Tidak ada lagi suara alarm sekolah, yang ada hanya cahaya matahari yang menyelinap dari sela tirai, menampar lembut kelopak mata Zidan. Ia membuka mata pelan, membiarkan kesunyian dalam kamar menyapa. Tidak ada buku-buku pelajaran berserakan, tidak ada jadwal piket yang ditempel di dinding, dan tidak ada pesan "udah bangun?" dari Aurina di layar ponselnya.
Hari-hari setelah kelulusan ternyata sunyi dengan cara yang tidak ia duga. Zidan duduk perlahan di tepi ranjang, mengacak rambutnya dan menarik napas panjang sebelum akhirnya bangkit. Rumah kakeknya memang terlalu luas—setiap langkah di lantai marmer terasa menggema seperti dunia yang terlalu besar untuk satu orang.
Begitu ia menuruni tangga, aroma roti panggang dan kopi hitam menyeruak dari arah dapur. Kakeknya sudah duduk di ujung meja panjang, membaca koran dengan kacamata tipis yang bertengger di ujung hidung.
"Pagi," sapa Zidan sambil menarik kursi.
"Pagi," jawab sang kakek tanpa menurunkan koran. "Akhirnya kamu bangun juga. Sudah jam delapan."
Zidan mendengus kecil sambil menuang kopi. "Sekarang aku nggak punya guru BK yang bakal nelpon kalau aku telat," gumamnya sambil menyeruput.
Kakeknya melipat koran, menaruhnya di meja, lalu menatap cucunya. "Justru itu masalahnya. Kamu perlu ritme. Disiplin. Dunia kerja nggak akan nunggu kamu bangun siang."
Zidan tak menjawab. Ia hanya memutar sendok di cangkirnya, membiarkan suara gesekan logam itu mengisi jeda yang menggantung.
"Jadi," lanjut sang kakek, "sudah pikirkan rencana ke depan?"
Zidan mengangkat bahu. "Kuliah, mungkin."
"Kuliah apa?"
Zidan diam sebentar—mengulur waktu, mencari cara buat menjawab tanpa memancing perdebatan di pagi hari.
Namun, kalah cepat dengan kakeknya yang menentukan. "Bisnis," katanya mantap. "Kamu harus mempersiapkan diri untuk meneruskan perusahaan keluarga."
Zidan tidak langsung menolak. Ia hanya menatap kopi hitam di depannya, seakan jawabannya ada di dasar cangkir itu. "Kalau aku bilang iya, Kakek janji nggak ikut campur urusan pribadi aku?"
Kakeknya mengangkat alis. "Urusan pribadi seperti apa maksud kamu?"
Zidan menatap kakeknya tanpa berkedip. Tidak tajam, tidak marah—hanya tegas, cukup membuat pria tua itu memahami bahwa pembahasan tentang "gadis yang menangis di taman malam itu" bukan sesuatu yang ingin ia buka pagi ini.
"Seperti apa pun itu," jawab Zidan akhirnya. "Selama aku nggak merugikan keluarga ini, biarkan aku menentukan jalanku sendiri."
Ada hening beberapa detik. Kakeknya menatap cucunya dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara bangga, ragu, dan sedikit tersinggung.
"Baiklah," gumamnya. "Ekonomi, di Universitas terbaik."
Zidan mengangguk kecil. "Oke." Ia menatap dinding ruangan yang penuh foto-foto keluarga. Beberapa foto orang tuanya terlihat menggantung di sana—tersenyum, muda, dan masih utuh. Dulu,foto itu selalu membuat dadanya sesak. Namun sekarang, entah kenapa, rasanya seperti dorongan semangat untuk melangkah ke depan.
"After graduate ternyata begini, ya," gumam Zidan sambil kembali menyesap kopi, mencoba mencairkan kekosongan pagi itu.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Layar menyala, jari-jarinya membuka media sosial. Halaman pertama yang muncul di beranda adalah foto Aurina—tersenyum cerah dengan mata yang berbinar, memakai dress pink berkilau dan rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sederhana, tapi selalu cantik. Senyum itu seperti tamparan halus baginya, mengingatkan betapa gadis itu selalu berusaha terlihat baik-baik saja, bahkan ketika hatinya mungkin tidak sesempurna itu. Rasanya tidak pantas aku disebut sebagai pasangan, kalau aku selalu gagal untuk ada di sisinya. Pikirnya
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Teen Fiction[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)