About You

120 27 3
                                        

Malam itu, udara di luar cukup dingin. Angin malam berhembus ringan melalui jendela kamar Aurina, membawa aroma hujan yang masih tersisa. Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, memancarkan cahaya kuning temaram yang menenangkan.

Zidan berdiri di depan pintu rumah Aurina, tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket, ekspresinya setengah gugup, setengah menahan rasa tak sabar ingin bertemu gadis itu. Ia menunggu dengan sabar hingga Aurina turun dari tangga, mengenakan cardigan soft pink, rambutnya seperi biasa, setengah dicepol.

"Lo serius ngajak gue keluar malam gini?" tanya Aurina, nada suaranya setengah bercanda.

Zidan tersenyum tipis. "Serius. Tapi tenang, ini nggak bakal bahaya. Gue cuma mau... jalan-jalan sebentar, liat suasana kota malam ini, hirup udara malam, dan yang paling penting.. ngobrol sama lo."

Aurina menatapnya sebentar, mata bulatnya berkilat cokelat dalam cahaya lampu teras. Ada sesuatu di raut wajah Zidan yang membuatnya sedikit teduh, d picampur rasa penasaran. Ia mencondongkan badan, menarik napas panjang. "Ya udah... tapi jangan bikin gue nyesel ya."

"Janji," jawab Zidan cepat, matanya menatap lurus ke arah Aurina, seakan berusaha meyakinkan dirinya sendiri juga.

Mobil mulai meluncur pelan, suara knalpot yang tenang bercampur dengan suara angin yang masuk dari kaca jendela yang sedikit terbuka. Zidan menyetir dengan santai, sesekali matanya melirik ke Aurina yang menatap kota ke arah luar jendela.

"Lo suka nggak... liat suasana kota malam gini dari mobil?" tanya Zidan, suara rendah tapi hangat, hampir terselip di antara musik ringan dari radio mobil.

Aurina tersenyum tipis. "Suka... tapi biasanya nggak sebegitu indah karena nggak ada temen yang nemenin."

Zidan menahan napas, jantungnya berdetak pelan tapi dalam saat mendengar kalimat itu. Ia tersenyum samar. "Berarti gue beruntung, ya."

Aurina menoleh, sedikit terkejut dengan nada serius itu, tapi wajahnya menahan senyum. "Maksudnya?"

"Eh... nggak," jawab Zidan cepat, tersenyum malu. "Cuma... gue nyaman aja. Gitu."

Zidan menahan senyum lega. Ia ingin bilang lebih banyak—bahwa hatinya juga ada untuk Aurina, bahwa ia ingin menjadi seseorang yang selalu bisa diandalkan, walau ada satu hal yang harus ia selesaikan dulu— dalang di balik semua tragedi yang menimpa Dikta dan Aurina. Ia tak bisa melepaskan seluruh perasaannya sebelum menemukan kebenaran itu.

Aurina menatap ke luar jendela, hatinya ikut berdebar. Tapi setiap detik yang dilewatinya bersama Zidan memang membuat dadanya terasa hangat, campur aduk.

Setelah beberapa menit melaju, Zidan menepikan mobil di sebuah gang kecil yang terang oleh lampu neon sederhana. Di ujung gang itu, ada warung tenda dengan papan bertuliskan "Nasi Goreng Sari Rasa – Legendaris Sejak 1998."

Aurina menatap bingung, tapi matanya berbinar penasaran. "Kita... makan di sini?"

Zidan tersenyum kecil, menoleh sekilas padanya. "Iya. Ini tempat favorit gue. Sederhana, tapi... lo bakal ngerti kenapa gue suka begitu lo cobain."

Mereka duduk di bangku kayu panjang, di bawah cahaya bohlam kuning yang menggantung rendah. Bau bawang putih, kecap manis, dan sambal tumis bercampur di udara, membuat suasananya terasa hangat.

Aurina menatap wajan besar yang terus mengeluarkan asap gurih. "Lo sering ke sini?"

"Sering banget," jawab Zidan santai. "Dulu bokap nyokap gue juga sering makan di sini waktu mereka masih pacaran. Katanya, nasi goreng ini saksi cinta sejati."

Aurina terkekeh pelan. "Saksi cinta sejati? Gila, cheesy banget sih."

Zidan tertawa, "Lo belum tau, nanti abis lo makan, lo bakal ngerti maksudnya."

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang