Prolog

669 77 15
                                        

Hujan malam itu turun tanpa henti, membasahi jalanan kota dan menenggelamkan setiap suara selain gemuruh langit. Di depan Kafe Ayana, lampu-lampu kekuningan berpendar samar di balik kaca yang berembun—tempat yang dulunya penuh tawa, kini menjadi saksi bagaimana beberapa hati yang perlahan hancur saat itu.

Aurina berdiri di bawah hujan, tanpa payung, membiarkan air turun membasahi rambut dan wajahnya yang pucat. Tangannya menggenggam kotak kecil berisi kalung couple yang telah ia pesan di jauh-jauh hari. Malam ini, seharusnya menjadi malam yang spesial di anniversary hubungannya, satu tahun sejak Zidan menyatakan cinta padanya di tempat ini. Ia bahkan telah menyiapkan makan malam sederhana, iringan musik lembut, bahkan sepucuk surat kecil berisi kenangan mereka. Tapi, semua itu sekarang tak berarti lagi setelah apa yang ia saksikan dengan matanya sendiri.

Di balik kaca kafe, terlihat samar seseorang yang tidak lain adalah pacarnya, Zidan. Ia menyaksikan kejadian menyedihkan itu dengan air mata yang terus mengalir, pacarnya sedang berciuman dengan perempuan lain. Ciuman itu bukan salah paham lagi, juga bukan sekadar khilaf, seperti sebuah pengkhianatan yang disiapkan dengan matang.

Aurina hampir terjatuh lemas jika Dikta tak datang tepat waktu menahan tubuh kecilnya. Lelaki itu menatap Zidan dengan pandangan tajam penuh amarah, tanpa berpikir panjang, ia melangkah keluar kafe menghampiri dan menghantam wajah Zidan dengan satu pukulan keras. Suara benturan itu bergema di antara hujan dan sorak kecil orang-orang yang sempat berhenti untuk melihat.

"Bajingan!" desis Dikta, napasnya memburu. "Enyah lo dari hidup Aurina sebelum gue bener-bener bikin lo nyesel."

Zidan mengusap darah di sudut bibirnya, matanya merah dan berkilat marah. "Kenapa? Mau jadi pahlawan lagi, Ta?" suaranya serak, hampir seperti tawa getir yang dipaksakan. Amarah yang telah lama terpendam akhirnya pecah bersama dengan suara hujan di aspal. Seakan banyak sekali rasa sakit yang selama ini tidak bisa ia tunjukkan.

Zidan menatap Aurina sekilas dari luar kaca, di sorot matanya seakan ada sesuatu yang hancur. Melihat wanitanya pucat dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Ia tahu, detik ini ia telah benar-benar kehilangan Aurina. Walau sebenarnya, bukan ini yang Zidan inginkan.

Belakangan ini, hubungannya dengan Aurina memang sedang tidak baik-baik saja. Zidan selalu merasa kurang dalam segala hal untuk Aurina— karena kehadiran Dikta yang selalu ada untuk wanitanya.

"Perasaan lo yang nggak berguna itu justru ngancurin hubungan gue sama Aurina!" bentak Zidan lagi, menendang genangan air di depannya.

Entah sejak kapan Aurina keluar, dan berada di antara mereka. Aurina menatapnya tajam. "Lo udah gila, Zidan Neskala!" serunya, air matanya bercampur hujan.

"Gue gila karena lo!" Zidan membalasnya dengan suara bergetar. "Lo nggak pernah sepenuhnya utuh jadi milik gue, Na! Selalu ada Dikta, Dikta, dan Dikta di antara kita!"

Kata-kata itu menampar Aurina lebih keras daripada hujan. Ia menatap Zidan lama seolah tak percaya, mencoba mencari sedikit sisa kasih dalam tatapan yang dulu begitu hangat padanya. Tapi yang ia temukan hanyalah lelaki asing—penuh amarah, luka, dan kebodohan.

Dikta berdiri diantara keduanya, menatap Zidan tajam. " Lo nggak juga sadar, ya? Justru lo yang nyakitin dia paling berkali-kali. Lo udah kehilangan sesuatu yang bahkan lo nggak pernah tahu betapa berharganya dia. Gue ada buat dia karena lo terlalu sepelein semua hal tentang dia."

Zidan terdiam. Sekilas, wajahnya berubah. Ada rasa sesal yang melintas, tapi tertutup oleh gengsi yang terlalu tinggi untuk ia tundukkan. Di sisi lain, wajah Kanaya terlihat datar namun matanya licik memandang Zidan penuh kepemilikan. Seolah Aurina tak lebih dari bayangan, yang seharusnya lenyap sejak lama.

Hujan turun semakin deras. Dikta segera menarik tangan Aurina menjauh, namun langkah mereka seakan berat. Seolah hujan pun enggan melepaskan dua hati yang sama-sama terluka.

"Na, ayo pulang," ucap Dikta pelan tapi tegas, menggenggam tangan Aurina yang dingin . "Lo udah cukup terluka selama ini."

Zidan terdiam disana, membiarkan dua orang itu pergi. Hujan membasuh darah di pipinya, namun tidak bisa membersihkan rasa bersalah yang mulai menyesak di dada. Ingin rasanya berteriak, menjelaskan , tapi semua kata terasa sia-sia. Ia tahu, bahwa malam ini dirinya telah kehilangan sosok yang tak akan pernah kembali padanya.

Dia pergi... dan gue sendiri yang ngusirnya.

Sebuah ironi yang terlalu pahit untuk ditertawakan. Zidan menegakkan tubuhnya. Napasnya berat, dadanya sesak. Dalam hatinya, ada suara kecil yang berbisik—penyesalan. Namun, ia tidak lagi menatap ke arah Aurina. Ia tahu, jika ia melakukannya, mungkin ia tidak akan mampu melepaskan gadis itu untuk menemukan bahagianya sendiri .

***

Motor Dikta melaju pelan di bawah gerimis sisa hujan. Dinginnya malam masuk menusuk kulit, tapi tak seberapa dibanding dingindi hatinya. Aurina duduk di belakang, menatap kosong jalanan basah yang memantulkan lampu kota.

"Peluk aja, Na. Biar lo nggak kedinginan," ucapnya lirih.

Aurina menuruti tanpa suara. Tangannya melingkar lemah di pinggang Dikta, mencari sedikit kehangatan dari dinginnya hujan dan patah hati yang baru saja membekas.

"Maaf ya, Kak," ucapnya lirih, menatap luka di tangan Dikta.

"Nggak apa. Lebih sakit lihat lo kayak gini."

Mereka berhenti di depan rumah putih dengan lampu teras yang temaram. Hujan mulai reda, hanya menyisakan aroma tanah basah. Aurina menunduk, membuka helm perlahan, rambutnya terurai acak-acakan. Meski lelah, masih terdapat keteduhan di wajahnya.

"Terima kasih, Kak. Besok lukanya gue obatin, ya?" katanya lirih.

Dikta menatapnya lama, lalu mengangkat dagu gadis itu perlahan agar mata mereka bertemu.

"Na, apa yang bisa bikin lo berhenti cinta sama dia?"

Aurina terdiam. "Gue juga nggak tahu... mungkin nggak akan bisa."

Dikta menarik napas panjang. "Kalau begitu, kasih gue kesempatan buat buktiin kalau ada cinta yang nggak nyakitin buat lo, Na."

Aurina memalingkan wajah. Air matanya kembali jatuh, pelan tapi pasti.

"Lo pantas dapetin cinta yang lebih baik, Kak"

"Tapi, yang gue mau cuma lo."

Dikta tersenyum samar, menatap lurus ke depan. "Kadang yang paling kita cintai justru yang paling pandai menghancurkan kita."

Aurina menunduk, menahan air mata yang belum sempat kering. Ia tahu, kalau cinta tidak selalu tentang siapa yang kita pilih—kadang tentang siapa yang masih mau bertahan meski tahu akan terluka.

"Jangan dipikirin, Na. Be happy aja. Gue balik dulu."

"Hati-hati, Kak," ucap Aurina dengan suara yang masih bergetar.

Motor itu kemudian melaju, meninggalkan suara mesin yang perlahan menjauh. Aurina berdiri di teras, menatap langit malam yang kini hanya menyisakan gerimis.

Sementara itu, jauh di ujung jalan, di bawah bayangan pohon, Zidan berdiri diam dan menatap rumah itu dari kejauhan. Matanya merah, bukan karena amarah, tapi karena kehilangan yang tak lagi bisa ia perbaiki.

Ia menyentuh pipinya yang masih berdarah, lalu berbisik pelan—lebih kepada dirinya sendiri.

"Maaf, Na... gue terlalu bodoh buat jagain lo."

Hujan benar-benar berhenti.
Namun bagi mereka bertiga, badai baru saja dimulai.

•••

Selamat membaca, ya!
Jangan lupa buat support aku dengan vote/komen dari kalian.

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang