Lalu, Siapa?

125 27 0
                                        

Hari ketiga sejak kecelakaan itu, udara rumah sakit terasa menahan sunyi. Matahari pagi menerobos lewat jendela besar, menyentuh lantai putih dengan cahaya keemasan yang lembut. Aroma antiseptik masih terasa kuat, tapi kini bercampur dengan harum bunga segar yang entah dari siapa—mungkin Kalea, atau Sadara, yang datang semalam.

Aurina duduk di kursi yang sama sejak malam kejadian itu. Rambutnya kusut, matanya sembab, tapi jemarinya tak lepas dari tangan Dikta yang terbaring dengan wajah pucat dan perban putih di sisi kepala. Setiap bunyi bip dari monitor jantung jadi pengingat bahwa tubuh itu masih berjuang.

Dan pagi ini, setelah tiga hari menunggu, kelopak mata itu akhirnya bergerak pelan.

"Dikta..." suara Aurina nyaris tak keluar.

Bulu mata itu bergetar. Cahaya dari jendela membuatnya menyipit, lalu perlahan, bola mata itu tampak—keruh, bingung, tapi hidup. Pandangannya menelusuri langit-langit, dinding, lalu berhenti pada wajah Aurina.

"Na..." Hanya satu suku kata, serak, nyaris seperti bisikan. Tapi bagi Aurina, rasanya seperti teriakan paling nyaring di dunia.

Air matanya langsung jatuh. Ia menggenggam tangan Dikta erat-erat. "Ya Tuhan... lo sadar juga..."

Dikta berusaha tersenyum, tapi bibirnya nyaris tak bergerak.
"Lo..." napasnya tersendat. "...oke?"

Aurina menggeleng cepat, suaranya gemetar. "Lo duluan aja yang jawab gitu. Gue... gue takut banget, Ta. Tiga hari, tiga hari lo nggak sadarkan diri.. dan, itu semua karena gue.""

Sementara Dikta menatapnya lama, matanya lemah tapi lembut. Ia tidak bicara banyak. Hanya menggerakkan jari, seolah meminta Aurina untuk diam dan tenang.

"Jangan... nangis," bisiknya pelan. "Lo jelek kalo nangis."

Aurina tertawa kecil, tapi suaranya pecah. "Masih bisa ngeledek aja..."

Dikta mencoba tertawa, tapi yang keluar hanya helaan pendek, lalu batuk kecil. Aurina langsung panik, menepuk dadanya pelan, memastikan alat bantu napasnya tidak lepas.

"Pelan-pelan, jangan maksa ngomong," katanya cepat.

Dikta hanya mengangguk lemah, menutup mata sejenak, lalu berbisik lirih, "Lo aman, kan?"

"Gue aman," jawab Aurina. "Karena lo."

Keheningan turun di antara mereka. Hanya suara detak mesin dan cahaya pagi yang menelusup di ruang itu. Aurina mengusap pipinya, menatap wajah Dikta yang sebagian tertutup perban. Di bawah selimut putih itu, tubuhnya dipenuhi luka—retak di rusuk, luka dalam di kepala, dan kaki kiri yang patah parah. Tapi ia masih hidup.

***

Setelah sempat membuka mata selama beberapa menit, berbicara dengan suara serak yang nyaris seperti bisikan, tubuhnya kini kembali lemah. Napasnya pelan, teratur, sementara detak monitor jantung berdenting lembut seperti pengantar tidur.

Aurina masih duduk di kursi itu—kursi yang kini terasa menjadi bagian dari dirinya sendiri.
Ia mengusap pipinya yang lembab, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri, berjalan ke arah meja kecil di pojok ruangan. Di sana, ponsel Dikta tergeletak diam, layarnya retak sedikit di sisi. Ia mengambil ponselnya sendiri dan menggulir kontak dengan tangan bergetar.

"Bu... Dikta udah sadar," suaranya nyaris bergetar saat bicara lewat telepon. "Iya, barusan banget. Dokternya bilang kondisinya stabil, tapi... masih harus banyak istirahat."

Ada suara tangis kecil di seberang sana, disusul suara ayah Dikta yang terdengar berusaha tenang tapi parau. "Terima kasih, Nak. Kami langsung ke sana sekarang juga." Aurina menutup panggilan itu perlahan, menatap layar ponselnya seolah butuh waktu untuk menenangkan diri.

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang