Ruang yang Belum Kosong

217 50 9
                                        

Bel istirahat berbunyi nyaring, menandai berakhirnya pelajaran yang melelahkan. Suara kursi berderit dan langkah-langkah kaki memenuhi ruangan. Sementara murid lain berebut keluar kelas, Zidan justru terlihat sibuk mengumpulkan lembar tugas teman-temannya. Kertas-kertas itu sudah setebal map, dan tangannya mulai terasa pegal.

"Zidan, tolong bawa ini ke ruangan saya sekalian kita bahas schedule OSIS bulan ini, ya," ucap Ibu Satrih sambil menepuk pundaknya pelan.

Zidan mendesah kasar, wajahnya jelas menunjukkan keengganan. "Saya udah lapar, Bu. Habis istirahat nanti saya ke ruangan Ibu, ya."

"Boleh," jawab Ibu Satrih, melangkah pergi. "Asal kamu nggak keluyuran."

Zidan hanya menatap punggung gurunya yang semakin menjauh, lalu berdecak pelan. Sejak menjabat ketua OSIS, hidupnya terasa seperti diawasi dari segala arah. Tidak bisa bolos, tidak bisa makan santai, bahkan napasnya pun seperti ikut dijadwalkan.

Setelah guru dan ketua kelas pergi, suasana kelas langsung berubah ramai. Aurina berdiri sambil merapikan tasnya. "Ke kantin, yuk!" ajaknya pada Kalea dan Sadara yang masih duduk.

Namun Dara langsung menggeleng sambil menatap tugas kosong di mejanya. "Lo tunggu kita di kantin aja, ya. Ini bentar banget, kok."

Aurina menatap mereka berdua yang terlihat panik. Ia merasa sedikit bersalah, andai saja tadi malam ia sempat mengingatkan Kalea dan Sadara untuk menyelesaikan tugas, mereka nggak bakal kena begini.

"Duh... yaudah deh, gue tunggu di sana, ya."

Kalea dan Dara hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari buku. Aurina pun keluar kelas seorang diri. Udara siang menyambutnya, hangat dan sedikit lembap. Ia melewati koridor panjang, menuruni tangga, dan matanya sempat melirik ke arah lapangan yang tampak kosong. Biasanya Dikta duduk di tribun, tapi hari ini entah kenapa tidak terlihat.

Aurina menunduk sambil melamun, sampai langkahnya terhenti mendadak — hampir menabrak seseorang yang tiba-tiba berdiri di depannya.

"Minggir," ucapnya kesal.

Namun orang itu tidak bergerak. Zidan. Dengan map kertas di tangan, ia berdiri santai sambil menatap Aurina.

Zidan melangkah lebih dekat dengan Aurina. "Gue nggak punya pacar, jadi lo nggak usah menghindar." ucapnya.

Aurina mengangkat alis, tidak terima. "Siapa juga yang menghindar? Percaya diri banget, sih."

"Lo sendiri yang nyari tahu soal gue sama Kanaya, kan?"

"Dih! Kepedean banget. Gue dikasih tau, bukan nyari tau!"

Zidan menyipitkan mata, mendekat satu langkah hingga jarak mereka hanya sejengkal. Tatapan matanya dalam, seolah ingin membaca sesuatu di balik mata cokelat Aurina. Dan anehnya, gadis itu malah mematung. Wajahnya memanas.

Tatapan itu... bikin Aurina bingung harus ke mana mengalihkan pandangannya.

Dari jauh, seseorang memperhatikan mereka dari pintu perpustakaan yang terbuka setengah. Dikta. Ia mengepalkan tangan pelan, dada kirinya terasa sesak melihat kedekatan yang entah kenapa tampak natural di antara keduanya. Ia tahu Aurina bukan tipe yang mudah didekati, tapi justru karena itu, ia makin khawatir Aurina terlibat terlalu dalam.

Aurina akhirnya mendorong dada Zidan pelan. "Lo tuh nyebelin," katanya ketus, lalu bergegas pergi ke arah kantin tanpa menoleh lagi.

Zidan hanya tersenyum miring, memperhatikan punggung gadis itu yang menjauh.

***

Kantin siang itu ramai seperti biasa. Bau gorengan dan mie instan menyeruak ke udara. Aurina berhasil mendapatkan satu meja kosong dan langsung duduk sambil menatap sekeliling- walau bukan meja pojok seperti biasa. Kalea dan Dara belum juga datang.

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang