu tenang dan terlalu pendiam. Saking pendiamnya, bahkan guru-guru kadang lupa mencatat absennya karena tidak pernah mendengar suaranya.
Arana sudah hampir sampai di tempat favoritnya—belakang sekolah yang sepi dan damai—ketika suara toa menggema.
"Untuk seluruh siswa yang mengikuti ekskul musik segera datang ke ruang musik."
Arana menghela napas kecil. Ia pun berbalik arah, meninggalkan tempat sunyinya untuk menuju ruang musik. Tidak seperti ruang ekskul lain yang penuh keringat dan teriakan, ruang musik adalah tempat kesunyiannya yang kedua. Karena di sana... hanya ada dia.
Ia mengintip ruangan itu dari celah pintu. Sepi. Seperti biasa.
Tak ada yang mengikuti ekskul musik selain dia. Arana masuk, berjalan tenang ke arah piano putih di tengah ruangan. Jari-jarinya mulai menyentuh tuts-tuts piano dengan lembut, menciptakan melodi yang mengalun perlahan, mengisi ruang kosong dengan nuansa yang menenangkan.
Lalu ia mulai bernyanyi. Suaranya lembut, syahdu. Seolah segala hal yang tak bisa dia ucapkan dengan kata-kata dituangkan dalam nada.
Ku telah kehilangan jejak kakimu
Entah kemanakah diriku yang dulu selalu mencintai
Melekatnya hati diantara kita berdua
Cakap canda tawa tangis kita
Tak akan pernah hilang janji-janji kita
Tiada kata akhir untuk pintu harapan ini
Tak ku lepas semua mimpi indah kita
Walau itu semua pudar
Seperti ini hanyalah mimpi
Dalam mimpi...
Dalam mimpi...
Nadanya terus mengalir. Arana tenggelam dalam lagu—hingga tiba-tiba...
BRAK!
Pintu ruang musik terbuka keras, dan sesosok tubuh jatuh dengan indah ke lantai seperti bayi baru lahir ke dunia.
Ekspresi Arana tetap datar, tapi dalam hatinya sedikit kaget. Ia berdiri, berjalan pelan ke arah makhluk yang baru saja datang dengan cara tidak biasa itu.
"Lo nggak apa-apa?" tanyanya, datar.
Yang ditanya langsung duduk dan menyapu debu dari jaketnya. Siapa lagi kalau bukan Arka Pramudika, raja drama sekaligus raja bolos SMA Nusa Bangsa. Dia menatap Arana sambil membetulkan rambutnya.
"Pintu sialan. Untung muka gue nggak kenapa-kenapa. Masih aman, masih lebih ganteng dari Cameron Dallas," katanya sambil nyengir.
Arana hanya menatap. Datar. Tidak terkesan. Sama sekali.
"Bu Dona mana? Yang lain mana? Terus... lo siapa?" tanya Arka, mulai bingung.
"Nggak tahu. Nggak ada. Arana."
"Kok nggak tahu? Kok nggak ada? Gue Arka."
"Karena gue nggak tahu. Karena cuma gue yang ikut ekskul musik. Nggak nanya."
Arka sempat terdiam. Lalu menunjuk piano. "Lo yang tadi nyanyi?"
Arana menatapnya malas. "Iya."
"Suara lo bagus."
"Nggak tahu."
"Lo makan apa sih?"
"Nasi."
"Lah, gue juga makan nasi. Tapi suara gue kayak orang tersedak bubur."
Arana bangkit dari lantai dan kembali duduk di depan piano, mengabaikan ocehan aneh Arka yang seperti tidak pernah kehabisan baterai. Tapi Arka belum menyerah.
"Lo bisa main alat musik apa aja?"
"Piano."
"Itu doang?"
"Gitar."
"Serius? Ajarin gue dong. Pengen kayak Taylor Swift gitu... yang cowok."
"Suruh Bu Dona."
"Ogah. Bu Dona nyeremin. Lo aja."
"Nggak."
"Ngomong kok irit—"
"Arka Pramudika!"
Suara lantang Bu Dona memotong percakapan mereka. Sosok sang guru musik muncul dengan wajah penuh aura petir.
"Ngapain kamu deket-deket Arana? Jauh-jauh! Jangan ganggu dia."
"Yaaelah, Bu. Nggak deket-deket amat kok. Saya juga nggak bakal suka sama es batu."
Ibu Dona langsung memelototi Arka. Dan Arka? Tiba-tiba jadi alim.
"Saya sudah dengar semuanya dari Pak Sodi. Kamu harus ikut pertunjukan semester ini. Jadi, kamu harus berlatih keras."
"Alat musik apa, Bu? Saya tiup terompet aja fals."
"Mulai hari ini kamu harus latihan juga di rumah."
Arka langsung panik. "Terus, siapa yang ngajarin saya, Bu? Masa saya ngajarin diri sendiri?"
"Arana yang akan bantu kamu," jawab Bu Dona, tak memberi kesempatan protes.
"Loh kok saya, Bu?" Arana menatap tidak percaya.
"Cuma kamu yang bisa bantu dia. Ibu mohon, ya?"
Arka mendecak pelan. "Giliran ngomong sama Arana lembut, sama saya kayak ngajak tawuran. Nggak adil."
"Apa kamu bilang?"
Tatapan Bu Dona menyala.
"Nggak, Bu. Saya cuma... nyari nada."
"Diam kamu."
Arka langsung mengunci mulut sendiri.
Setelah Bu Dona pergi, keheningan kembali mengisi ruang musik. Arka menoleh ke Arana dengan ekspresi penuh rencana.
"Jadi kapan kita latihan? Di rumah lo atau rumah gue?"
Arana hanya menatap lurus ke depan. Ia menghembuskan napas panjang.
Mulai hari ini, hidupnya yang tenang... akan dipenuhi oleh suara Arka. Dan itu... sangat mengganggu.
-----Arana-----
Song:
* Isyana Sarasvati - Mimpi
Tolong vote dan komennya ya:)
Stay tuned❤️❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SS (1) - Arkarana
Teen Fiction(Cover by @pujina) Sweet Series 1: Arana Putri Pramudipta. Mempunyai kepribadian yang tertutup dan hati sedingin es membuatnya harus melewati masa putih abu-abu sendirian. Hanya gitar dan piano yang dianggapnya sebagai teman. Hingga suatu hari Arana...
