Bel tanda kegiatan sekolah berakhir baru saja berbunyi. Biasanya, itu jadi suara paling ditunggu Arka. Tapi siang itu, antusiasmenya hilang begitu saja. Hujan turun deras sejak beberapa jam lalu, membuat langit muram dan udara jadi lembap menusuk. Arka mendesah panjang. Ia benci hujan—selalu membuatnya merasa aneh, murung, dan... kesepian.
Lorong sekolah mulai sepi. Langkah-langkah tergesa dan suara tawa sudah menjauh, menyisakan gema hujan di luar jendela. Saat Arka hendak berbelok di ujung lorong, matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal sedang berjalan cepat.
"Ara!" serunya, sedikit mengangkat tangan.
Langkah Arana terhenti. Ia menoleh, raut wajahnya bingung sekaligus sedikit terganggu saat melihat Arka menghampiri dengan senyum santainya yang khas.
"Kelihatannya buru-buru banget. Mau ke mana emang?" tanya Arka, berusaha mencairkan suasana.
"Hujan," jawab Arana datar.
"Hujan? Maksudnya?" Arka mengerutkan dahi. "Ngomong yang panjang dikit kek. Jangan bikin gue nebak-nebak."
Arana mendengus pelan. "Gue mau pulang. Pergi sana."
"Lo pulang sama siapa? Naik apa? Ada yang jemput?" Arka tidak mundur, tetap menanyai meski jelas-jelas sedang ditolak.
"Berisik," desis Arana tanpa melihat wajahnya.
"Jadi cewek jangan dingin-dingin amat, Ra. Nanti jomblo lo makin awet," celetuk Arka, masih tak menyerah.
Tanpa menanggapi, Arana melangkah menuju gerbang. Baru satu langkahnya menyentuh pelataran sekolah, Arka langsung menarik lengannya pelan, menahannya.
"Lo serius mau pulang dalam kondisi hujan deras gini?" tanya Arka bingung.
"Lepas, Arka. Gue mau pulang," jawab Arana tanpa menatapnya.
"Arana, ini masih hujan deras. Tunggu reda dikit lah. Lo bisa sakit."
Arana diam. Kali ini bukan karena marah, tapi seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Arka memperhatikan wajahnya yang tertutup poni, mencoba menebak isi pikirannya. Cowok itu kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan jaket abu-abu miliknya.
"Pakai ini," ucapnya sambil menyodorkannya.
Arana tak bergerak. Tak satu pun tangannya terulur untuk menerima.
Arka menghela napas. "Duh lo ini ya..." Tanpa menunggu izin, dia langsung memakaikan jaket itu ke bahu Arana. Gerakannya cepat, namun tetap lembut. Arana sedikit terkejut, tapi tak menolak.
"Dan ini," Arka menyodorkan satu sisi earphone ke arahnya, sementara satu sisi lainnya sudah terpasang di telinga cowok itu. "Biar lo nggak bosan nunggu hujan reda."
Arana sempat melirik earphone itu ragu-ragu, lalu mengambilnya perlahan. Lagu "Marvin Gaye" milik Charlie Puth langsung mengalun, mengisi sunyi di antara mereka.
There's loving in your eyes that pulls me closer
It's so subtle, I'm in trouble
But I'd love to be in trouble with you
Di sisi lain, Arka memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam lagu. Arana mencuri pandang ke wajah Arka. Ia baru sadar, cowok itu... lumayan tampan kalau dilihat dari dekat. Mungkin terlalu sering ia tolak, sampai lupa memperhatikan lebih dari sekadar kata-katanya yang sok akrab itu.
Ada sesuatu yang menggelitik di dadanya. Sebuah perasaan asing, tidak nyaman, tapi juga... hangat.
"Besok gue harus pergi check-up kayaknya," gumam Arana lirih, hampir tak terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
SS (1) - Arkarana
Novela Juvenil(Cover by @pujina) Sweet Series 1: Arana Putri Pramudipta. Mempunyai kepribadian yang tertutup dan hati sedingin es membuatnya harus melewati masa putih abu-abu sendirian. Hanya gitar dan piano yang dianggapnya sebagai teman. Hingga suatu hari Arana...
