"Si kampret makan di meja gue nggak bilang-bilang, mana makannya tumpah-tumpah lagi."
Arka dengan santainya menimpuk kepala Deni pakai kamus, sukses bikin sahabatnya itu tersedak. Deni panik, langsung meraih gelas air—entah milik siapa—dan menenggaknya tanpa dosa.
"Lo tuh kalau mau nimpuk liat-liat dong! Ini gue lagi ngunyah, tahu-tahu ditembak dari belakang, kalau gue mati gimana?! Lo nggak takut kesepian ditinggal sahabat seumur hidup?!"
Arka malah ngakak. "Sa ae lu, pantat panci. Mana mungkin gue kesepian cuma gara-gara lo mati."
Deni manyun. "Dasar jomblo laknat."
"Gue mau ke kelas Ara. Lo pacaran aja sama bakso lo. Bubay."
Tanpa menunggu jawaban, Arka langsung cabut, meninggalkan Deni yang masih berusaha menata harga diri yang remuk karena disamakan dengan bakso.
Dengan langkah ringan dan senyum songong khas cowok pede, Arka menyusuri lorong sekolah. Cewek-cewek yang dia lewati langsung histeris dalam diam, teriak pakai batin.
Arka tersenyum tipis, lalu menyenandungkan lagu karangannya sendiri.
Satu-satu, Arka itu ganteng
Dua-dua, Arka itu pintar
Tiga-tiga, semua tahu itu
Satu, dua, tiga, Arka kangen Ara
Cowok itu nyengir sendiri.
Dasar si Arana... keras kayak es batu, tapi bikin gue meleleh.
Senyum Arka makin lebar saat sampai di depan kelas Arana. Tapi begitu dia melongok ke dalam, senyumnya lenyap.
"Eh... Ara mana?"
Seorang siswi yang kebetulan lagi duduk dekat pintu langsung gugup. "Ng-... nggak tahu, Ka."
Suaranya nyaris tremor. Prince Charming sekolah mereka tiba-tiba nanya, siapa yang gak gugup?
Arka mengangguk singkat, lalu segera pergi. Satu tujuan terbesit di otaknya: ruang musik.
Namun setelah mengintip dari balik pintu, nihil. Tidak ada Arana.
"Ara ke mana, sih?" gumam Arka makin gelisah.
Jangan-jangan kabur ke Hogwarts...
Dengan semangat kegalauan remaja, dia menuju spot terakhir: belakang sekolah. Tempat favorit Arana. Tapi tetap saja nihil. Yang ada cuma pohon tua dan rumput yang nggak penting.
"Hebat juga dia, menghilang kayak ninja. Jangan-jangan semalam Arana nonton Naruto juga, terus belajar jurus teleportasi Minato..." Arka menggaruk kepalanya.
Dia mendesah keras.
"Ara nggak tanggung jawab! Udah bikin gue kangen tapi malah kabur! Awas ya, ketemu nanti gue borgol! Gue lem ke tiang sekolah!"
Dengan langkah gontai, dia kembali ke kelas. Wajahnya mendung.
Hari ini dia harus bertahan hidup dengan rasa kangen yang menyiksa.
***
"Muka lo kenapa, Ka? Mirip cowok yang ditinggal nikah," celetuk Deni sambil menyeruput es teh milik Sheila.
Arka mendelik. "Diem, lo! Kalau mau pacaran mending di taman. Jangan bikin gue tambah mual."
Sheila tersenyum manis sambil menyuap bakso ke mulut Deni. "Jomblo tuh biasanya emosi nggak stabil."
"Es batu gue hilang," kata Arka tiba-tiba, suaranya pelan tapi sarat kepiluan. Deni dan Sheila langsung saling pandang.
Sheila mengernyit. "Minta di Mba Asti aja, Ka. Di kantinnya banyak."
Arka menggeleng cepat. "Bukan itu maksud gue! Maksud gue tuh—"
"Bodo," potong Deni dan Sheila kompak.
Arka mendelik. "Gue kuliti juga lo berdua!"
Semua diam.
Tak ada yang menggubris.
"KALIAN TEGA!" seru Arka dramatis.
Sheila akhirnya bersuara, "Lo kenapa sih? Aneh banget dari tadi."
"Gue udah bilang, es batu gue hilang!" Arka makin merajuk.
"Minta sana ke Mba Asti!" bentak Sheila. Mood-nya sudah ikut naik-turun.
"ES BATU GUE ITU ARA!" Arka akhirnya meledak.
Sunyi. Detik itu juga dunia seperti berhenti.
Deni dan Sheila saling tatap. Sheila langsung memelototi Arka.
"Lo ngomel-ngomel dari tadi cuma karena Arana gak kelihatan?"
Arka mengangguk, polos. "Menurut lo?"
Lagi-lagi hening.
"KENAPA DIAM?!"
"Eh... Ara diculik Leo kali, ya?" Sheila mulai melempar bensin ke bara api.
"Leo?" Deni bingung. "Bukannya Leo itu—"
"Bisa jadi! Leo suka ngikutin Ara! Katanya naksir banget!" potong Sheila sambil membekap mulut Deni.
Arka langsung panik. "Dia ngerebut Ara dari gue?!"
"Dia bukan ngerebut sih, Ka... Lo aja belum—" Deni akhirnya lepas dari Sheila dan mau klarifikasi, tapi langsung dibekap lagi.
"Pulang sekolah nanti lo harus ke rumah Arana. Pastikan dia baik-baik aja. Bilang juga, jangan dekat-dekat sama Leo!" kompor Sheila makin menyala.
Arka menggaruk kepala. "Kalau dia nanya kenapa?"
"Bilang aja dia itu milik lo. Udah!" jawab Sheila tanpa ragu.
Arka terpana. "Wih, tumben lo pintar, Shei! Biasanya ditanya diameter aja jawabnya 'makan tuh rumus'. Tapi sekarang... jenius."
Sheila nyengir puas. "Ya iya dong, cinta tuh bidang keahlian gue. Sekali ini gratis, besok bayar sepuluh ribu tiap saran."
"Deal!" Arka menyodorkan tangan dan tos dengan semangat.
Deni hanya bisa mengelus dada.
"Ya Allah... jauhkan hamba dari dua setan yang sedang mabuk cinta ini."
-----Arana-----
Gimana chapter 8? Garing ya?😂
Berasa garing kayaknya😂
Tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan kritsarnya😊
Happy reading❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SS (1) - Arkarana
Teen Fiction(Cover by @pujina) Sweet Series 1: Arana Putri Pramudipta. Mempunyai kepribadian yang tertutup dan hati sedingin es membuatnya harus melewati masa putih abu-abu sendirian. Hanya gitar dan piano yang dianggapnya sebagai teman. Hingga suatu hari Arana...
