Matahari terlihat muncul setengah, cahayanya menembus tirai kamar Aurina yang belum sepenuhnya terbuka. Udara masih terasa dingin, aroma embun bercampur samar dengan wangi dari seragam yang baru disetrika. Di meja rias, tergeletak pita rambut berwarna merah dan parfum kecil yang sudah siap.
Terdengar beberapa kali ketukan lembut dari luar pintu rumah, ketukan yang bahkan tanpa melihat pun, ia sudah tahu siapa pemiliknya.
"Na, pagi. Hari ini aku bawain bubur ayam buatan Bunda, masih hangat," suara Dikta terdengar dari balik pintu.
Aurina tersenyum kecil. Ia baru saja selesai menguncir rambut dan merapikan dasi seragamnya. Dengan langkah yang riang, ia membuka pintu, menatap sosok yang berdiri di depan rumahnya.
Dikta berdiri disana dengan hoodie berwarna putih, tangan kirinya membawa plastik yang berembun oleh uap panas, sementara rambutnya masih berantakan seperti biasa. "Kalau gak sempat sarapan disini, kamu bawa aja ke sekolah," ujarnya tersenyum tipis.
Aurina terkekeh pelan. "Terima kasih, Kak Dikta. Tumben sudah pagi begini belum siap ke kampus? Sengaja pengen mampir ngobrol bareng gue, yah?"
Dikta mengangkat bahu, tak membantah. "Mungkin," katanya ringan, lalu duduk di anak tangga teras tanpa menunggu izin. "Biasanya gue nganter makanan cuma sampai depan kayak abang kurir langganan."
Aurina menggeleng sambil tertawa kecil, kemudian duduk di sebelahnya. Uap hangat dari bubur itu naik perlahan, menebarkan aroma gurih yang mengundang. "Bubur ayam buatan Bunda tuh enak banget. Tapi, kalau Kak Dikta sampai terlambat karena nganterin ini, aku jadi merasa bersalah."
"Pagi ini dosen gue gak masuk, nanti siang baru ada kelas. Lagian, Bunda tuh gak bisa diem kalau sarapan belum sampai ke rumah lo," kata Dikta sambil tersenyum, matanya menatap lurus ke halaman depan.
Sinar matahari menembus celah pepohonan, menimpa sebagian wajah mereka. Aurina makan perlahan sambil sesekali menatap Dikta, sementara Dikta hanya duduk tenang, memainkan ponsel di tangannya.
"Kak Dikta nggak bosen tiap pagi ke sini?" tanya Aurina tiba-tiba.
"Bosen? Enggak sih," jawabnya sambil melirik sekilas, "Memangnya lo nggak kangen sama pria tampan ini?"
Aurina tertawa kecil. "Dih, pedenya masih sama aja."
Dikta ikut tertawa ringan, suasana pagi itu cukup untuk membuat ruang kosong di antara mereka terisi kembali. Namun, kehangatan kecil itu sedikit terusik ketika suara motor berhenti di depan pagar. Zidan turun dari motor, melepas helmnya perlahan, memperlihatkan raut wajah yang awalnya santai—sebelum matanya menangkap pemandangan di teras.
Ada sesuatu di dada Zidan yang tiba-tiba sesak. Bukan amarah, hanya semacam rasa tak nyaman yang baru pertama kali ia rasakan melihat pemandangan itu lagi, padahal sebelumnya pun ia sudah pernah terbiasa. Ia menarik napas panjang, mencoba meredamnya. Jangan bodoh, katanya dalam hati. Mereka cuma teman sejak kecil.
"Pagi," sapa Zidan akhirnya, suaranya terdengar tenang tapi sedikit berat.
Aurina langsung berdiri, menutup wadah bubur di pangkuannya. "Eh, Zidan! Kamu udah dateng. Bentar ya, aku ambil tas dulu."
Dikta ikut berdiri, tangannya menyodorkan tisu. "Pelan-pelan makannya, Na. Nanti keselek lagi."
Aurina mendelik kecil, "Iya, Kak Dikta. Aku bukan anak kecil lagi."
"Gak usah buru-buru, belum telat kok," balas Dikta santai.
Zidan hanya mengangguk sekilas, berusaha tampak biasa walau sedikit cemburu. Tatapannya sempat tertahan di wajah Dikta yang tetap tenang, dan pada cara Aurina tersenyum padanya—senyum yang terasa hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Teen Fiction[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)