Jarak dan Batasan

244 51 16
                                        

Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas. Setelah beberapa hari berlalu, Aurina mulai terbiasa menjadi murid yang tiba paling awal di sekolah. Sebenarnya, semua itu berkat Dikta yang menawarkan diri pada Netta—ibunya Aurina—untuk diizinkan berangkat dan pulang bareng karena jarak rumah mereka yang hanya beda beberapa petak.

Tidak seperti biasanya, hari ini, Dikta tidak mengantar Aurina ke depan kelasnya— karena dia di minta untuk segera ke ruang OSIS untuk membantu para junior menyiapkan acara Dies Natalis.
Aurina berjalan menyusuri koridor, sedangkan Dikta menaiki tangga ke lantai dua, tempat kelasnya berada.

Aurina berjalan sendiri menyusuri koridor, sedangkan Dikta menaiki tangga karena kelasnya yang berada di lantai tiga. Seperti biasa, suasana pagi masih sepi, hanya beberapa murid dari kelas lain yang baru datang.

"Oi! Aurina!"

Seseorang berteriak dari belakang. Aurina menoleh, dan mendapati Zidan berlari kecil menyusulnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

Ya Tuhan, apalagi ini? batinnya.

Zidan berhenti tepat di depan pintu kelas. Napasnya sedikit tersengal. "Lo kenapa?"

"Gue sehat," jawab Aurina datar.

Zidan mengangkat sebelah alis, senyum miringnya muncul. "Sehat, tapi muka lo kayak orang belum sarapan pagi tuh."

Aurina melirik malas. "Lo emang hobi banget nyari gara-gara pagi-pagi, ya?"

"Bukan nyari gara-gara, cuma penasaran aja," ucap Zidan santai sambil menyandarkan tubuhnya di pintu kelas. "Biasanya lo bareng senior itu, sekarang sendirian banget. Jangan-jangan... kalian lagi musuhan karena rumor gue?"

Aurina menatapnya, keningnya sedikit berkerut. "Rumor lo?"

Zidan terkekeh pelan, nada suaranya setengah menggoda. "Iya, katanya gue deket sama Kanaya, mantan sahabat lo si Dikta itu kan. Lo percaya juga?"

Aurina menghela napas pelan. "Gue gak peduli, Zidan. Hidup lo mau kayak gimana, urusan lo."

Zidan menatapnya lekat, seolah berusaha membaca sesuatu dari ekspresi datarnya. "Tapi lo beda. Biasanya cewek lain langsung nyodorin opini atau ikut nimbrung gosip. Lo malah... tenang banget."

Aurina memutar bola matanya. "Mungkin karena gue punya hidup sendiri."

Zidan tersenyum tipis, ada nada kagum di balik candanya. "Kayaknya itu yang bikin lo menarik. Lo gak berisik kayak yang lain."

Aurina menunduk sebentar, menahan debar kecil yang bahkan gak dia ngerti asalnya. "Kalau udah selesai omong kosongnya, bisa minggir? Gue mau masuk."

Zidan melangkah mundur, tapi sebelum Aurina benar-benar melewatinya, dia sempat berbisik ringan, "Nanti kalau lo laper beneran, kabarin gue. Siapa tahu gue bisa traktir."

Aurina mendengus kecil, berusaha menutupi senyum yang nyaris muncul. "Mimpi dulu aja."

Zidan terkekeh pelan, menatap punggung Aurina yang menjauh. Entah kenapa, gadis itu mulai terasa... beda

Aurina menghela napas berat. Duh. Kenapa gue malah nyolot gitu sih...

Pagi yang tadinya cerah berubah canggung baginya. Di kelas, Aurina duduk tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Zidan melempar gulungan kertas kecil, memanggil namanya pelan, tapi tak satu pun yang mendapat respon. Dua orang di belakangnya pun bingung, angin apa yang merasuki Zidan hingga terus mengusik Aurina- sebelumnya mereka tidak pernah akrab.

Sampai akhirnya, bel istirahat pun berbunyi. "Rin..." panggil Kalea pelan. "Lo ke kantin, gak?"

"Kalian duluan aja, ngantuk banget, nih."

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang