Arkarana 19 || Perkelahian dan Rasa Bersalah

8.7K 663 35
                                        

Our souls fell in love
Our egos broke us up
-Bridgett Devoue-

***

"Arka bikin tambah sayang, deh."

Arka hanya terdiam mendengar perkataan Tania. Dia sudah lelah dengan tingkah Tania yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Arka lebih memilih tidak meladeni Tania dan menjelaskan tentang soal-soal yang mungkin keluar saat olimpiade.

"Lo kenapa nempel-nempel gitu? Udah kayak ulat bulu aja," cibir Sheila ketika melihat Tania menyandarkan kepalanya di bahu Arka.

"Gue bukan ulat bulu. Gue itu calon ipar lo," balas Tania. Dia kemudian memeluk Arka dari samping yang membuat Sheila memelototi cewek itu.

"Lo jadi cewek gatel banget, sih. Lo nggak tahu kalau Arka sudah punya pacar?" tanya Sheila sembari memelototi Tania.

"Gue tahu. Gue nggak peduli sama sekali. Lagian kalau benar itu cewek pacaran dengan Arka, pasti dia sudah ada di sini sekarang. Ini malah nggak muncul sama sekali."

"Mulut lo itu bisa dijaga, nggak?!" Sheila sudah tidak tahan dengan cewek di hadapannya ini. Biarpun Sheila tidak begitu mengenal Arana, tapi menurutnya Arana lebih baik dari pada adik kelasnya ini.

"Betul 'kan yang gue bilang? Lagian apa bagusnya dia, sih? Bagusan juga gue." Seolah-olah tidak mengerti situasi, Tania malah mengatakan hal yang semakin membuat Sheila ingin menjambak rambutnya itu.

"Lo!" Kesabaran Sheila sudah mencapai batasnya. Tangannya gatal ingin menampar pipi mulus Tania.

"Shei, udah. Nggak usah diladeni. Lo juga kenapa diem aja?" tanya Deni ke Arka. Melihat gelagat sang pacar yang mulai berbahaya, Deni akhirnya turun tangan. Dia juga kesal seperti Sheila, tapi menurutnya percuma meladeni cewek seperti Tania.

"Lo semua bisa diem, nggak?" Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Arka angkat bicara juga. Mood-nya semakin hancur saja karena perkataan Tania tadi. Perkataan Tania benar-benar mempengaruhi pikirannya.

"Apa Ara emang nggak peduli dengan gue?"

"Lo kenapa, sih? Lo nggak pikirin gimana perasaannya Arana kalau lihat lo berduaan sama cewek seperti ini?" Sheila mengernyit bingung. Biasanya sepupunya ini akan terus berbicara tentang Arana, tapi sejak tadi pagi tidak pernah sekali pun dia menyebut nama Arana.

"Shei, gue lagi nggak mau diganggu," kata Arka mencoba berbicara selembut mungkin dengan Sheila.

"Tapi, Ka-"

"Arka udah bilang dia lagi nggak mau diganggu. Lo budek atau gimana, sih?" tanya Tania memotong perkataan Sheila.

"Gue nggak ngomong sama lo, gue ngomongnya sama Arka!" Sungguh Sheila ingin sekali mendaratkan tangannya di pipi Tania. Dia tidak peduli walaupun nantinya mereka harus berakhir di ruang BK.

"Gue saranin sebaiknya lo diam selagi pacar gue masih menahan emosinya," kata Deni. Dia mulai jengah dengan cewek bernama Tania ini. Dia masih menahan diri karena yang di hadapannya ini seorang cewek.

"Gue nggak peduli. Kalau mau berantem sama gue juga bakal gue ladenin. Mendingan lo sama pacar lo keluar dari sini, gue males banget lihat wajah pacar lo ini," kata Tania dengan santainya.

"Jaga omongan lo, ya. Gue masih nahan diri karena lo itu cewek, tapi bukan berarti gue nggak bisa nyakitin lo." Kini Deni tidak hanya sekedar kesal. Emosinya kini sama seperti Sheila. Tidak ada yang boleh berbicara tentang Sheila seperti itu.

"Lo sebaiknya bawa keluar Sheila dari sini, Den," kata Arka.

Deni menatap sahabatnya itu tidak percaya. Bagaimana bisa Arka membela cewek bernama Tania ini dibandingkan dirinya dan Sheila? Secara tidak langsung Arka mengatakan dia lebih memihak Tania dari pada dia dan Sheila.

SS (1) - ArkaranaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang