Arkarana 1 || Arka Putra Pramudika

33.9K 1.5K 143
                                        

Hari itu langit SMA Nusa Bangsa sedang teduh, tapi dua muridnya justru penuh gelisah. Di sudut halaman belakang sekolah, dua remaja laki-laki tengah berdiri mencurigakan di dekat pagar. Yang satu sibuk melihat kiri-kanan, sementara yang lain... sibuk baca doa sambil meletakkan kaki di tembok.

"Buruan, Ka! Kalau sampai Pak Sodi tahu, tamat sudah riwayat kita. Mau bebas malah nyangkut di ruang BK," bisik Deni, wajahnya penuh ketegangan seperti mata-mata gagal latihan.

Arka Putra Pramudika, si cowok dengan wajah menawan dan attitude seenaknya, malah menatap sahabatnya itu seolah dia yang bodoh.

"Lo bisa diem nggak sih? Gue lagi baca doa. Biar misi suci bolos kita diberkahi. Doa itu penting, Den."

Deni mengangkat alis. "Kadang gue tuh bingung, Ka. Otak lo isinya lebih banyak isi kitab suci apa kaleng biskuit kosong, sih?"

Arka nyengir lebar. "Yang penting gue masih pinter. Lah elo, satu tambah satu aja masih nanya gue."

Tanpa membalas, Deni hanya menghela napas panjang. Arka lalu lanjut memanjat, pelan tapi pasti, sampai separuh tubuhnya melewati pagar. Namun baru saja dia mengucap "Amin", takdir berkata lain.

"ARKA! DENI!"

Arka menghentak kaget. Tapi alih-alih panik, dia malah senyum lebar.

"Eh Den, lo denger nggak? Shawn Mendes barusan manggil nama gue. Fix, gue lebih populer dari Manu Rios sekarang."

Deni menatap sahabatnya nanar. "Ya Allah... Kalau begini caranya, mending lo aja yang tenggelam di rawa-rawa. Gue rela."

"Tenggelam juga gue tetep ganteng. Lo? Jadi tumbuhan air."

Deni nggak kuat. Dia mulai menghitung, bukan doa, tapi... mundur ke kiamat.

"1... 2..."

Arka bingung. "Ponakan Mimi Peri, ngapain lo ngitung? Kita bolos, bukan belajar matematika."

"3..."

"ARKA PUTRA PRAMUDIKA!!!"

Teriakan itu datang dari balik pagar. Dan saat Arka menoleh, berdirilah Pak Sodi—sosok guru killer yang jadi mimpi buruk murid malas sedunia.

***

Ruang BK, lima menit kemudian.

Arka dan Deni duduk lesu di depan meja Pak Sodi. Mereka seperti terdakwa kasus pencurian batagor suci.

"Kalian ini udah kelas 3," kata Pak Sodi, suaranya seperti narasi sinetron sore hari. "Mau lulus malah main bolos. Arka, kamu tuh pintar, tapi makin ke sini makin absurd. Mau jadi apa kamu nanti?"

Arka mengangkat tangan, pede maksimal.

"Saya mau jadi dokter, Pak. Kalau Bapak sakit, ke tempat praktek saya aja. Saya kasih diskon. Khusus guru."

Deni dan Pak Sodi saling melirik. Satu mikir, satu nyesel jadi guru.

Ganteng, tapi zonk. Begitu simpul mereka.

Pak Sodi menatap Arka dalam-dalam. "Saya putuskan kamu dihukum. Bersihin toilet guru seminggu dan ikut ekskul musik. Setelah ujian semester, kamu tampil di acara sekolah."

Arka terkejut. Matanya membulat, ekspresinya dramatis.

"Loh, kok saya doang yang dihukum? Deni juga ikut!"

"Deni baru dua kali ketahuan. Kamu udah lima."

Arka maju, tatapannya penuh luka batin.

"Pak, tatap mata saya."

Pak Sodi menaikkan alis. "Kenapa?"

"Yang Bapak lakukan ke saya... Itu jahat."

***

Hari berikutnya, Arka berjalan di lorong sekolah dengan nasib baru: si mantan Prince Charming yang kini menjelma tukang pel.

Dengan ember di tangan kiri dan pel di kanan, dia berjalan melewati tatapan para siswi yang dulunya menyembahnya seperti boyband Korea. Kini mereka hanya menatap kasihan. Atau geli.

"Prince Charming turun kasta," komentar Deni, yang seperti biasa sudah standby untuk nyindir.

Arka melotot. "Lo tunggu, Den. Karma itu naik GoRide."

Seketika terdengar suara teriakan lagi.

"ARKAAAA!!!"

Arka mendesah panjang. Kenapa semua orang suka banget teriak nama dia akhir-akhir ini?

Muncullah Sheila—sepupu Arka yang energinya bisa menyaingi panci emak-emak lagi marah. Langsung menghampiri, dengan ekspresi siap perang.

"GUE DENGER LO DIHUKUM?! SIAPA YANG BERANI NGEHUKUM LO?! SIAPA?!"

Arka melirik Deni, tapi Deni pasang mode pura-pura jadi pot tanaman.

"Shei, suara lo tuh... kayak panci emak gue pas goreng teri. Bisa nggak lo jangan teriak-teriak? Kalau bisa jangan ngomong."

"SIAPA YANG NGASIH HUKUMAN?!"

"Pak Sodi."

"OKE."

Sheila langsung berbalik badan dan berjalan pergi, seperti tokoh utama drama yang siap balas dendam.

Arka dan Deni saling tatap.

"Shei mau ngapain tuh?" tanya Arka curiga.

Deni menjawab datar, "Mau ajak Pak Sodi makan batagor. Katanya biar dia tambah semangat menghukum lo."

Arka mengangkat pel tinggi-tinggi.

"Gue sumpah, Den. Gue bakal kirim Sheila ke sumur. Bareng Sadako."

-----Arka-----

Haiii😊
Tolong vote dan komennya ya:)
Stay tuned

SS (1) - ArkaranaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang