Kadang, kita melihat hujan tapi tidak merasakannya. Seperti cinta, kadang kita menemukannya tapi tidak memiliki.
☕☕☕
Hari itu, Natalie benar-benar bahagia. Dia baru saja menyelesaikan teka-teki halaman dua puluh lima buku kelima setelah masuk SMA. Diary merah yang menemani hari-harinya.
Ingin sekali Nata Menyelesaikan diary itu. Menghentikan teka-teki dan memiliki Revin, seperti yang dia impikan. Tapi siapa yang tahu soal Revin? Bisa saja dia berubah lagi besok atau nanti.
Gadis itu melenggang ke arah balkon kamar dan meraih vas kaca yang mungil berisi setangkai mawar merah yang baru saja dia petik dari taman rumahnya. Biar mawar itu yang menjadi saksi bisu soal cintanya pada Revin.
Natalie meletakkan kembali bunga itu ke ujung balkon, lalu duduk di bangku favoritnya. Dia membuka kembali diary dan membaca soal Revin, mulai satu minggu yang lalu.
Sebenarnya, Nata sudah lama menyukai lelaki dingin itu. Hanya saja, dia tidak terlalu perduli soal perasaannya. Mungkin karena masalah hati yang kelam sampai dia takut untuk jatuhcinta lagi.
Namun, dia mencoba untuk cinta yang satu ini. Dia mencari tahu soal Revin mulai seminggu yang lalu, walaupun dia sudah melirik kepada lelaki itu semenjak masuk kelas sebelas.
Natalie melihat ke arah jendela balkon rumah Revin. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di bagian rumah itu. Dia mengerutkan dahi, padahal dia ingin sekali menatap wajah lelaki es itu.
Gadis itu bangkit dan masuk ke dalam kamar, jam menunjukkan pukul tiga sore. Malas kalau harus menunggu seperti ini.
"Nata!"
Panggil seseorang dari luar kamarnya.
Natalie segera melesat dan membuka pintu kamarnya. Ada mamanya di sana.
"Iya mah?"
"Tuh ada temen kamu di luar. Kayanya sih anak tetangga baru itu, soalnya pernah liat kemaren di-"
"Apa?" teriak Natalie.
Revin? Bantinnya.
Gadis itu membanting pintu dan berteriak dari dalam, "Bilang tunggu lima menit ma!"
Natalie bingung. Kenapa Revin datang secepat ini? Dua jam lagi kan masih lama. Segera dia memperbaiki rambutnya, dan tersenyum sendiri.
"I'm coming, Revin!"
Dia keluar dari kamarnya, menuruni tiap anak tangga dengan hati-hati. Melenggang asik ke pintu luar, dan tersenyum lebar ketika sampai di depan pintu.
"Hai Nat!"
Senyum gadis itu memudar seketika. Yang ada di depannya bukan Revin Winata, melainkan Haydar. Bukan sedih, kesal, apalagi marah. Namun dia kecewa, dasar Haydar!
"Apa?" jawab Nata lesu seraya duduk di kursi teras rumah.
"Gue mau ngajak lo ke suatu tempat!" Haydar ikut duduk di samping Nata.
"Kemana?"
"Suatu tempat, lo pasti suka."
"Gue bukan tipe orang yang asal suka sama suatu tempat." ucap Nata. "Tergantung sama teman jalannya."
Haydar tertawa kuat mendengar jawaban Natalie. "Gue hampir sama kaya Revin. Jadi, bedanya ga terlalu jauh."
"Gue ga mikir gitu. Siapa Revin siapa Haydar? Itu jelas beda."
"Terserah lo deh, tapi gue yakin lo suka sama tempatnya. Lo mau ikut gue kan?" kata Haydar dengan tatapan mata yang membuat Nata merasa akrab.
"Tapi dua jam lagi-"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Ice (END)
Teen FictionCerita tahun 2018, masih menye-menye banget. Please jangan dibaca lagi!!!
