Arkarana 15 || Milik Gue

10.7K 748 34
                                        

Lo emang ngeselin.
Tapi, gue nggak pernah nyesal udah jatuh cinta sama lo
-Arka-

***

            Suasana SMA Nusa Bangsa pagi itu sama seperti sebelumnya. Beberapa cewek asik membicarakan soal harga lipstick yang mereka pakai hingga si A yang berselingkuh dengan si C. Semuanya begitu ramai hingga kedatangan Arka dan Arana yang berjalan di lorong sekolah sambil bergandengan tangan. Seketika lorong sekolah diselimuti dengan keheningan.

"Ka, lepas." Arana mencoba melepaskan genggaman tangan Arka. Dia tidak terbiasa diperhatikan seperti ini.

Bukannya melepaskan genggamannya, Arka justru semakin mempererat genggamannya. Bagi Arka, diperhatikan seperti ini bukanlah masalah, dia sudah terbiasa dengan semua ini.

"Arka." Panggil Arana. Dia sudah tidak berusaha melepaskan genggaman tangan Arka, toh, cowok itu tidak akan melepaskannya begitu saja.

"Hm." Gumam Arka merespon panggilan Arana. Senyumnya tidak pernah hilang dari kemarin. Arana benar-benar membawa warna baru dalam hidupnya.

"Bisa kita nggak usah gandengan kayak gini?" tanya Arana pelan. Sejujurnya, dia takut menanyakan hal ini pada Arka, dia tidak ingin membuat Arka tersinggung.

Arka menghentikan langkahnya, yang otomatis membuat Arana berhenti juga. Cowok itu menatap lembut kearah Arana. "Kenapa?" Arka balik bertanya, dia sama sekali tidak marah ataupun tersinggung dengan pertanyaan pacarnya itu.

"Gue risih diperhatiin terus sama anak-anak yang lain."

Senyuman Arka semakin melebar. Tangannya terulur mengelus rambut panjang Arana. Pacarnya itu terlihat begitu menggemaskan ketika malu seperti ini.

"Ra, dengerin baik-baik perkataanku."

Arana menatap lekat wajah Arka. Jantungnya mulai berdegup kencang hanya karena melihat wajah Arka yang menurutnya sedikit tampan itu.

"Kita yang terjatuh, kita yang rasakan, bukan mereka. Mereka seperti itu hanya karena mereka masih amatir soal perasaan, mereka belum merasakan sensasi asing yang kini sedang kita rasakan, sensasi yang mampu membuat rona merah muncul di kedua pipimu itu."

Arana langsung memalingkan wajahnya yang semakin memerah karena ucapan Arka. Cowok itu dengan tidak pekanya terus tertawa melihat tingkah Arana, membuat wajahnya semakin memerah karena malu.

Kekehan Arka berubah menjadi senyuman ketika melihat Arana berjalan menjauh darinya. Putri esnya itu sepertinya semakin lama semakin mencair saja. Cukup puas memandang Arana dari belakang, Arka kemudian berlari menyusul Arana yang tidak terlalu jauh darinya.

Arka menghentikan langkah Arana. Dia kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Arana yang benar-benar memerah. Arka tersenyum jahil, kemudian membisikan sesuatu yang membuat wajah Arana lebih memerah lagi.

"Jangan jauh-jauh dariku. Tempat favoritku itu berada di sampingmu."

***

Arka yang baru saja tiba di kelas setelah mengantarkan Arana ke kelasnya, tiba-tiba ditarik secara paksa ke depan kelas. Kedua tangannya dikunci sehingga tidak bisa melawan atau lebih tepatnya Arka memang tidak berniat melawan.

"Shei, pisau mainan yang tadi mana? Cepetan tusuk perutnya." Titah Deni yang sibuk menahan kedua tangan Arka. Sheila yang sedang memegang pisau mainan langsung menusuk perut Arka beberapa kali, membuat Arka menggeliat karena merasa geli.

SS (1) - ArkaranaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang