Dikta berdiri di dekat taman kecil yang dihiasi lampu kelap-kelip, memegang segelas minuman yang sejak tadi tak disentuh. Pandangannya mengarah ke arah panggung yang kini mulai sepi setelah penampilan terakhir. Tak lama, Kalea datang menghampirinya dengan senyum yang khas—ceria namun menahan sesuatu.
"Kak Dikta nggak istirahat dulu? Dari tadi berdiri aja di sini," ujar Kalea sambil memainkan ujung rambutnya.
Dikta menoleh, tersenyum ringan. "Heh, nggak apa-apa. Cuma... pengen ngeliat semuanya dari jauh. Lucu aja, ya. Dulu mereka ribut soal tugas, sekarang udah pada lulus."
Kalea tertawa kecil. "Iya sih. Tapi tetep aja, rasanya kayak nggak siap ninggalin semuanya. Apalagi Kak Dikta... nanti pas kuliah pasti sibuk banget."
"Doain aja, semoga sibuknya karena hal baik," jawab Dikta pelan.
Kalea menatapnya sebentar, lalu pura-pura menatap langit malam yang dipenuhi bintang. "Kak... nanti kalau udah jadi pengacara, jangan lupa datang ke sekolah ini lagi, ya. Anak OSIS generasi selanjutnya butuh motivasi."
Dikta terkekeh pelan. "Wah, kayaknya kamu cocok banget jadi ketua OSIS berikutnya."
Kalea tersipu, menunduk sedikit. "Ah, Kak bisa aja." Tapi dalam senyumnya, ada semburat kekaguman yang sulit disembunyikan—perasaan yang mungkin hanya bisa ia simpan sendiri malam itu.
Sementara itu, di sisi lain taman, suasana jauh lebih riuh. Aurina dan Zidan sedang bercanda, saling melempar tawa dan ejekan kecil seperti dua anak kecil yang baru saja berdamai setelah perang dingin panjang.
"Eh, Zidan! Lo curang, lo nyemilin duluan!" seru Aurina sambil berlari kecil, mencoba merebut chese cake yang dipegang Zidan.
Zidan tertawa lepas, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Salah sendiri, lo lambat! Ini strategi bertahan hidup di bazar, Nona Aurina!"
"Lo tuh nyebelin banget, sumpah!" Aurina mendengus, lalu berlari mengejar. Tapi Zidan lebih cepat, berkelit ke arah taman yang diterangi lampu kelap-kelip, membuat suasana seolah adegan film remaja yang hidup di antara tawa dan desiran malam.
Rylan dan Mahesa yang duduk di bangku taman ikut bersorak, menyoraki mereka sambil tertawa. "Woi, Zi! Hati-hati, nanti dikejar beneran tuh cewek marah!" seru Mahesa sambil ngakak.
Sadara menepuk paha sambil tertawa keras. "Gue sumpah ya, kalau mereka nggak jadian juga, gue yang pusing. Aurina tuh udah cocok banget sama Zidan. Liat aja tuh, auranya kayak sinetron!"
Rylan menambahkan dengan nada menggoda, "Iya, tinggal dikasih backsound lagu mellow aja, langsung trending."
Kalea yang masih bersama Dikta sempat menoleh, ikut tersenyum melihat pemandangan itu. "Mereka lucu banget ya, Kak. Kayak nggak ada beban."
Dikta menatap ke arah Aurina dan Zidan. Senyum tipis muncul di wajahnya—senyum yang menyimpan campuran lega dan getir. "Iya... kayaknya mereka cocok."
Aurina akhirnya berhasil merebut kue dari tangan Zidan, namun justru kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Refleks, Zidan menangkap tangannya. Keduanya terhenti dalam jarak yang begitu dekat. Aurina menatapnya—hanya beberapa detik, tapi waktu seolah melambat. "Lo tuh bener-bener bikin jantung kerja lembur, tau nggak," gumam Aurina setengah kesal.
Zidan terkekeh pelan, menatapnya tanpa niat menjauh. "Berarti gue berhasil."
Aurina melepaskan tangannya cepat-cepat, pipinya memanas. "Gue males ngomong sama lo."
Zidan hanya tersenyum kecil, membiarkan keheningan di antara mereka diisi oleh suara tawa teman-teman di sekitar. Dalam hati, ia tahu — malam ini berbeda. Tidak lagi tentang perpisahan atau nostalgia, tapi tentang sesuatu yang baru tumbuh tanpa mereka sadari.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Fiksi Remaja[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)