Awal yang Tak Disadari

626 63 38
                                        

Jam baru menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Udara pagi masih lembap, dan jalanan sudah mulai padat oleh siswa berseragam. Klakson bersahut-sahutan, menandai kembalinya rutinitas setelah libur panjang.

Sebuah motor ninja merah legam melaju memasuki halaman SMA Angkasa — sekolah unggulan di tengah kota dengan bangunan modern berwarna abu gelap, dinding kaca bening, dan deretan tanaman gantung di sisi gerbang yang tampak rapi.

Beberapa anggota OSIS yang berjaga di depan gerbang menegakkan badan begitu motor itu lewat. "Selamat pagi, Kak Dikta!" seru mereka bersamaan.

Pengendara motor itu mengangguk singkat, helm hitamnya memantulkan cahaya pagi. Mesin berhenti di area parkir. Dari jok belakang, seorang gadis turun, melepas helm dengan gerakan ringan. Rambut sebahunya yang kecokelatan tertiup angin, memunculkan aroma wangi lembut yang seketika terbawa udara pagi.

"Orderan sesuai titik tujuan, Mbak Aurina," ujar Dikta santai, menoleh dengan senyum tipis.

Aurina langsung memukul bahunya pelan. "Bintang satu, deh. Kak Dikta ngebut banget kayak dikejar monyet, hampir setengah jalan aku makan angin tadi."

Dikta terkekeh, mengambil helm dari tangannya. "Eh, kamu sadar nggak, banyak yang ngelihatin kita dari tadi?"

Aurina memutar bola mata. "Iya, karena kamu kebanyakan gaya. Kalau Kak Dikta gak mau disorot, jangan datang ke sekolah pakai motor merah menyala itu lagi, kayak transformer."

"Wah, berarti keren dong?" balasnya dengan nada menggoda.

"Enggak," sahut Aurina cepat, lalu menahan tawa.

Mereka berjalan berdampingan menuju koridor. Udara pagi masih terasa segar, aroma kamboja dari taman kecil di sisi lapangan terbawa angin. 

Di tengah langkah, Aurina tiba-tiba menahan Dikta dengan menarik ujung seragamnya.
"Kak, hari ini... ada yang beda dari aku gak?" tanyanya dengan senyum kecil yang agak malu-malu.

Dikta menautkan alis, memperhatikannya dari atas ke bawah. "Rambutmu... lebih pendek, ya? Jadi kayak life after break up."

Aurina mendengus. "Ih, bukan rambutnya! Seragamnya ini habis aku permak, bagus gak?" 

Dikta menatapnya sebentar, lalu tersenyum lembut. "Kamu gak kelihatan aneh, kok. Cantik malah. Tapi seragamnya terlalu ketat buat gadis kecil yang harus aku lindungi tiap hari."

Aurina tertawa kecil, pipinya merona. "Kak Dikta protektif banget sih, kayak bodyguard aja."

"Bukan bodyguard," jawab Dikta, nada suaranya menurun lembut. "Lebih ke orang yang paling cerewet kalau kamu kenapa-kenapa."

Dikta melirik jam tangan. "Ayo, masih lima belas menit sebelum bel. Kamu gak mau terlambat lagi, kan?" Ia menggandeng tangan Aurina tanpa pikir panjang, menuntunnya melewati koridor yang mulai ramai. 

Di mata banyak orang, Pradikta Aksara adalah mantan ketua OSIS paling disiplin di sekolah. Tapi bagi Aurina, ia adalah sosok paling menyebalkan sekaligus paling bisa diandalkan. Mereka sudah berteman sejak kecil, sejak hari ketika sepeda dan bola saling bertabrakan delapan tahun lalu — dan sejak itu, Dikta selalu punya cara aneh untuk muncul di setiap momen penting hidupnya.

Flashback — Delapan Tahun Lalu

Sore itu langit berwarna oranye senja. Di kompleks perumahan baru yang masih sepi, suara tawa anak-anak memantul di antara rumah-rumah belum jadi.

Aurina, delapan tahun, baru dua hari pindah di perumahan tersebut. Ia bersepeda kecil menuju taman di ujung blok, rambutnya berkibar, wajahnya berseri. Tapi tiba-tiba, sebuah bola biru menggelinding cepat dari tikungan, diikuti seorang anak laki-laki yang berlari tergesa.

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang