Ayah dan Luka

125 21 1
                                        

Pagi itu, sekolah terasa ganjil sejak bel pertama berbunyi. Langit mendung, udara sedikit lembap, dan entah kenapa suasananya lebih sepi dari biasanya. Tidak ada suara tawa khas Aurina di koridor, tidak ada langkahnya yang tergesa-gesa masuk ke dalam kelas sambil megunyah roti di mulutnya.

Bangku di pojok kedua sebelah kanan kosong.

Sadara menatapnya berkali-kali, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Udah jam segini, tapi dia belum muncul juga."

Kalea, yang duduk di depannya, menoleh tanpa ekspresi jelas. "Mungkin telat?" ujarnya pelan, mencoba menenangkan suasana, meski dalam dadanya juga mulai muncul rasa tak enak.

"Kalau telat, biasanya dia kabarin. Chat aja nggak dibaca dari semalam." Sadara menggigit ujung pulpen. "Kayak... hilang gitu."

Kalea membuka ponselnya. Grup yang berisikan tiga orang itu memang sunyi, hanya ada notifikasi terakhir dari Sadara yang tak ada respon. Biasanya, Aurina akan membalas dengan stiker sarkas atau emoji. Tapi kali ini — tidak ada apa-apa.

Ia mengetik pesan cepat:

Rin, lo sakit?

Pesan terkirim. Tapi centang biru tak muncul.

Jam pelajaran pertama lewat. Guru Matematika menulis rumus di papan, tapi tidak ada yang benar-benar memperhatikan. Sadara terus menatap kursi Aurina, sementara Kalea diam menatap layar ponselnya yang masih sama — tak ada balasan.

Saat istirahat tiba, mereka duduk di kantin yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Sadara menghela napas panjang. "Udah gue telepon dua kali. Aktif, tapi gak diangkat."

Kalea menatap gelas es tehnya. "Mungkin ponselnya ditinggal. Tapi... perasaan gue gak enak, Sa."

"Kenapa?"

"Entah. Kayak... anak itu lagi gak baik-baik aja."

Sadara menatap Kalea agak aneh. "Jangan ngomong serem-serem, ah. Dua hari lagi ulang tahunnya loh. Mungkin dia lagi sibuk nyiapin sesuatu?"

Kalea hanya menggeleng, pandangannya kosong. "Aurina bukan tipe yang tiba-tiba ngilang tanpa bilang apa-apa."

Menjelang siang, Sadara akhirnya mengirim pesan pribadi ke Dikta.

Kak, maaf ganggu. Aurina gak masuk dari pagi, lo tau gak dia kenapa?

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Gue juga gak tau. Tadi pagi gue ke rumahnya, tapi... rumahnya sepi, gelap. Gak ada jawaban pas gue ketuk pintu.

Sadara langsung menunjukkan pesan itu ke Kalea. "Dikta juga gak tau! Dia bahkan udah ke rumahnya."

Kalea terdiam, wajahnya menegang. "Serius? Rumahnya gelap?"

"Iya. Katanya kayak gak ada orang sama sekali."

Kalea menatap layar ponsel sejenak sebelum akhirnya menatap ke luar jendela, hujan mulai turun gerimis. "Ini udah gak beres, Sa."

Sementara itu, di tempat lain — di parkiran belakang sekolah — Zidan berdiri bersandar di motornya, menatap layar ponsel dengan dahi berkerut. Rylan baru saja mengirim kabar:

Aurina gak masuk hari ini. Sadara katanya udah hubungin Dikta, rumahnya sepi.

Zidan menatap pesan itu lama, bibirnya terkatup rapat. Rasa khawatir yang sempat ia tekan mulai menyeruak pelan-pelan. "Gak mungkin dia ngilang tanpa kabar," gumamnya pelan. Ia mencoba menelpon — satu kali, dua kali — tapi hasilnya sama. Tidak diangkat.

"Rin, lo di mana sih?" katanya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan yang mulai deras.

***

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang