Lampu-lampu gantung menyala lembut dari dalam aula sekolah, temaram keemasan memantul di dekor bunga yang dirangkai rapi di setiap sudut. Musik pelan mengisi ruangan, para siswa kelas XII berdatangan satu per satu memasuki gerbang, memakai gaun terbaik, dress yang elegan, dan jas yang membuat mereka tampak lebih dewasa dibanding pemandangan setiap pagi di kelas.
Zidan berdiri di dekat bar kecil yang disediakan panitia, bersama Rylan dan Mahesa. Tapi sejak tadi, ia tidak benar-benar fokus pada obrolan dua sahabatnya itu. Matanya justru sibuk menyapu seluruh ruangan, mencari satu orang.
Aurina. Dari kemarin, gadis itu tidak membalas pesannya.
Rylan sempat mengikuti kemana arah pandangan Zidan, lalu mengangkat sebelah alis. "Lo nyari siapa, sih? Dari tadi sibuk banget tuh mata."
Zidan hanya menggeleng pelan. "Enggak. Gue cuma liat-liat."
Mahesa bersandar ke meja dengan ekspresi setengah bercanda. "Biasa. Pasti nyari ceweknya. Lagian, kenapa lo gak jemput aja?"
"Gue bareng Kakek ke sini. Lo tau sendiri ka, dia selalu ngejagain gue ketat banget," jawab Zidan. Ia menghembuskan napas pelan lalu meneguk minumannya. Rasanya hambar—entah karena esnya yang sudah mencair, atau karena dadanya sejak tadi penuh oleh rasa bersalah..
Sejak kemarin, sesuatu di antara dirinya dengan Aurina mulai retak. Setelah perdebatan itu, Aurina tidak lagi membalas pesannya. Tidak ada satu pun tanda bahwa gadis itu ingin mendengar maafnya, dan Zidan memilih untuk tidak memaksa kehendaknya lagi. Mungkin Aurina butuh jeda, mungkin sedang menenangkan diri, atau mungkin dia benar-benar marah, pikirnya.
Tetapi tetap saja, menunggu itu menyiksa.
Zidan merogoh saku celananya dan membuka ponsel lagi—untuk kesekian kalinya.
Layar menyala, namun tetap sama. Tidak ada chat masuk, tidak ada balasan. Zidan menghela napasnya berat.
Saat itu, Sadara datang menghampiri Zidan. Ia memakai dress biru muda yang membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dari biasanya, tingginya mencolok di antara kerumunan. Sadara menghampiri mereka dengan langkah cepat, wajahnya terlihat cemas.
"Lo lihat Aurina?" pertanyaannya langsung menusuk ke dada Zidan.
"Enggak."
Sadara mengerutkan dahi. "Kok enggak? Dia hari ini gak balas chat gue, di telepon juga enggak diangkat." Nada suaranya berubah—jelas ada gelisah yang tidak bisa dia sembunyikan.
Rylan dan Mahesa seketika saling memandang, ikut merasa tidak enak dengan suasana itu.
Zidan menegang. "Gue dari kemarin juga nggak dapet kabar, dia nggak bales chat gue sama sekali."
Sadara langsung menatapnya tajam. "Kalian kemarin pulang bareng, kan?"
Pertanyaan itu kembali menusuk Zidan lebih tajam dari yang ia perkirakan. Ia menggeleng pelan. "Enggak. Gue pulang duluan."
"Sendiri? Lo ninggalin dia sendiri?" suara Sadara langsung meninggi.
Zidan cepat-cepat menggeleng. "Bukan gitu. Gue pikir dia pulang sama lo, soalnya kemarin gue ada problem sedikit sama dia. Pulangnya, gue harus jemput kakek di bandara terus anter beliau meeting. Ya, gue kiranya lo bareng dia."
Sadara mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Gue juga gak tahu, Zidan! Dia gak bilang apa-apa sama gue! Dan lo ninggalin dia gitu aja?"
Zidan merasa dadanya menegang. Ia ingin membela dirinya, tapi apa yang mau dibela? Kemarin ia pulang dengan pikiran yang kacau setelah pertengkaran mereka di rooftop, ia memang benar-benar mengira Aurina pulang dengan Sadara.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Teen Fiction[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)