Setelah perdebatan kecil yang lebih mirip debat capres remaja—tentang dimana latihan musik seharusnya dilakukan—akhirnya Arana mengalah. Ia pun duduk di ruang tamu rumahnya dengan posisi tegak dan buku novel di tangan. Mata Arana fokus pada halaman depan, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Dia masih tidak percaya, manusia paling berisik se-SMA Nusa Bangsa itu... akan datang ke rumahnya.
Ting... Tong...
Baru saja ia membaca judul novelnya, bel rumah menyalak. Dengan ekspresi datar, Arana meletakkan novel itu di meja dan berjalan perlahan menuju pintu. Dia membuka pintu—dan seperti yang ia prediksi, berdiri di hadapannya seorang cowok dengan senyum sok charming yang terlalu percaya diri.
"Hai, Ara," sapa Arka riang.
"Masuk. Ikut gue." Arana langsung berbalik, membiarkan pintu terbuka dan Arka masuk sendiri. Tidak ada basa-basi, tidak ada senyum. Hanya efisiensi murni.
Arka pun melangkah masuk, matanya menyapu isi rumah yang terlihat rapi dan... terlalu sunyi.
Dari arah ruang keluarga, muncul seorang pria berperawakan tegap dengan mata tajam—Vino, ayah Arana.
"Siapa yang datang, Ra?"
Arana diam sejenak, dan sebelum ia bisa menjawab, mata Vino sudah menangkap kehadiran Arka. Tatapan pria itu seketika berubah menjadi seperti detektor kebohongan FBI.
"Siapa dia?"
Arka langsung maju satu langkah, sedikit gugup. "Kenalin saya Arka, Om."
Vino masih belum tampak akrab.
"Dia ngapain ke sini, Ra?" tanyanya, kali ini langsung ke Arana.
"Aku disuruh ajarin dia main gitar, Pa," jawab Arana tenang.
Vino kembali menatap Arka, seolah sedang menilai apakah cowok ini bisa dipercaya atau perlu diusir pakai sapu.
"Ya udah." Singkat, lalu Vino berlalu menuju ruang kerjanya.
Arka menarik napas lega. "Gokil, aura bokap lo serem banget. Tadi gue sempet mikir dia bakal bawa golok."
Arana tak menjawab. Dia hanya berjalan, dan Arka cepat-cepat menyusul.
Setibanya di ruang musik—sebuah ruangan estetik dengan panel akustik, rak alat musik, dan satu piano megah—mata Arka membulat.
"Serius ini ruang musik pribadi lo? Keren banget! Gue kira cuma ada di drama Korea beginian."
"B aja," jawab Arana datar.
"Berasa ngomong sama es batu, masa," bisik Arka sambil menatap gitar-gitar mahal di sudut ruangan.
Arana mengambil salah satu gitarnya dan mulai menyetem.
"Ambil gitar. Ikutin gue."
"Ayey, captain," jawab Arka sok semangat, walau jari-jarinya masih kikuk saat menyentuh senar.
***
Latihan berlangsung... berantakan. Arka terlalu banyak bicara, terlalu sedikit fokus. Jari-jarinya salah pencet, suaranya fals, dan entah mengapa dia sempat nyasar menyanyikan jingle iklan mi instan.
Arana sempat hampir melempar gitar ke arah Arka. Tapi ia tahan. Mungkin karena kasihan. Mungkin karena... lucu juga melihat makhluk ini berjuang.
Setelah dua jam latihan dan lima kali Arka mengeluh tangannya kram (padahal baru 10 menit latihan), akhirnya mereka istirahat.
Arka duduk di sofa kecil sambil meminum sirup yang dibawakan Arana. Sementara itu, Arana sendiri berjalan ke piano, duduk dengan tenang, lalu mulai menekan tuts-tutsnya.
Nadanya lembut. Melankolis. Berbeda dari lagu sebelumnya.
Menatapmu tak lagi mampu
Kau telah menyatu dalam hidupku
Ku telah menunggu di batas waktu
Kau akan pergi tinggalkan diriku
Aku tak percaya semua ini nyata
Kepergianmu untuk selama-lamanya
Ku ingin lebih lama kau ada di dunia
Tapi semua itu tak mungkin adanya
Cintamu abadi selama hidupku
Permintaanku hanya satu
Habiskan waktu terakhirmu
Bersama ku selalu menunggu di batas waktu
Arka diam. Untuk pertama kalinya hari itu, dia tidak bicara.
Arana menutup matanya. Jemarinya berhenti. Suara piano lenyap, meninggalkan keheningan yang penuh makna.
"Lo kenapa?" tanya Arka, akhirnya bicara. "Galau? Diputusin pacar?"
Arana menoleh sedikit. "Lima."
"Hah? Apaan lima? Jangan kayak tebak-tebakan deh, gue ngantuk."
"Keinginan gue yang kelima... berguna bagi orang lain."
Arka memiringkan kepala. "Lo punya daftar keinginan?"
Arana mengangguk. Pandangannya kembali ke piano, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
"Apa keinginan lo yang pertama?" tanya Arka penasaran.
"Gue bakal kasih tahu, tapi setelah itu lo harus rela mati muda."
Arka langsung menegakkan duduknya. "Nggak jadi deh. Gue masih jomblo. Belum nyicip nikah, masa mati muda?"
Arana terkekeh. Suara yang jarang terdengar. Ringan, tapi mengejutkan.
"Baru tahu gue es batu bisa ketawa," sindir Arka refleks.
Arana langsung kembali ke ekspresi datarnya. Tapi di ujung bibirnya, senyum itu masih membekas.
"Oke, karena gue berhasil bikin lo ketawa, lo harus kasih tahu keinginan lo yang kedua sampai keempat," kata Arka serius, menatap Arana dengan sorot penasaran.
Arana terdiam sejenak, lalu menjawab perlahan.
"Keempat, gue pengen punya teman. Ketiga, gue pengen tampil main piano di depan banyak orang. Kedua..." ia menghela napas, "gue pengen punya pacar yang terima gue apa adanya."
Arka menatap Arana, kali ini lebih lama. "Cuma itu?" tanyanya pelan.
Arana tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah piano.
"Lo bisa aja ngelakuin itu semua kapan pun. Kenapa masukin ke dalam daftar keinginan?"
Arana menatap Arka lama. Lalu dengan suara pelan namun berat, ia menjawab,
"Karena nggak semua yang lo lihat itu kenyataan. Bisa aja yang lo lihat sekarang... cuma fatamorgana yang diciptakan orang lain."
Arka terdiam. Kalimat itu menohok, meski ia tak sepenuhnya mengerti.
"Maksud lo?" tanyanya bingung.
Arana tidak menjawab. Ia kembali menatap piano, membiarkan Arka terjebak dalam pertanyaannya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, cowok bernama Arka Putra Pramudika itu... kehabisan kata.
-----Arka-----
Song:
* Isyana Sarasvati - Di batas waktu
Haii aku balik lagi:)
Maaf kalau chapter ini sangat-sangat pendek. Aku nggak mau buat cerita yang terlalu panjang, yang penting inti pikiranku udah tersampaikan itu udah cukup jadi mohon pengertiannya❤️❤️
Dan juga tolong tinggalkan jejak kalian dengan memberikan vote dan juga kritsar. Jangan jadi silent readers😭😭
Happy reading💕
KAMU SEDANG MEMBACA
SS (1) - Arkarana
Novela Juvenil(Cover by @pujina) Sweet Series 1: Arana Putri Pramudipta. Mempunyai kepribadian yang tertutup dan hati sedingin es membuatnya harus melewati masa putih abu-abu sendirian. Hanya gitar dan piano yang dianggapnya sebagai teman. Hingga suatu hari Arana...
