Unknown

174 34 6
                                        

Suara notifikasi membuat Aurina yang sedang rebahan di kasur menoleh malas. Ponselnya tergeletak di nakas samping tempat tidur, layarnya menyala dengan nama pengirim yang asing.

Ia menyipitkan mata.

Nomor tidak dikenal.
Isi pesan: "Udah lebih baik, Aurina?"

Alisnya terangkat. "Lah, kocak. Perasaan gue gak ngasih nomor gue ke siapa-siapa, deh?" gumamnya.

Aurina menatap layar lebih lama — chat-nya masih berada di room Zidan. Ia berniat menghapus percakapan mereka, entah kenapa bawaan dirinya kepada Zidan itu selalu membuatnya kesal. Walau begitu, Aurina gak bisa bohong. Zidan cukup baik karena menemaninya di UKS bersama Dikta. Ia gak pergi sampai ia terbangun. Dan entah kenapa — memori itu bikin jantungnya berdetak lebih cepat.

Dari balik pintu kamar, terlihat Sadam— kakaknya baru saja lewat, ia sempat melirik sekilas Aurina di dalam sana. "Tumben banget ni anak ketawa sendirian." Namun, baru saja ingin lanjut melangkah, terdengar teriakan histeris dari dalam kamar Aurina.

"AAAA!!!"

Sadam refleks menoleh. "WOI! Kenapa lo!?" Ia mengetuk pintu dengan keras.

Pintu kamar terbuka pelan. Aurina muncul dengan pipi merah padam. "Lihat apa lo? Hantu?" tanya Sadam curiga.

"Enggak! Lagian lo ngetuk kamar gue ngapain, sih?"

Sadam menyipitkan mata, mengusap dagunya pura-pura berpikir. "Aneh lo teriak-teriak. Cowok mana yang bikin lo salting?"

"Dih! Sok tau."

"Pipi lo gak bisa bohong."

Aurina spontan menangkup pipinya, makin membuat Sadam tertawa. "Hadeh, habis sakit malah kena sindrom cinta monyet."

"Ngaco, ah!" seru Aurina.

"Oh iya, Dikta ada di bawah, tuh. Di ruang tamu." kata Sadam sambil melangkah.

Aurina langsung tertegun. "Ngapain? Kok gak bilang dari tadi?"

"Sengaja."

"Biar apa?"

"Biar dia males ke sini lagi. Gue capek jadi nyamuk lo berdua."

Aurina menatap kakaknya dengan mata menyipit sebelum akhirnya berlari menuruni tangga. Disana terlihat sosok Dikta duduk di ruang tamu, berbincang sopan dengan ibu Aurina. Begitu melihat Aurina yang tergesa, Dikta mengangkat tangan, memberi isyarat.

"Pelan-pelan, gue gak lari, kok."

Ibunya ikut menegur lembut, "Aurina, kamu masih lemas, jangan terburu-buru."

Aurina tersenyum kecut. "Hehe, iya, Bu."

"Kenapa gak ngabarin kalo mau mampir?" tanya Aurina setelah duduk.

"Biasanya emang butuh izin?" balas Dikta santai, menatap ponselnya sekilas.

Aurina berpikir sejenak. "Nggak, sih," jawabnya jujur.

Pandangan matanya lalu terpaku pada sesuatu di samping sofa, terlihat sebuah buket bunga berwarna soft pink.

"Itu buat siapa?" tanyanya penasaran.

"Buat lo." jawab Dikta datar. "Lain kali utamain kesehatan sendiri. Masa cuma gara-gara tampil jadi lo lupa makan."

Aurina menggaruk tengkuknya. "Hehe, refleks aja, sih."

Dikta menghela napas pendek, lalu kembali sibuk dengan ponselnya — seolah mengetik sesuatu yang serius. Tapi dari ekor matanya, ia memperhatikan gerak Aurina yang sedang menatap buket itu diam-diam.

AURINA [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang