Kantin sekolah selalu jadi tempat paling ramai setiap jam istirahat. Suara denting sendok, gelas beradu, dan obrolan para siswa membuat udara siang itu terasa hidup. Di pojok ruangan, meja langganan Aurina dan teman-temannya sudah mereka kuasai lebih dulu. Tempat strategis itu memang seperti tahta — penuh gengsi dan nyaris selalu jadi rebutan.
Aurina menatap jam mungil berwarna cokelat di pergelangan tangannya, menghela napas kecil. Sudah hampir setengah jam Kalea belum juga muncul. Di depannya, Sadara sibuk memotret makanan dengan posisi yang diatur sedemikian rupa, seolah setiap momen makan siangnya wajib diabadikan.
"Na!"
Suara yang cukup keras membuat kepala-kepala di sekeliling mereka menoleh. Aurina mengerutkan kening, lalu menemukan sosok Dikta berjalan cepat ke arahnya sambil menenteng nampan berisi dua mangkok mie ayam beserta es jeruknya.
"Aku cari kamu di kelas, ternyata nongkrongnya di sini," katanya, masih terengah.
Aurina menatapnya setengah kesal. "Kak Dikta bisa nggak sih datang tanpa bikin satu kantin nengok?"
Dikta tertawa, duduk di depan Aurina. "Maaf, refleks aja. Aku kira kamu belum turun."
Sadara menimpali cepat, "Kalau Kak Dikta datangnya lima menit lagi, meja pojok ini udah direbut geng kelas sebelah. Tau nggak, tempat ini kasta tertinggi di SMA Angkasa."
"Wah, berarti aku duduk di tahta kalian, dong," goda Dikta, membuat dua gadis itu mendengus bersamaan.
Percakapan beralih ringan — tentang acara sekolah, tugas, dan gosip kecil yang sempat ramai sejak pagi.
"Eh, Dies Natalis bentar lagi, ya?" tanya Dikta, menyeruput es jeruknya.
"Kamu mantan ketua OSIS, Kak," jawab Aurina dengan senyum geli. "Masa tanya ke kita."
"Itu basa-basi, adik manis," katanya dengan gaya sok menawan. Sadara langsung menyikut lengan Aurina, menahan tawa.
Setelah beberapa menit, Kalea muncul dengan wajah lelah. "Lo dipanggil Pak Bastian, Rin," katanya.
Dikta spontan melirik. "Mau aku temenin?"
"Enggak perlu," jawab Aurina cepat, lalu beranjak pergi.
Dikta hanya menatap punggung gadis itu sampai menghilang di koridor. Ada sesuatu dalam suaranya barusan — bukan sekadar lelah, tapi juga seperti menyimpan banyak pikiran.
"Dia kenapa?" gumamnya.
Sadara menjawab seenaknya, "Mungkin lagi PMS, biasalah cewek."
Dikta hanya mengangguk, memang jika dipikirkan, hari ini sepertinya jadwal Aurina PMS.
***
Sementara itu, di ruang BK, suasana berbeda sama sekali. Empat siswa berdiri di depan Ibu Diana dengan wajah menunduk. Di antara mereka, Zidan tampak paling tenang, menatap lurus ke luar jendela seolah tak peduli dunia.
"Kalian itu masih umur belasan, lho. Tempat karaoke bukan untuk anak SMA!" suara Ibu Diana terdengar tegas. "Zidan, kamu bahkan kedapatan pergi berdua dengan Kanaya setelah acara selesai. Mau jelaskan?"
Zidan menahan napas. "Saya cuma nganter dia pulang, Bu. Tidak lebih."
Rylan dan Mahesa mengangguk cepat, membela sahabatnya. Tapi tatapan Ibu Diana jelas tak bisa ditipu. Setelah beberapa teguran panjang, keempatnya akhirnya dijatuhi hukuman dengan berjemur di bawah tiang bendera sampai jam pulang.
Zidan hanya mendesah pelan. Rasanya lelah terus menjadi bahan omongan, apalagi jika nama Kanaya selalu diseret bersamanya. Sosok gadis yang dulu pernah ia sukai, namun justru menolak perasaannya karena lebih memilih mengejar lelaki lain. Kini, ketika perasaan itu sudah lama padam, Kanaya justru berbalik terus mengejarnya, di mana pun dan kapan pun, seolah tak pernah memberi ruang bagi Zidan untuk benar-benar tenang
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Teen Fiction[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)