Arkarana 12 || Pingsan

10.6K 722 22
                                        

"Itu muka lo kenapa, sih? Kayak orang yang baru sadar dosanya banyak aja." Deni menatap Arka bingung, sudah seminggu ini sahabatnya itu tampak uring-uringan. Tidak biasanya Arka diam di kantin seperti ini, wajahnya itu juga terus ditekuk setelah kembali dari ruang musik.

"Kenapa? Lo khawatir sama gue gitu?"

"Iya, gue khawatir. Lo kan kayak orang depresi gitu jadi gue takut kalau lo bunuh diri. Kalau lo bunuh diri nanti yang kasih gue tebengan siapa coba?" Kata Deni tulus dari hati, sukses membuat Arka mendaratkan jitakannya di kepala Deni.

"Lo bikin gue tambah sayang." Deni bergidik ngeri mendengar perkataan Arka. Sepertinya sahabatnya itu sudah terlalu lama sendiri.

"Lo kenapa, sih?" Tanya Deni lagi, sudah tidak tahan dengan kelakuan Arka.

"Gue nyatain perasaan gue ke Ara, terus tadi gue dibilang kegeeran sama dia." Kata Arka membuat Deni terkejut. Deni berusaha memastikan kalau pendengarannya itu baik-baik saja.

"Serius? Demi apa?"

"Demi Indomaret yang akan berganti jadi Indomei."

"Lo ditolak." Kata Deni. Arka yang mendengarnya langsung terkejut. Sahabatnya itu belajar di dukun mana coba?

"Arana bilang apa?" Tanya Deni.

"Dia bilang perasaan gue itu kesalahan. Gue nggak seharusnya punya perasaan sama dia. Itu cewek maunya apa, sih? Tadi pakai acara sindir-sindir gue lagi. Pengen banget gue peluk itu cewek."

"Gue nggak nyangka."

"Gue juga nggak nyangka itu cewek bisa bikin gue kayak gini."

"Bukan begitu. Maksud gue itu, gue nggak nyangka ternyata lo udah besar. Sepertinya baru kemarin lo lari-lari setelah bekas sunat lo kering, eh ini udah ditolak aja sama cewek. Gue terharu masa." Deni menatap Arka dengan pandangan terharu, membuat Arka jijik melihatnya.

"Gini ya lemper." Arka memandang Deni dengan pandangan heran ketika sahabatnya itu menepuk pundaknya, seperti yang dilakukan seorang ayah pada anaknya.

"Lemper muka lo. Itu mulut-"

"Sssttt." Deni menempelkam jari telunjuknya di bibir Arka, menghentikan kata-kata yang akan keluar dari mulut itu. Kepalanya menggeleng, persis seperti seorang ibu yang sedang melarang anaknya.

"Cewek itu suka sama cowok yang ganteng, yang wangi, yang pintar. Intinya cewek suka sama cowok yang normal."

Arka mendelikan matanya kearah Deni. Jadi, maksud Deni dia tidak normal begitu?

"Gue kurang apalagi coba? Gue ganteng, banget malah. Itu si Cameron Dallas aja sampai akuin kegantengan gue. Gue juga wangi, setiap hari gue pakai pengharum ruangan. Pintar? Nggak usah ditanya seberapa pintarnya gue." Deni menghela nafas mendengar perkataan Arka. Sahabatnya itu memang tidak normal, pantas saja Arana menolaknya.

"Gini ya panada. Lo emang ganteng pakai kata banget. Sebelas dua belas sama mimi peri. Lo juga wangi, saking wanginya gue jadi pengen nimpuk lo pakai pengharus ruangan. Kalau pintar, ya gue akuin lo emang pintar. Kurang lo cuma satu." Arka menatap Deni penasaran karena Deni menggantungkan perkataannya.

"Sempak lo bukan merek VS."

Arka menutup matanya ketika mendengar perkataan Deni. Seketika itu Arka ingin sekali menjodohkan Deni dengan mimi peri.

"Itu mulut masih gue lihatin ya, belum gue tabok."

***

Arana berjalan melewati lorong sekolah yang sepi. Sudah setengah jam setelah bel tanda aktifitas belajar mengajar hari ini telah berakhir. Langkahnya terasa berat, dia beberapa kali menggelengkan kepalanya.

Cewek itu berhenti sejenak, berusaha menguatkan dirinya. Arana kembali berjalan sambil berpegangan pada tembok, pandangannya semakin kabur. Kesadaran Arana mulai menghilang, cewek itu kemudian ambruk di lorong sekolah yang sepi. Samar-samar telinganya mendengar suara seseorang memanggil-manggil namanya.

Lalu, semuanya mendadak gelap.

Hal pertama yang dilihat Arana ketika membuka matanya adalah Leo yang sedang tertidur sambil memegang tangannya, dilihatnya Leo masih mengenakan seragam sekolah. Cewek itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menghembuskan nafasnya secara kasar. Pandangannya beralih kearah jam yang menunjukkan pukul 1 malam.

Leo yang merasakan pergerakan tangan Arana langsung membuka matanya. Dia tersenyum melihat Arana yang sudah sadar, membuat Arana melihatnya tidak tega. Cewek itu merasa bersalah karena sudah merepotkan Leo.

"Kamu udah sadar?" Tanya Leo sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya.

"Iya."

"Kamu lapar?"

"Nggak."

Leo terdiam sambil memandang wajah Arana. Tangannya terulur mengelus rambut Arana, senyumnya tidak pernah hilang, membuat Arana semakin merasa bersalah.

"Maaf." Cicit Arana. Leo mengernyit tidak suka mendengar perkataan Arana, dia tidak suka Arana meminta maaf padanya. Leo tahu sekarang Arana sedang menyalahkan dirinya sendiri, berpikir sudah merepotkan Leo.

"Aku udah bilang berkali-kali jangan minta maaf untuk hal yang tidak penting."

"Tapi, tetap aja aku-"

"Udah. Kamu tidur aja lagi, aku nggak apa-apa." Kata Leo memotong ucapan Arana.

"Kamu udah makan?" Tanya Arana sambil memandang Leo dengan pandangan khawatir. Leo membalas pandangan itu dengan senyumnya.

"Nggak usah pikirin aku, kamu tidur aja. Besok nggak usah masuk sekolah dulu, nanti aku izinin." Tangan Leo terus mengelus rambut Arana, mencoba membuat Arana merasa nyaman. Arana mengangguk pelan mendengar perkataan Leo, matanya tiba-tiba membulat mengingat sesuatu.

"Kamu kasih tahu Papa kalau aku pingsan?" Tanya Arana panik. Leo hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Arana.

"Leo!" Arana sedikit meninggikan suaranya karena tidak mendapat tanggapan dari Leo. Melihat ekspresi Arana membuat Leo terkekeh pelan.

"Kamu tenang aja, aku nggak kasih tahu keadaan kamu ke Om Vino. Aku tahu kamu tidak ingin membuat Om Vino khawatir." Arana menghembuskan nafasnya lega mendengar jawaban Leo. Tapi, rasa paniknya yang tadi sempat hilang kembali muncul.

"Arka yang tadi nolongin aku?" Tanya Arana lebih panik dari yang tadi. Dia ingat sebelum pingsan tadi dia mendengar suara Arka yang memanggil-manggil namanya.

"Iya. Aku tahu kamu pingsan juga dari dia, pas aku telfon kamu mau nanya kamu di mana yang angkat malah itu curut dengan suara paniknya."

"Terus?"

"Ya udah, aku langsung keluar dari mobil terus pergi ke tempat kamu pingsan."

"Kamu bilang apa ke dia?"

"Aku bilang kamu emang sering pingsan kayak gini kalau nggak sarapan. Aku langsung gendong kamu, nggak tahu selanjutnya itu curut ngapain."

Arana menghembuskan nafasnya lega, untung saja Leo berpikiran cepat. Arana merutuki dirinya sendiri karena sudah melupakan sarapan sehingga membuat Leo jadi kerepotan seperti ini.

"Lain kali ingat sarapan." Arana mengangguk pelan. "Tidur gih." Kata Leo sambil terus mengelus rambut Arana. Leo tahu Arana akan segera tertidur kalau rambutnya dielus seperti ini

"Good night, Lion." Kata Arana sambil tersenyum manis sebelum menutup matanya. Leo terkekeh mendengar panggilan yang diberikan Arana untuknya.

"Sweet dream, Ana."

-----Arana-----

SS (1) - ArkaranaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang