Di dalam kamar bercat biru itu, Arka masih terlelap. Bahkan suara alarm yang sudah berbunyi beberapa kali tidak mampu membangunkannya. Tapi matanya langsung terbuka begitu mendengar suara notifikasi dari handphone silver yang tergeletak di sampingnya. Dengan setengah sadar, ia meraih ponsel itu dan membuka pesan masuk.
Deni Pratama: Oi kecebong, jalan yuk.
Arka mendengus kecewa. Dia sempat mengira pesan itu dari Arana. Dengan malas, ia melempar kembali ponselnya ke atas kasur. Tapi setelah berpikir sebentar, ia mengambilnya lagi dan membalas.
Arka Pramudika: G. Mls.
Deni Pratama: Gue traktir makan.
Mata Arka langsung berbinar. Meski berasal dari keluarga berada, prinsip hidupnya sederhana: segala sesuatu yang gratis itu enak. Tanpa pikir panjang, dia bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi.
Tapi baru beberapa langkah, ponselnya kembali berbunyi. Arka buru-buru kembali dan mengecek layarnya. Kali ini, matanya membelalak—pesan dari Arana.
Arana Pramudipta: .
Arka Pramudika: Pagi Arana. Itu titik kecil yang lucu maksudnya apa ya? Arka yang ganteng ini nggak ngerti kode morse soalnya.
Arana Pramudipta: Lo sibuk g?
Arka Pramudika: Nggak kok. Arana mau ngajak Arka jalan ya? 😆
Arana Pramudipta: G. Mau minta tolong.
Arka Pramudika: Minta tolong apa? Arka akan berusaha kabulin semua permintaan Arana.
Arana Pramudipta: Anterin gue.
Arka Pramudika: Anterin kemana? Ke hati abang mau?
Arana Pramudipta: G. Jijay. Cukup anterin gue, g lama.
Arka Pramudika: Aye captain. Tapi setelah itu lo temenin gue jalan ya 😁
Arana Pramudipta: Y.
Dengan senyum lebar, Arka langsung masuk kamar mandi. Kali ini dia mandi dengan semangat 45—demi Arana.
***
Sementara itu, di rumah Arana, suasana tidak seceria Arka.
"Gue kok malah iyain ajakan Arka sih..." Arana menatap kosong ke arah jendela, menyesali keputusannya.
Seharusnya pagi ini dia dan Vino, ayahnya, berziarah ke makam almarhumah ibunya, Tania. Tapi rencana itu berubah mendadak karena Vino mendapat panggilan kerja yang mengharuskannya berangkat ke Bandung. Vino sendiri yang menyarankan Arana meminta tolong pada Arka—karena dia tahu, putrinya itu tidak punya banyak teman selain cowok menyebalkan satu itu.
Dan kini, Arana duduk di ruang tamu, menggenggam erat buket bunga lily putih kesukaannya. Air matanya mulai menumpuk, tapi buru-buru ia usap ketika bel rumah berbunyi.
"Hai Ara—"
Tanpa memperdulikan sapaan Arka, Arana langsung berjalan melewatinya dan masuk ke mobil.
"Hatinya yang beku kapan mencair sih," gumam Arka sambil menyusul masuk ke dalam mobil.
"Jadi, kemana kita akan pergi?" tanya Arka menirukan suara Dora si penjelajah.
"Lurus, belok kiri, belok kanan, lurus lagi dikit, berhenti," jawab Arana datar.
Tanpa protes, Arka menjalankan mobil sesuai arah yang disebutkan. Ia tahu, bertanya lebih lanjut hanya akan membuat Arana diam seribu bahasa.
Setelah beberapa menit berkendara, mereka sampai di pemakaman. Arka sempat terkejut, tapi memilih diam dan mengikuti langkah Arana dari belakang. Mereka berhenti di depan salah satu makam.
"Ma, Ara datang," bisik Arana pelan. Tangannya menggenggam buket bunga itu semakin erat.
"Ara kangen banget sama Mama. Karena Ara, Mama nggak bisa menikmati hidup lebih lama... Seandainya Mama nggak ngelahirin Ara, Mama pasti masih hidup sekarang..."
Tangisnya pecah, tubuhnya bergetar menahan sesak di dadanya. Arka yang berdiri tak jauh langsung menarik Arana ke dalam pelukannya, mencoba menenangkannya.
"Lo nggak boleh nyalahin diri lo sendiri, Na. Semua ini udah digariskan Tuhan. Bukan salah lo. Mama lo pasti pengen lo bahagia, bukan jadi cewek dingin yang nutup diri terus," ucap Arka lembut, tangannya membelai rambut panjang Arana dengan hati-hati.
Tangisan Arana perlahan mereda. Pelukan Arka membuat emosinya yang tadi kacau mulai tenang.
"Makasih, Ka," gumam Arana pelan, tersenyum dalam pelukan itu.
***
Perjalanan pulang terasa kikuk. Tidak ada yang bicara. Hingga akhirnya, Arka memecah keheningan.
"Ara."
"Ya?"
"Lo punya cita-cita nggak?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Nggak usah kepo."
Arka menghela napas. Penyesalan memang datang dari belakang.
Sesuai janji sebelumnya, mereka kini tiba di café milik Deni. Arka dan Arana langsung bergabung dengan Deni dan Sheila yang sudah duduk lebih dulu.
"Berasa liat Beauty and the Beast deh," celetuk Sheila.
"Siapa yang Beast?" tanya Arka dengan polos.
"Ya lo lah. Masa lo yang jadi Beauty. Mau jadi keturunannya mimi peri?"
"Nggak. Kan pacar lo udah jadi keturunannya," balas Arka santai.
Deni refleks melempar tisu ke arah Arka yang hanya tertawa.
"Yang di samping lo itu siapa, Ka?" tanya Sheila sambil melirik Arana.
"Oh iya, kenalin, ini Arana. Dia tutor gitar gue."
"Main gitar? Bukannya lo—" Deni menghentikan kalimatnya sambil meringis karena kaki Arka menendangnya di bawah meja.
"Cuma tutor doang nih? Nggak lebih?" pancing Sheila.
"Doain aja biar bisa jadi ipar lo, Shei."
Arana mencubit perut Arka keras-keras, membuat cowok itu meringis kesakitan. Deni hanya terkekeh puas melihat Arka kena karma.
Sheila tersenyum lebar, lalu menjulurkan tangan ke Arana. "Gue Sheila. Bukan sepupunya Arka, sumpah. Semoga kita bisa jadi temen baik, dan semoga lo dapetin cowok yang lebih baik dari dia."
"Amin," seru Deni spontan. Arka melotot kesal.
Arana terkekeh melihat mereka bercanda. Suasana hatinya menghangat. Entah sejak kapan, dia merasa nyaman bersama mereka.
"Keinginan keempat lo udah gue kabulin," bisik Arka, menatap Arana dengan senyum khasnya.
Dan untuk pertama kalinya, hati Arana yang membeku... perlahan mulai mencair.
-----Arka-----
Gimana chapter ini? Feelnya dapat nggak? Semoga dapat ya😂
Tolong tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan kritsar ya😊
Happy reading❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SS (1) - Arkarana
Teen Fiction(Cover by @pujina) Sweet Series 1: Arana Putri Pramudipta. Mempunyai kepribadian yang tertutup dan hati sedingin es membuatnya harus melewati masa putih abu-abu sendirian. Hanya gitar dan piano yang dianggapnya sebagai teman. Hingga suatu hari Arana...
